Di sebuah Rumah yang selalu sibuk dengan kegiatan belajar dan aktivitas positif, hiduplah seorang anak perempuan bernama Sabria. Ia terkenal lugu, seringkali tersipu ketika berbicara. Ia lebih suka mendengarkan daripada bercerita. Namun, di balik keluguannya, Sabria menyimpan impian besar yaitu ingin menjadi guru agar bisa membagi ilmu pada banyak anak di dekat rumahnya.
Setiap pagi, ia berjalan kaki melintasi jalan yang ramai akan kendaraan untuk menuju sekolah. Sepatunya sudah mulai subur, tapi semangatnya tidak pernah pudar. Sabria selalu duduk di bangku paling depan, memperhatikan gurunya dengan mata berbinar.
“Ta, bagaimana caranya menjadi guru seperti Ibu?” tanyanya suatu hari dengan suara pelan.
Sang guru tersenyum, menampar lembut bahu Sabria. “Belajarlah dengan rajin, jangan takut bermimpi. Meski langkahmu sederhana, suatu saat keluguhanmu akan membawamu jauh.” Kata-kata itu menjadi api kecil di hati Sabria. Ia semakin giat belajar, membantu teman yang kesulitan, dan menuliskan mimpinya di buku harian: “Aku ingin menjadi guru.”
Tahun demi tahun berlalu. Perjalanan tidak mudah Sabria harus berusaha belajar dan mengikuti pelajaran dan menari demi membahagiakan ayah dan ibunya. Namun setiap keringat dan letih terasa ringan karena ia percaya pada mimpinya.
Hari itu akhirnya tiba. Bertahun-tahun setelah perjuangan panjang, Sabria berdiri di depan papan tulis. Dengan suara lembut, ia menyapa teman teman se kelas yang menatap penuh harap.
Sabria merasa gugup, tetapi dia sudah berlatih seminggu penuh di rumah. Ibunya selalu mengingatkannya untuk berbicara dengan suara yang jelas dan percaya diri. “Kamu bisa, Kak Sabria,” ujar ibu dengan senyum yang tenang.
Tema presentasinya adalah tentang “Keanekaragaman Hayati Indonesia.” Sabria memilih tema itu karena dia sangat menyukai alam dan ingin teman-temannya tahu betapa pentingnya menjaga kekayaan alam Indonesia. Setiap gambar yang muncul di slide menunjukkan berbagai jenis tumbuhan, hewan, dan ekosistem yang ada di tanah air.
Saat slide pertama muncul, Sabria melihat wajah-wajah teman-temannya yang tertarik. Dia mulai berbicara dengan suara yang agak gemetar, tapi semakin lama, dia mulai merasa lebih nyaman. “Indonesia memiliki banyak jenis tumbuhan dan hewan yang hanya dapat ditemukan di negara kita,” katanya, berusaha mengingat apa yang sudah dia pelajari.
Namun, di tengah-tengah presentasi, tiba-tiba remotnya terjatuh dan slide yang muncul bukan lagi tentang hewan endemik, melainkan slide yang sudah dilewati. Sabria panik sejenak, tapi dengan cepat dia mengambil remot itu kembali. “Maaf teman-teman, sedikit masalah teknis,” ujarnya sambil tertawa kecil. Dia kemudian melanjutkan penjelasannya tanpa merasa terbebani dengan kejadian itu.
Satu per satu, slide yang ditampilkan mengungkapkan fakta-fakta menarik tentang keanekaragaman hayati Indonesia, dan Sabria mulai melihat teman-temannya yang tadinya bercakap-cakap kini lebih fokus. Ada yang tertarik dengan foto-foto satwa langka, ada juga yang mengajukan pertanyaan. “Sabria, apa sih yang harus kita lakukan untuk melindungi satwa langka itu? ” tanya Afvika, teman sekelas yang sangat peduli dengan alam.
Sabria tersenyum, merasa senang bisa menjelaskan lebih lanjut. “Kita bisa memulai dengan cara yang sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan mendukung program-program pelestarian alam.”
Waktu berjalan cepat, dan akhirnya presentasi Sabria selesai. Teman-temannya memberi tepuk tangan meriah sehingga membuat Sabria merasa lega dan bangga. Meskipun awalnya merasa ragu, dia berhasil menyampaikan pesan dengan baik. Guru mereka, Ibu Maya, memberikan pujian. “Kamu sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa, Sabria. Kamu berhasil menunjukkan betapa pentingnya menjaga alam kita.”
Senyum kecil mulai terpancar dari wajah Sabria yang merasa lebih percaya diri. Dia tahu, ini awal baru dari banyak presentasi yang akan datang. Dan yang lebih penting lagi, dia merasa bahwa dirinya telah berbicara untuk sesuatu yang sangat penting di alam dan masa depan.
Langkah-langkah lugu yang dulu ia tapaki kini membawa sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Dan dari sana, ia belajar bahwa keluguan bukanlah kelemahan, melainkan kesederhanaan hati yang menguatkan setiap perjalanan menuju masa depan. Memasuki tahun pelajaran baru mulai menumbuhkan semangat baru dan doa kedua orang tua yang selalu mengiringi langkah kecil Sabria.
Sinar mentari memasuki lorong kelas baru membuat Sabria termenung dan berkemah. Di dalam hatinya berkecambuk berbagai rasa. “semoga dengan menjadi kelas 6 bisa membuat ayah dan ibu bangga pada aku.. aamiin.”
