Nama Gunung Pangradinan selalu punya daya tarik setiap kali saya mendengarnya. Letaknya tak begitu jauh dari rumah, namun entah mengapa waktu seolah tak pernah memberi kesempatan untuk menjejakkan kaki di sana. Selama ini saya hanya bisa memandangi barisan foto para pendaki di media sosial—indah tapi terasa jauh.
Sampai akhirnya, keinginan itu benar-benar terwujud. Saya berdiri di sana, menikmati sendiri pemandangan yang dulu hanya hadir lewat layar ponsel. Rasanya… sungguh menyenangkan.
Gunung yang berada di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung ini menyuguhkan keindahan berlapis-lapis. Gugusan gunung yang membentang sejauh mata memandang membuat dada terasa lapang. Alam terasa begitu dekat, begitu mempesona, hingga saya hanya mampu berucap, “MasyaAllah…”

Keberangkatan yang Tidak Direncanakan
Hari itu sebenarnya saya tidak berniat pergi ke mana-mana. Sejak pagi sudah beres-beres rumah, sarapan, lalu duduk manis di depan laptop dengan niat menulis artikel. Tapi ide tak kunjung datang. Layar kosong, kepala pun ikut kosong. Writer’s block menyerang tanpa permisi.
Saya mengeluh pada suami, dan ia pun memberi ide sederhana,
“Gimana kalau kita keluar dulu, cari hal menarik buat difoto? Siapa tahu nanti ada bahan cerita.”
Ajakan yang terdengar biasa saja itu langsung membuat saya semangat, karena biasanya di hari libur saya membiarkan beliau beristirahat. Kami pun sepakat jalan-jalan sebentar, menikmati pemandangan sambil minum kopi atau makan indomie hangat di warung pinggir jalan seperti biasanya.
Di tengah perjalanan, saya memberanikan diri bilang bahwa saya ingin mencoba naik Gunung Pangradinan. Tanpa persiapan khusus, tanpa rencana matang, akhirnya kami memutuskan,
“Ya sudah, kita ke sana sekarang!”

Rute Menanjak yang Diam-diam Bikin Nostalgia
Bermodalkan Google Maps dan semangat mendadak, kami menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Pacet menggunakan motor. Jalanan menanjak menjadi tanda bahwa kami memang sedang menuju gunung.
Sesampainya di area parkir, kami disambut petugas, lalu diarahkan membeli tiket. Total biaya parkir dan tiket hanya Rp40.000, sudah termasuk dua botol air mineral.
Pendakian dimulai. Suasana perkebunan langsung terasa, dengan aroma tanah dan dedaunan basah. Kami berpapasan dengan pendaki yang sudah turun, membuat kami sadar bahwa kami datang agak siang. Tapi karena hanya berdua, rasanya lebih bebas—tak ada konsentrasi terbagi seperti saat pergi bersama anak.
Jalur yang kami lalui berupa jalan berbatu yang biasa dilalui motor para pemilik ladang. Batu-batu besar disusun seadanya, bukan aspal. Tanjakan awal masih ramah, kami bisa berjalan sambil ngobrol ringan.
Namun semakin ke atas, jalannya makin miring. Nafas mulai ngos-ngosan—efek lama tidak mendaki. Tapi justru di situ letak serunya. Seperti nostalgia masa muda saat mendaki menjadi kegiatan favorit.
Pemandangan ladang yang baru dipanen membuat suasana tidak sehijau bayangan saya. Saya sempat menyesal, “Ah, coba datang pas musim tanam ya…”
Tapi suami menenangkan, “Sudah sampai sini, dinikmati saja.”
Benar juga. Cuaca mendung dan kabut tipis menutupi sebagian bukit. Lagi-lagi saya berandai-andai, “Coba ke sini pas langit biru…”
Tapi suami menimpali sambil tertawa, “Nanti malah kepanasan di atas.”
Ia terus menyemangati agar saya tidak berhenti. Dan kami lanjut mendaki.

Kejutan Manis di Puncak
Setelah berjalan sekitar 30–40 menit, tibalah kami di puncak. Saya langsung terpaku. Meski kabut masih betah menggantung, pemandangan yang tersaji tetap menakjubkan. Hamparan sabana yang selama ini hanya saya lihat lewat foto kini terhampar nyata di depan mata. Rumput luas, bukit-bukit hijau berlapis, udara sejuk… semuanya seperti hadiah.
Kami pun mengabadikan momen itu dengan beberapa foto. Rasanya masih kurang lama, tapi puas.
Gunung yang Ramah untuk Pemula
Dengan ketinggian sekitar 1426 mdpl, Gunung Pangradinan sangat cocok untuk pendaki pemula. Jalurnya tidak panjang, tapi cukup menantang untuk pemanasan sebelum mencoba gunung yang lebih tinggi.
Beberapa hal yang membuatnya ramah pemula:
- Waktu tempuh 30–60 menit (tergantung ritme).
- Ada area camping di puncak.
- Fasilitas cukup lengkap: mushola, toilet, dan warung kecil.
- Pemandangan sabana yang cantik sebagai hadiah pendakian singkat.
- Mau one day trip pun sangat bisa: naik pagi, turun siang.

Tips Pendakian ke Pangradinan
Kalau kamu tertarik ke sana, berikut beberapa hal yang bisa dipersiapkan:
- Pakai baju quick-dry agar nyaman saat berkeringat.
- Gunakan sepatu dengan grip bagus.
- Bawa air minum dan bekal secukupnya.
- Pastikan baterai ponsel/kamera penuh untuk mengabadikan pemandangan.
- Waktu terbaik: pagi hari. Matahari belum terlalu terik dan kabut biasanya belum turun.
- Rute menuju Pangradinan bisa diakses dari Cileunyi, Cicalengka, Rancaekek, atau dari arah Garut.
Akhirnya, rasa penasaran saya terbayar tuntas. Keindahan Gunung Pangradinan tidak hanya terekam kamera, tetapi juga tersimpan sebagai kenangan hangat.
Semoga cerita ini menginspirasi kamu untuk ikut melangkahkan kaki ke sana. Siapa tahu, tanpa rencana pun, kamu bisa menemukan kejutan-kejutan kecil yang membuat hati penuh syukur. Selamat menjelajah!
*Artikel sudah tayang di Kompasiana
