Dita adalah gadis kecil berambut ikal dan mata berbinar penuh penasaran. Setiap malam, sebelum matanya terpejam, ia paling suka membaca buku dongeng favoritnya: tentang peri, kastil perak, dan petualangan si pangeran berani. Namun malam ini berbeda, Dita menatap langit lewat jendela kamarnya, berharap dapat berkunjung ke dunia dongeng yang sangat ia cintai.
“Aku rindu sekali pada kakak peri, dan longsoran warna-warni di taman kastil…” gumamnya lirih.
Tiba-tiba, seember cahaya lembut muncul dari halaman buku dongeng di mejanya. Halaman demi halaman mulai bergetar. Dari dalam buku itu, keluar sosok kecil: peri bersayap merah muda, bernama Luna.
“Dita…” Luna berbisik. “Aku datang karena kamu merindukan kami.”
Dita terngiang senang, “Benarkah? Bolehkah aku ikut ke dunia dongeng?”
Luna mengangguk dan meniupkan debu peri ke tangan Dita. Sekejap, Dita merasa ringan seakan terbang. Ia mendapati dirinya berada di taman penuh bunga bercahaya, di depan gerbang kastil perak. Kupu-kupu transparan mengitari, dan angin berbisik cerita.
Peri ajaib menuntun Dita berkeliling: di padang pepohonan yang gemerisik lagu alam, di sungai kristal yang memantulkan pelangi, hingga di aula kastil yang diramaikan boneka kayu yang bisa menari ketika lampu lilin dinyalakan.
Dita bermain bersama peri dan binatang dongeng, mencicipi madu di sarang manis, dan tertawa mendengar kisah peri penjaga bintang. Namun petualangan itu terasa begitu singkat bagi Dita yang merindukan dunia yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat kata.
Luna menatap Dita dengan lembut. “Kamu harus kembali sekarang, Dita. Tapi ingat, dunia dongeng ini selalu hidup dalam hatimu di setiap bacaan, setiap impian, dan setiap tawa imajinasimu.”
Dengan sapuan debu peri, Dita kembali ke kamarnya. Dia terbangun dengan tangan masih menghangat dari cahaya dongeng. Buku di mejanya tetap terbuka pada halaman pertemuan mereka, berkilau samar.
Sejak saat itu, setiap malam Dita membaca bukan hanya untuk menerobos halaman, tapi untuk membawa dunia dongeng hidup kembali dalam napas dan hatinya. Dan mungkin, suatu malam, lagi-lagi Luna akan datang, jika rindu itu cukup kuat.
Dita termenung saat selesai memahami dongeng. Dalam lubuk hatinya berkata: “seandainya aku bisa hadir di setiap dongeng yang ku dengar, aku ingin membuat cerita lebih indah dari kenyataan“.
