Duduk bersandar di kursi usai solat Isya. Tubuh ini terasa seperti kain lap yang diperas hingga kering. Lelah? Tentu saja. Tapi ada semacam kepulan hangat yang mengendap di dada, bekas dari hari yang baru saja berlalu.
Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul 06.09. Udara masih menggigit dingin ketika aku menggendong putri kecilku keluar rumah. Tujuannya jelas: Rumah Sakit Hermina Pasteur untuk transfusi darah rutinnya. Dia ringan saja di punggung, tapi beban di hati jauh lebih berat.
Sampai di halaman rumah sakit, baru kusadari isteriku belum tiba. Dari belakang, tak lama kemudian, dia menyusul dengan Grab. Maafkan Ayah, Nak, motor tua kita tak sanggup lagi mengangkut bertiga menempuh jarak Cimahi-Pasteur yang terasa semakin jauh.
Senja mulai merayap ketika jam menunjukkan 17.40. Aku meluncur lagi ke arah Pasteur. Jam segini? Jangan tanya. Jalan Gunungbatu menjelma jadi lautan logam bergerak merayap, padat mencekik hingga lampu merah Pasteur yang terkenal kejam. Setiap senti maju terasa seperti perjuangan. Akhirnya, setelah waktu yang terasa abadi, kami sampai di depan halaman Hermina. Segera kuhubungi isteriku lewat telepon, “Sudah di depan, Sayang.” Tak lama, Grab yang dipesannya pun tiba, membawanya pulang terlebih dahulu.
Lalu, tinggal aku dan putriku, berjuang lagi melawan arus balik yang sama ganasnya. Macet luar biasa ini memang sudah menjadi pemandangan langganan setiap hari jelang maghrib, tapi tak pernah membuatnya lebih mudah diterima. Pundak terasa kaku, pergelangan tangan mulai berdenyut nyeri, tangan pegal mencengkeram setang. Motor ini seperti kereta kuda tua yang dipaksa berlari. Perhentian wajib lagi di Gunungbatu, ujian kesabaran yang kedua kalinya hari itu. Nafas kota terasa sesak oleh asap dan klakson.
Di Jalan Abdul Halim, sebuah ide penyelamat muncul: nasi goreng. Kubeli dua bungkus besar, harumnya yang menggoda menawarkan sedikit penghiburan di tengah kelelahan. Sampai di rumah, azan maghrib sudah berkumandang. Kami langsung menunaikan solat, mensyukuri perjalanan yang akhirnya berujung selamat. Dan kemudian… meja makan menjadi panggung kecil kebahagiaan.
Plastik bungkusan dibuka, aroma nasi goreng hangat langsung memenuhi ruang. Semua duduk berkumpul – aku, isteri, si sulung perempuan yang lelah namun tersenyum, dan si bungsu laki-laki yang matanya berbinar. Kami makan bersama, dengan lahap yang hanya dimengerti oleh mereka yang baru melewati hari panjang.
Suara sendok berdentang, tawa kecil, dan komentar polos si bungsu, “Abis, Ayah! Lapar banget!” sambil menunjukkan bungkusnya yang sudah licin.
Sejenak, segala pegal dan penat terbayar lunas di meja itu, dalam kebersamaan yang hangat dan sederhana.
Usai makan, solat Isya kami tunaikan dengan badan yang lebih berat, namun hati entah kenapa terasa lebih ringan. Dan kini, di kursi ini, kutatap jalan depan rumah lewat jendela. Langit sudah gelap gulita, kelam tanpa bulan. Lampu-lampu jalan menyala seperti kunang-kunang yang tersesat. Dalam heningnya malam, tubuh masih merintih sisa lelah, mengingatkan pada kemacetan Gunungbatu, pada dinginnya pagi di Hermina, pada pegal di pundak. Tapi ada sesuatu yang hangat tersimpan. Bekas kecupan selamat datang anak-anak, gambar si bungsu melahap nasi goreng, dan rasa syukur karena kami semua bisa berkumpul utuh di penghujung hari yang melelahkan ini. Lelah ini, seperti sepotong keringat yang jatuh di atas nasi goreng tadi, adalah bumbu yang membuat rasa kebersamaan itu terasa lebih nikmat, lebih berarti. Malam ini, aku hanya ingin menikmati rasa itu, sambil menunggu tenaga kembali terkumpul untuk esok yang mungkin akan menguji dengan cara yang serupa atau berbeda.
