Kawanku pernah bertanya, “yang paling penting dari hidup tuh bersikap tenang ya?” Dia bertanya dengan senyum tipis, entah ia ingin diyakinkan atau mungkin memang sedang mencari jawaban. Kawanku itu mungkin sedang dihantui gelisah tak berkesudahan, atau mungkin pikirannya yang terus dipukul kenyataan.
Namanya Andrew, dia temanku sedari SMP. Sekarang sudah bekerja sebagai pegawai antar barang di salah satu distributor. Andrew memang paling dekat denganku ketimbang teman-temannya yang lain, kami selalu menyempatkan waktu satu minggu dua kali untuk sekedar ngopi bareng di warkop depan gang rumahku.
Dia tidak pernah kehabisan obrolan, ada saja yang dia bicarakan. Kayay malam ini, dia tiba-tiba menanyakan hal terpenting dalam hidup. Aku senyum sembari menyantap pisang goreng yang ada di nampan biru khas warung kopi.
“Tidak,” aku lantas menimpalinya “yang penting dalam hidup itu bukan tenang, tapi waras,” tegasku sambil tersenyum tipis persis seperti yang dilakukan Andrew.
“Ha ha ha iya juga ya, orang gila aja tenang hidupnya, ga pake baju yaudah santai aja.” Gelagak tawa Andrew memecah kesunyian jalanan di warung kopi yang kebetulan sedang tidak banyak pengunjung, hanya kami dan tiga orang lainnya entah darimana.
Andrew memang begitu, selalu tertawa lepas seolah sedang melepas beban dan pilu, sesekali aku lihat ia tertawa sambil menengadah ke atas seperti menahan tangis. Aku sudah paham betul dengan tingkahnya, bertahun-tahun ngopi bareng semenjak membujang sampai aku sudah beranak satu tentunya hafal banget dengan gelagat Andrew.
Malam ini wajah Andrew sangat terlihat lesu, rambut berantakan, dengan sweater putih dan celana hitam berbahan katun, sangat jelas tergambar antara cape sehabis kerja bercampur dengan beban pikiran, aku mengerti malam ini mungkin Andrew sedang dalam masalah terbesar di hidupnya, tapi entah urusannya apa, Andrew terlihat belum mau bercerita tentang masalahnya.
Melihat Andrew seperti itu, Aku pun turut tertawa dengan obrolan tadi. Tetapi sesekali aku ingin sepertinya, melepaskan sesak hati dengan tawa. Tapi ya mau gimana lagi, mungkin karena Andrew sudah terbiasa dengan masalah-masalah besar di hidupnya, sedang aku biasa saja.
“Eh, Bre, Gua nemuin fakta baru lagi tentang kedewasaan seseorang,” ucapku yang melanjutkan pembicaraan.
“Waah asik nih, ini yang aku suka dari kamu” jawab Andrew sembari menyeruput kopi hitam di depannya.
“Ternyata ciri-ciri kedewasaan orang tuh bukan diliat dari seberapa dalam lukanya, bukan juga yang udah mikirin sign job atau duit tambahan, itu mah biasaa, tapi nonton drama China! Fix ini sih tanda kalo lu dewasa banget,” ucapku yang mencoba mencairkan suasana.
“Ha ha ha, iyaa lagi. Gua ya gegara iklan drama China 3 menit di Facebook, langsung lanjut di YouTube. Tembus 3 jam per episode. Ha ha sialan,” timpal Andrew. Bergadang Gua nonton sampe tamat, ada tuh master bela diri namanya Pak Pendi, namanya malah kerenan Gua yang tukang antar barang. Ha ha ha,” lanjut Andrew yang masih mentertawakan kelakuannya menonton drama China.
Tawa nya sangat candu, tidak sedikit orang tertawa karna mendengar suara dan cara Andrew tertawa.
Setelah beberapa obrolan random lainnya, aku mulai diam, memberikan keluangan waktu untuk Andrew agar bersiap menceritakan yang paling inti di malam ini. Kami biasa begitu, setiap bertemu tidak pernah langsung mengobrol inti-inti pertemuan, selalu mencari obrolan seru dan menghibur sembari menyiapkan mental.
Andrew hanya diam, tatapannya kosong Sruuup, Andrew menyeruput kopi hitam dan melanjutkan dengan napas panjang.
“Bre, Gua kayaknya batal nikah ….”
Aku lihat Andrew tertunduk, tangannya yang memegang rokok mulai gemetar. Aku tidak langsung menimpali nya, entah harus bereaksi seperti apa, jujur akupun terkejut mendengarnya.

“Tiga tahun aku siapkan semuanya, awal tahun aku lamaran, wedding organizing udah ada, semua persiapan nikah lengkap, dua bulan lagi hari H, tapi Gua harus gimana lagi?” Andrew melanjutkan cerita nya sedikit demi sedikit, cara bicara nya sempat berbelit gak karuan karna menahan tangisnya.
“Gua disuruh mundur, keluarganya lebih pilih laki-laki pelayaran untuk dijadikan menantu.” Andrew terus melanjutkan sedikit demi sedikit ceritanya, kopi dan rokok bergantian menemani bibirnya.
“Lho, bukannya lamaranmu udah diterima ya? kenapa jadi pindah pilihan, dua bulan lagi lho.” Sontak aku tanyakan dengan nada sedikit emosi.
“Entah lah, Bre, katanya laki-laki pelayaran itu mantannya. Gua gak ngerti sih kenapa bisa begini,” jawab Andrew dengan suara yang bergetar.
Aku masih tidak percaya dengan yang Andrew ceritakan, dia dan Alya sudah berpacaran dua tahun sambil menabung mempersiapkan hari bahagianya. Tentu aku tidak mengerti, tapi aku tau ini masalah terbesar Andrew dalam hidupnya.
Andrew tidak berbicara lagi, ia hanya meminum kopi dan menghisap rokok dengan tatapan kosong.
“Yaallah, bantu kawanku ini, Andrew namanya. Dia kawanku, tetapkanlah ia sebagai orang yang sabar,” gumamku yang meminta pada sang penentu.
