Teh Iyos sedang transaksi dengan ibu penjual jamu.
Pagi hari yang cerah. Matahari bersinar terang dan ada bonus penjual jamu gendong. Cocok sekali untuk jalan kaki. Olahraga ringan yang paling bisa dilakukan siapa saja. Kamu suka jalan kaki gak?
Teh Iyos (saudara yang selalu jadi partner jalan kaki) selalu megingatkan, “jalan kaki itu jangan mikir biar langsing atau tujuan apa yang membuat kita terbebani. Jalan ya jalan aja.”
Memnag benar, ketika kita tahu manfaatnya banyak sekali untuk kesehatan, fokus saja sama itu. Lakukan perlahan dan konsisten tentunya.
Aku ingatkan lagi kalau jalan kaki itu manfaatnya banyak sekali. Di antaranya, untuk menjaga kesehatan jantung, mengurangi risiko stroke, menguatkan otot dan tulang, memperbaiki kesehatan mental, bikin bahagia dan tentunya bisa mengontrol berat badan.
Alasan yang terakhir sebaiknya tidak terlalu jadi ambisi, selama kamu masih makan terlalu banyak dan jajan gorengan setelah jalan kaki. Pokoknamah, nu penting sehat heula.
Jalan kaki di pagi yang cerah juga memiliki efek tambahan yang menyenangkan. Yaitu badan terasa segar dan ringan. Apalagi kalau jalan kaki sekitar pukul depalan, dimana sinar mentari sudah mulai hangat. Badan berkeringat, segar, ditambah terkena sinar matahari di punggung, terasa dipijat lho. Nyaman banget.
Lalu ada lagi bonusnya, kalau jalan kaki di luar rumah itu banyak sekali kejadian yang dialami. Dari kejadian menyedihkan seperti lupa bawa uang, kejadian yang menimbulkan penyesalan seperti lupa bawa topi. Atau kejadian yang membuat trauma setrauma disengat lebat pesva saat jalan pulang jalan kaki.
Bertemu dan berinetraksi dengan banyak orang pun merupakan kegiatan yang tak kalah menyenangkannya yang dialami saat jalan kaki di alam terbuka. Tentunya sangat berbeda dengan ketika kamu hanya jalan kaki di rumah pakai treadmill.
Seperti pengalamanku bersama saudara beberapa hari lalu. Ketika lelah karena sudah berjalan sejauh kurang lebih 5km, di depan ada ibu penjaja jamu gendong dengan jarak sekitar 50 meter dari posisi kami, ia jauh di depan.
Kami panggil dan berusaha mempercepat langkah untuk menyusul ibu penjual jamu. Ibu penjual jamu yang sudah lumayan tua, berhenti di tempat yang rata karena rute jalan menanjak. Kami berjongkok untuk minum jamu dan dapat nasihat dari ibu penjual.
“Kalau mau sehat, jalan kakinya yang rajin, jangan lupa minum jamu. Kalau mau cepat langsing, kurangin porsi makannya,” katanya.
Nasihat klasik yang sering didengar tetapi tidak pernah benar-benar berhasil dilakukan.
Kami hanyalah para perempuan yang memiliki cita-cita langsing tetapi hobinya makan. Gak apa-apa ya. Sekali lagi gak apa-apa. Sudah menyempatkan jalan kaki saja sudah jauh lebig baik daripada kami hanya berdiam diri, duduk, rebahan kayak polisi tidur yang gak ada kerjaan.
Akhirnya jalan kaki kala itu menjadi jalan kaki paling sehat. Jarak yang cukup jauh, sengat matahari yang hangat, udara pedesaan yang masih bersih dan segar, serta segelas jamu kunyit asam yang kami teguk.
Belum lagi, tetehku membungkus untuk dibawa pulang.
“Mungkus, buat diminum nanti sore,” katanya.
So, kapan kamu dan aku bisa jalan kaki sama-sama?
