Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang kerap sibuk mengejar angka, peringkat, dan capaian akademik, hadirnya Program Sekolah Mengaji di Kabupaten Bandung patut dicatat sebagai langkah berani dan bernilai. Program yang digagas oleh Bupati Bandung ini membawa pesan yang sangat mendasar: anak-anak usia sekolah tidak boleh dibiarkan buta huruf Al-Qur’an, dan pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, bukan menunggu terlambat.
Buta huruf Al-Qur’an bukan sekadar persoalan teknis membaca huruf Arab. Ia adalah gejala yang lebih dalam—menandakan terputusnya anak dari sumber nilai, adab, dan pedoman hidup. Ketika anak-anak tumbuh tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an, kita sedang mempertaruhkan masa depan karakter generasi. Karena itu, Sekolah Mengaji sejatinya bukan hanya program pendidikan, melainkan sikap keberpihakan pemerintah terhadap pembentukan manusia seutuhnya.
Langkah ini melibatkan seluruh guru mengaji Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Kabupaten Bandung adalah keputusan yang patut diapresiasi sekaligus dikritisi secara konstruktif. Apresiasi, karena ini menunjukkan pengakuan terhadap peran madrasah dan para guru ngaji yang selama ini bekerja dalam senyap. Kritik reflektifnya: jangan sampai keterlibatan mereka hanya sebatas pelengkap program formal, tanpa jaminan keberlanjutan, kesejahteraan, dan penghargaan yang layak. Guru ngaji bukan sekadar tenaga teknis, mereka adalah penjaga nilai.
Sekolah Mengaji menjadi penting karena ia menjembatani dua dunia yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: sekolah formal dan pendidikan keagamaan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah peluang besar untuk membentuk anak yang cerdas secara intelektual sekaligus kokoh secara moral. Namun, peluang ini hanya akan menjadi kenyataan jika program tidak berhenti pada slogan dan seremonial.
SDN Cimuncang adalah contoh sekolah yang menyambut program ini dengan sikap terbuka dan positif. Sekolah ini memahami bahwa tugas pendidikan tidak berhenti pada capaian kurikulum, tetapi juga pada pembentukan akhlak. Kegiatan Sekolah Mengaji di SDN Cimuncang dijalankan bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai bagian dari budaya sekolah. Anak-anak mengaji dengan suasana yang manusiawi—tanpa tekanan, tanpa ketakutan, dan penuh pembiasaan.

Namun di sinilah refleksi perlu diajukan: apakah semua sekolah siap dengan kesadaran yang sama? Apakah Sekolah Mengaji benar-benar dipahami sebagai kebutuhan, atau sekadar kewajiban administratif? Program sebaik apa pun akan kehilangan makna jika dijalankan hanya demi laporan, bukan demi perubahan.
Di era digital hari ini, anak-anak jauh lebih akrab dengan layar dibanding mushaf. Mereka hafal ikon aplikasi, tetapi gagap membaca ayat. Dalam konteks ini, Sekolah Mengaji sejatinya adalah bentuk perlawanan halus terhadap arus yang terlalu deras. Ia adalah ikhtiar untuk menanamkan akar sebelum anak-anak diterpa angin kencang zaman.
Namun perlu ditegaskan, program ini tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah dan guru ngaji. Orang tua harus terlibat, lingkungan harus mendukung, dan pemerintah harus konsisten. Tanpa itu semua, Sekolah Mengaji berisiko menjadi proyek jangka pendek dengan dampak jangka pendek pula.
Sekolah Mengaji adalah program yang sangat baik. Terlalu baik jika hanya dibiarkan menjadi agenda musiman. Terlalu berharga jika hanya berakhir sebagai dokumentasi kegiatan. Program ini harus dijaga, diperkuat, dan dikawal bersama.
Jika kita sungguh-sungguh ingin membebaskan anak-anak dari buta huruf Al-Qur’an, maka kesungguhan itu harus tampak dalam kebijakan, anggaran, pendampingan, dan evaluasi yang berkelanjutan. Jangan sampai kita rajin mencanangkan program, tetapi lalai memastikan dampaknya.
SDN Cimuncang telah memberi contoh bahwa program baik akan bermakna ketika disambut dengan niat yang lurus dan komitmen yang nyata. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Sekolah Mengaji penting, tetapi seberapa serius kita menjadikannya bagian dari masa depan pendidikan.
Karena pada akhirnya, kualitas suatu bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari nilai yang hidup dalam generasi mudanya. Dan Al-Qur’an, jika benar-benar diajarkan dan dibiasakan, bukan hanya akan dibaca oleh anak-anak kita—tetapi akan hidup dalam sikap dan perilaku mereka.

MaasyaAllah Baarakallah ustadzah tulisanna begitu bermakna, Smoga smua yg terlibat dlm program ini mndpt keberkahan segala kebaikan, aamiin🤲🥰🙏