Tiga hari sebelum Syawal tiba, pasar dan pusat perbelanjaan berubah menjadi medan perang. Di sana, Ibu Fatma sedang berjuang di barisan terdepan, menyisir rak-rak baju dengan mata setajam elang. Misinya satu: menemukan gamis dengan payet paling berkilau yang pernah ada di komplek perumahannya.
“Bu, yang ini saja. Warnanya teduh, harganya juga masuk akal,” bisik suaminya, Pak RT Jaka, sambil menunjuk sebuah baju katun sederhana.
Ibu Fatma mendelik. “Teduh? Ini Lebaran, Pak! Bukan mau pengajian rutin. Kalau bajunya biasa saja, nanti apa kata Bu Haji Ningsih? Dia pasti pakai yang model terbaru. Masak kita kalah? Malu, Pak, sama label ‘kemenangan’ kalau bajunya lungset.”
Pak Jaka hanya bisa mengeluh dalam hati. Ia bertanya-tanya, kemenangan siapa yang sebenarnya sedang dirayakan istrinya? Kemenangan melawan hawa nafsu selama sebulan, atau kemenangan atas gengsi di depan tetangga?
Bukan hanya baju, bahkan alat komunikasi dengan Tuhan pun tak luput dari perlombaan. Malam takbiran, Ibu Fatma mengeluarkan senjata pamungkasnya: sebuah mukena sutra dengan bordir emas seberat dua kilogram yang harganya setara dengan zakat fitrah untuk satu RT.
“Bu, shalat itu kan yang penting bersih dan menutup aurat. Kenapa harus semewah itu?” tanya anak gadisnya, Laras.
“Laras, ini namanya memuliakan hari raya. Masak menghadap Allah pakai mukena lusuh? Lagipula, nanti pas salat Id, orang-orang bakal lihat. Ini bukti kalau setahun ini keluarga kita berkah,” jawab Ibu Fatma sambil mengagumi pantulan dirinya di cermin.
Laras terdiam. Ia teringat esensi Idulfitri yang ia pelajari di sekolah: kembali ke fitrah, kembali suci. Namun, yang ia lihat di hadapannya adalah obsesi pada bungkus, bukan pada isi.
Pagi harinya, lapangan masjid berubah menjadi catwalk dadakan. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau aspal yang dipanasi matahari. Orang-orang bersalaman, namun mata mereka sibuk memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki lawan bicaranya.
“Wah, Bu Fatma, gamisnya bagus ya. Bahan shimmer ya? Pasti mahal!” puji Bu Haji Ningsih, yang sendiri memakai mukena yang jauh lebih heboh.
“Ah, biasa saja Bu Haji. Hanya untuk menyenangkan hati di hari kemenangan,” jawab Fatma dengan nada rendah yang dipaksakan sopan, padahal hatinya bersorak puas.
Namun, di sudut lapangan, Laras melihat sesuatu yang membuatnya merenung. Seorang nenek tua, Mbok Sum, duduk bersimpuh di atas koran bekas. Mukenanya sudah kekuningan dimakan usia, banyak tambalan di bagian bawahnya. Tapi, wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa. Ia menangis saat takbir berkumandang, bibirnya tak henti mengucap syukur dengan tulus.
Mbok Sum tidak punya baju baru. Ia bahkan mungkin tidak tahu apa itu kain shimmer atau sutra bordir. Tapi di mata Laras, nenek itulah yang benar-benar memenangkan peperangan.
Siang harinya, saat semua tamu sudah pulang, Ibu Fatma terduduk lemas di sofa. Kakinya lecet karena memakai sepatu hak tinggi yang ia paksakan agar serasi dengan gamisnya. Mukena mahalnya sudah dilempar ke kursi, ia merasa gerah dan tidak nyaman.
“Gimana, Bu? Menang?” tanya Pak Jaka sambil menyodorkan segelas air putih.
Ibu Fatma terdiam. Ia melihat foto-foto yang ia unggah di media sosial. Banyak yang memuji bajunya, tapi ia merasa hampa. Seharian ia sibuk menjaga agar bajunya tidak kena kuah opor, sibuk membetulkan posisi hijabnya agar tetap tegak, sampai ia lupa benar-benar menikmati obrolan dengan kerabatnya.
“Pak,” suara Ibu Fatma melunak. “Tadi aku lihat Mbok Sum. Dia salatnya khusyuk sekali. Aku… aku tadi malah sibuk mikirin payet bajuku yang copot satu pas rukuk.”
Pak Jaka duduk di sampingnya. “Lebaran itu tentang hatinya yang baru, Bu, bukan benangnya yang baru. Kita sering kali terlalu sibuk menghias rumah dan badan, sampai lupa membersihkan ruang tamu di dalam jiwa kita sendiri.”
Malam itu, Ibu Fatma melepas baju barunya dengan perasaan berbeda. Ia sadar, kain paling mahal di dunia sekalipun tidak akan bisa menutupi noda kesombongan jika hati tidak benar-benar ikut berbenah.
Baju baru mungkin bisa membuat kita terlihat “menang” di mata manusia, tapi hanya kerendahan hati yang membuat kita benar-benar menang di hadapan Tuhan. Lebaran bukan tentang perlombaan kemewahan kain, melainkan perlombaan untuk menjadi manusia yang lebih tulus daripada kain putih yang belum terjamah noda.
