Lampu kamar berpendar temaram, menyisakan bayang-bayang panjang yang seolah merayap di dinding, mengikuti gerak gelisah Risa di balik selimut. Di luar, sunyi merayap di sela-sela embun Ramadan yang dingin, sesekali dipecah oleh suara jauh mesin kendaraan yang melintas atau gonggongan anjing di kejauhan. Dunia sedang berada pada titik paling senyapnya.
Risa menggeliat. Kelopak matanya terasa seberat timah. Namun, alarm di atas nakas terus berteriak, sebuah pekikan digital yang tajam, mengingatkannya bahwa ini adalah sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu yang dalam kitab-kitab klasik disebut sebagai momen di mana Arsy bergetar dan doa-doa melesat tanpa penghalang menuju langit, layaknya anak panah yang tak pernah meleset dari sasarannya.
Dengan gerakan lambat yang dipaksakan, ia menyibak selimut. Dingin segera menyergap kulitnya, memaksa bulu kuduknya berdiri. Langkahnya gontai menuju kamar mandi, menyusuri lantai ubin yang terasa sedingin es. Saat air wudu menyentuh wajahnya, ia sempat berjengit. Namun, sensasi beku itu perlahan meluruhkan sisa-sisa mimpi yang masih melekat di benaknya. Tetesan air jatuh dari dagunya, jernih dan suci—setidaknya begitulah seharusnya.
Risa kembali ke kamar. Ia membentangkan sajadah beludru berwarna hijau zamrud yang permukaannya tampak berkilau terkena cahaya lampu tidur. Ia mengenakan mukena sutra putihnya yang paling rapi, kain yang halus itu jatuh dengan sempurna, membungkus tubuhnya dalam citra kesalehan yang estetis. Ia tampak anggun, seperti bidadari yang siap bersimpuh di hadapan Sang Khalik.
Namun, sebelum takbir pertama berkumandang, sebelum hatinya sempat bertaut dengan niat, tangannya secara refleks meraih benda pipih di samping bantal. Ponsel pintar itu seolah memiliki magnet yang lebih kuat daripada panggilan ruhani.
Ceklek.
Layar ponsel menyala terang, cahayanya yang putih kebiruan kontras dengan remang kamar, menyilaukan mata yang baru saja dibasuh air wudu. Risa tidak langsung membuka aplikasi. Ia terlebih dahulu mengatur sudut pengambilan gambar. Ia memotret sajadah yang sedikit bergelombang di bagian sujud, membiarkan ujung mukenanya masuk sedikit ke dalam bingkai agar terlihat “natural”. Di latar belakang, ia memastikan jam dinding kayu yang menunjukkan pukul 03.15 dini hari terlihat jelas.
“Sedikit lebih miring ke kanan biar vas bunga lili ini masuk,” bisiknya pelan pada diri sendiri. Jemarinya lincah menggeser posisi benda di atas meja nakas, menciptakan komposisi yang sempurna untuk sebuah unggahan.
Ia membuka aplikasi media sosial dengan ikon warna-warni itu. Jari-jarinya menari lincah di atas layar yang licin, mengetikkan kata-kata yang telah ia susun di kepalanya sejak ia bangun tadi: “Saat dunia terlelap dalam mimpi, di sinilah ketenangan yang sesungguhnya ditemukan. Menemui-Mu dalam sunyi, saat tak ada mata lain yang melihat. #TahajudVibes #RamadanKareem #SelfReminder #DeepSpirituality.”
“Oke, kirim,” gumamnya dengan senyum tipis yang tak sengaja tersungging. Sebuah rasa puas yang aneh menjalar di dadanya saat ikon loading itu menghilang.
Risa meletakkan ponselnya tepat di samping kanan tempat sujudnya, layar menghadap ke atas. Ia berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya. “Allahu Akbar.”
Shalat dimulai. Namun, saat bibirnya merapalkan surat Al-Fatihah, pikirannya tidak sedang berada di atas sajadah beludru itu. Pikirannya sedang melanglang buana ke server-server media sosial di seberang samudra. Ia membayangkan berapa banyak orang yang sedang terbangun untuk sahur dan akan melihat unggahannya. Ia membayangkan siapa saja yang akan menekan tombol hati, dan siapa saja yang akan merasa iri dengan “kedekatannya” pada Tuhan.
Sebuah bunyi ping pelan terdengar. Layar ponsel yang tepat berada di samping tangannya menyala sekejap, menampilkan notifikasi.
“Pasti si Intan sudah bangun dan kasih like,” batinnya di tengah ruku’. Konsentrasinya goyah. Alih-alih meresapi bacaan Subhana Rabbiyal ‘Adzimi, ia justru menghitung durasi antara unggahannya dan reaksi pertama yang masuk.
Risa bersujud lama sekali. Dari luar, ia tampak seperti seorang hamba yang sedang remuk redam dalam penyesalan dosa, seorang mukmin yang sedang memohon dengan sangat di hadapan Tuhannya. Namun di balik kain mukena itu, telinganya terpasang tajam untuk setiap getaran halus ponselnya. Hatinya yang tadi berniat ingin menangis meminta ampun, kini justru sibuk menghitung angka validasi dari manusia.
Setiap kali ponsel itu bergetar, ada sensasi dopamin yang meledak di kepalanya. Ia merasa diakui. Ia merasa shalihah. Dan perasaan merasa shalihah itu ternyata jauh lebih memabukkan daripada ibadah itu sendiri.
“Siapa lagi ya yang komentar?” pikirnya saat duduk di antara dua sujud. Bacaan doanya, “Robbighfirlii warhamnii…” terucap secara mekanis di bibir, tanpa makna yang meresap ke dalam jantung. Ia meminta ampunan, namun hatinya sedang mencari tepuk tangan.
Begitu salam terakhir diucapkan, Risa tak lagi menengadahkan tangan ke langit untuk memanjatkan doa-doa panjang yang sebelumnya ia rencanakan. Tangannya justru segera menyambar ponselnya seolah takut kehilangan momen.
“Wah, sudah tujuh puluh orang yang lihat dalam lima menit,” bisiknya dengan mata berbinar-binar. Ia mulai menelusuri kolom komentar.
“Masya Allah, Kak Risa memang panutan. Jam segini sudah di atas sajadah,” tulis seorang teman kampusnya. “Iri banget sama istiqomahnya Kak Risa. Doakan aku ya!” tulis yang lain.
Risa tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia, merasa sangat spiritual, dan merasa sangat religius. Ia merasa telah “menang” di sepertiga malam itu. Ia merasa telah berhasil melakukan dua hal sekaligus: beribadah dan menginspirasi orang lain—atau begitulah ia membohongi nuraninya sendiri.
Ia tidak sadar bahwa di balik dinding kamarnya, malaikat mungkin sedang menutup buku catatan dengan guratan kesedihan. Ia tidak sadar bahwa air wudunya baru saja kering bukan karena diserap oleh pori-pori kulitnya yang haus akan berkah, melainkan menguap sia-sia karena panasnya api riya yang membakar amalannya. Ia telah bersusah payah membangun jembatan cahaya menuju langit, namun ia sendiri yang merobohkannya dengan palu godam bernama “pengakuan manusia”.
Di atas sajadah itu, Risa masih duduk berlama-lama, namun bukan untuk berdzikir. Ia sibuk membalas komentar satu per satu dengan kalimat-kalimat rendah hati yang dibuat-buat, seperti “Aku pun masih belajar,” atau “Semoga kita semua istiqomah.”
Matahari mungkin belum terbit, namun noda itu telah menetap di sana. Noda yang bukan berasal dari debu atau kotoran fisik, melainkan noda transparan yang mengaburkan pandangan jiwanya. Ia sedang melakukan teater kesalehan di hadapan penonton dunia, sementara Sang Pemilik Malam dilupakan di atas kursi penonton yang sepi.
Suara tarhim dari masjid mulai terdengar, menandakan waktu subuh segera tiba. Risa meletakkan ponselnya, namun matanya masih melirik ke layar yang terus menyala. Sepertiga malamnya telah habis. Ia telah mendapatkan apa yang ia cari: kekaguman dari mahluk yang juga akan mati. Namun, ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar: tatapan cinta dari Dia yang tak pernah tidur.
Risa berdiri, melipat sajadahnya, dan merasa bahwa ibadahnya malam itu sangatlah hebat. Ia berjalan menuju dapur untuk sahur dengan langkah ringan, tidak menyadari bahwa ia baru saja membawa pulang keranjang kosong dari pasar pahala yang paling mewah di semesta ini.
“Jangan sampai engkau terlalu sibuk memastikan duniamu tahu bahwa engkau sedang mengetuk pintu langit, hingga engkau lupa bahwa Yang Memiliki Langit justru sedang menunggumu bicara secara pribadi, bukan sedang menunggumu mengunggah bukti. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak butuh jumlah ‘like’ di layar ponselmu untuk mencatat namamu di barisan para kekasih-Nya.“
