Ibu Sedang Mengerjakan Pekerjaan Rumah (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev)
Sempat berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga yang benar-benar berbakti dan berkegiatan penuh di rumah adalah keputusan yang salah. Ternyata selalu ada celah syukur di tengah peran saya sebagai ibu rumah tangga. Mereka yang bilang, percuma sekolah kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga? Sudah lama saya abaikan.
Saya sebagai ibu rumah tangga sempat merasa bahwa hari ke hari yang saya jalani semakin hampa. Waktu ke waktu terasa lambat, namun tahun bergulir terasa cepat. Saya melihat juga diri saya semakin kecil dan tidak berguna, saya selalu merasa tidak berdaya dan bukan apa-apa di tengah masyarakat.

Apalagi ketika melihat banyak perempuan di luar sana yang sebaya dengan saya, teman-teman saya, teman sekolah, bahkan tetangga. Mereka tengah mengejar karir dan kehidupan finansial mereka menuju titik dimana menurut mereka maksimal dan sukses. Mereka seperti sedang berada di puncak mimpi mereka, teman-teman yang merintis juga sedang menuju ke titik stabilnya.
Merasa Tidak Percaya Diri
Tak sedikit teman-teman yang memulai perjalanan baru di usia matang seperti sekarang. Seperti jabatan yang lebih bagus, pekerjaan yang stabil, pangkat baru, dan status baru dan satu per satu mulai membangun keluarga. Sedangkan saya yang memutuskan untuk menikah muda dahulu, merasakan betul bahwa peran saya sebagai perempuan dan ibu hanya sebatas membangun generasi di tengah keluarga saya saja.
Tak lebih daripada itu, saya hidup hanya untuk membersamai suami, hanya untuk membimbing anak dan mmengasuh anak saya. Hal itu seperti terdengar sepele, bahkan seorang asisten rumah tangga pun mampu melakukan hal itu. Namun di tengah renungan semacam itu, sebenarnya saya sempat mengumpulkan berbagai sudut pandang menyoal perempuan yang saya akumulasikan menjadi simpulan.
Membandingkan Pernyataan
Ada dua perbandingan yang sempat saya pikirkan dan saya simpulkan hingga hari ini. Ada pandangan negatif sekaligus positif mengenai hal ini. Namun saya melihat banyak sisi yang harus disyukuri oleh saya sebagai ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga.
Sudut pandang yang pertama, saya pernah menemukan utas berisi tulisan seseorang di sosial media. Ia membeberkan fakta bahwa kehidupan menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang beresiko tinggi, membuat seorang perempuan menjadi mudah stress, dan mengalami demensia lebih cepat atau kepikunan. Berarti perempuan harus sibuk, bahkan harus bekerja diluar kewajibannya sebagai ibu di rumah.
Saya paham betul, sebab semua itu pasti bermula dari rutinitas yang sama, monoton setiap hari dan membosankan. Belum lagi perkembangan diri yang tersendat dan keterlibatan diri di kehidupan orang lain, juga selalu menjadi seseorang yang paling berpikir diantara seluruh anggota keluarga. Tak dapat dipungkiri, memang peran perempuan di rumah tak jà rang selalu menjadi motor penggerak, jika ia sakit maka seisi rumah akan merasakan ketidak hadirannyà .
Suami mungkin bisa melakukannya, namun tentunya dengan tensi pekerjaan yang tinggi, maka ia tidak bisa mengurus semua pekerjaan rumah sendirian. Begitupun dengan saya, pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, dan semua hal yang saya lakukan berulang kali membuat saya merasa bahwa ini adalah kesempurnaan dan bagian dari cara bakti saya kepada keluarga. Ini adalah pengabdian yang harusnya membuahkan pahala, dan tugas saya sebagai perempuan nampaknya seperti itu harusnya.
Saya dihidupi oleh suami, maka kita juga bertugas menghidupkan rumah dengan maksimal. Namun, dibalik itu semua setelah semua pekerjaan selesai dan saya rehat dari pekerjaan rumah tangga, ada sudut kecil di hati dan kepala saya yang rasanya selalu kosong dan hampa. Tidak ada kegiatan, tidak ada sesuatu yang membantu saya berkembang, tidak ada hal yang menarik, tidak ada hal yang membuat diri saya terpancing untuk menjadi sibuk.
Banyak sebenarnya bisa dilakukan, memasak masakan dengan mengeksplor resep di internet atau menyempatkan membaca buku. Saya sekarang sedang terus belajar mengatur waktu dengan memiliki rutinitas menulis, dan mengunggahnya di platform media online. Hal itu sedikit banyak membuat saya sibuk, berkembang dan juga melihat diri saya yang lain.
Penulis utas itu memberikan solusi dan menyarankan perempuan untuk memiliki kesibukan selain mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti hal-hal kecil semacam mengisi TTS, membaca buku, berolahraga, merias diri, atau kegiatan lain yang memberikan kepuasan untuk diri sendiri sebagai perempuan. Tidak hanya mengabdi di rumah, namun ia berkembang menjadi seorang perempuan yang bukan hanya menjadi ibu saja tapi ia juga berdaya.
Berlanjut pada pernyataan selanjutnya yang saya pikirkan dan saya cocokkan adalah suatu tayangan podcast yang di gawangi oleh Ananda Omesh, Surya Insomnia, Angga Nggok, dan Imam Darto di dalam acara podcast. Dalam satu episode, mereka mengundang Ustaz Dennis Lim, kebetulan Ustaz Dennis sering saya simak, karena ia selalu mengedepankan rasa syukur dalam semua dakwah yang ia sampaikan. Ia tak pernah membandingkan satu hal dengan satu hal lain tanpa pandangan yang positif di dalamnya.
Dalam tayangan tersebut, Ustaz Dennis menyinggung soal peran perempuan. Menurutnya sebagai seorang perempuan kita tidak baik banyak mengeluh, sebab memang meski perempuan memang banyak ujiannya namun banyak pula hal yang harus disyukuri. Contohnya ketika ketika kita menghadapi anak yang nakal atau membuat kita lelah dalam mengasuh, dan seakan-akan waktu di rumah habis hanya untuk bermain dengan anak.
Maka kita harus melihat, berapa banyak perempuan yang mendambakan menghabiskan waktu di rumah? Berapa banyak perempuan yang mengharapkan perasaan lelah dalam mengasuh? Berapa perempuan yang banyak berusaha untuk mendapatkan momongan?
Berkaca Pada Pengalaman Orang Lain
Beratnya pola engasuhan yang membuat kalian merasa waktu tersita dan kehilangan jati diri sebagai perempuan, juga itu adalah sesuatu yang diidamkan oleh perempuan lain. Jadi patutnya kita banyak-banyak bersyukur sebagai perempuan dan ibu di rumah. Setelah menonton tayangan podcast itu selesai, saya juga melihat bahwa apa yang saya keluhkan di rumah adalah sesuatu yang mungkin di mimpikan oleh orang lain.
Saya mungkin hanya diam di rumah dan mengurus anak semaksimal mungkin tanpa memikirkan soal keuangan, sedangkan di luar sana banyak perempuan yang terpaksa melibatkan diri dalam pencarian uang untuk keberlangsungan hidup di rumah. Saya memilih, sedikit banyaknya penghasilan yang didapatkan oleh suami, saya harus pintar mengelolanya sedemikian rupa dan mensyukurinya meskipun tidak banyak. Mungkin kadang tak cukup untuk kebutuhan, dan aada perasaan kurang di dalam diri saya, yang saya anggap sebagai perasaan manusiawi.
Saya lantas selalu berdoa ketika suami mencari uang sendirian, sebab saya rasa itulah hal yang bisa saya maksimalkan di rumah. Membantunya memberikan ketenangan dengan beribadah dan mendampinginya meski banyak rintangannya. Sebab untuk memilih membantu dengan cara bekerja, saya tidak bisa sembarangan mengambil keputusan.
Karena saya rasa, anak saya masih sangat membutuhkan saya sebagai sosok ibunya. Hati saya berterus terang untuk melihat celah syukur saja dari semua jalan yang saya pilih. Dari pernyataan Ustaz Dennis Lim saya bisa menyimpulkan bahwa apapun yang sebenarnya dikeluhkan ibu rumah tangga yang mungkin kegiatannya yang monoton dan begitu-begitu saja, kita bisa lihat bahwa dampak dan peran mereka sangat berarti.
Ibu rumah tangga itu bagaikan hela nafas dan air, mungkin tidak terlihat penting dan dianggap istimewa. Namun jika perannya tidak ada, maka rasanya seisi rumah akan akan goyah. Sebut saja jika ibu sakit, maka anak butuh perhatian suami butuh perhatian, dan pekerjaan rumah akan banyak yang tertunda.
Ibu Adalah Nyawa Rumah
Semua anggota keluarga di rumah membutuhkan sesuatu yang lebih dari pelayanan, yakni kehadiran seorang ibu. Jika pernyataan di utas itu membuat kita sebagai perempuan mengalami ke pikunan lebih cepat, kita bisa mensiasatinya dengan mengisi kesibukan. Bisa dengan membaca buku, mengasah otak dengan cara membimbing anak dengan metode pendidikan yang bisa kita tentukan sendiri, dan kita bisa menjadi guru di rumah sendiri dengan membentuk pola belajar anak.
Sambil kita juga belajar mengenal diri kita sendiri jika memiliki waktu luang yang cocok dan tenang. Era sekarang, perempuan bisa menunjukan dirinya dengan cara mencari uang dari rumah dengan mengunggah konten kreatif. Menjual barang-barang secara online, dropship, reseller, atau apa saja yang bisa kita lakukan di rumah.
Banyak sekali hal yang ternyat bisa kita syukuri meskipun peran kita terlihat seperti biasa saja di masyarakat. Simpulannya, dari utas yang menyatakan perempuan yang rawan pikun dan stress, juga Ustaz Dennis Lim yang mengajarkan arti bersyukur bagi perempuan. Semuanya sama-sama benar, tinggal kita sebagai perempuan menyiasati banyaknya waktu yang tersisa di rumah.
Mensyukuri Peran Perempuan dan Ibu
Memanfaatkan energi perempuan di rumah secara maksimal. Untuk beribadah tepat waktu, untuk mengembangkan diri, untuk mengaktualisasi dan mengekspresikan diri. Setelah kita mendidik anak dan mempersiapkan segalanya untuk suami, mari kita sebagai perempuan tunjukan bahwa kita berdaya.
Ibu rumah tangga bisa bangkit dan berkembang, bukan saja berpahala, namun juga memiliki nilai di mata dunia.
