Rapat RW di kantor desa telah selesai, kami membicarakan banyak hal. Dari mulai program pemerintah pusat, evaluasi interaksi pemerintah dengan masyarakat, dan banyak masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Desa kami memang sekarang sedang dilanda bencana, sama seperti terdengar di daerah lain, dari angin ribut, banjir, hingga longsor.
Rapat RW kami laksanakan, agar koordinasi pemerintah di tingkat paling rendah bisa terorganisir dengan baik. Kami duduk bersantai setelah menyelesaikan pertemuan yang melelahkan itu. Namun, baru saja kami ingin membicarakan topik lain untuk membuka obrolan santai kami sesama ketua RW, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman kantor desa.
Pintu kantor desa terbuka perlahan berdecit, kami kompak memandang ke arah pintu utama. Ruangan tempat kami berkumpul memang sejajar dengan pintu utama kantor desa, membuat siapapun yang masuk bisa menjadi pusat perhatian. Karena pintu itu adalah akses utama ketika masyarakat atau tamu memasuki kantor desa.
Seketika kami memandanginya, tapi beberapa detik kemudian kami saling pandang satu sama lain. Sepertinya tidak ada wajah itu di desa kami, dia bukan warga desa ini. Dua laki-laki berkumis, tinggi besar, berotot, dan memakai helm sampai masuk ke ruangan.
Kami berasumsi bahwa mereka adalah tamu yang akan menghadap ke kepala desa, atau tamu untuk staf lain. Kebetulan diantara 9 ketua RW, hanya aku, Iding dan Rian yang belum pulang. Kami bertiga masih duduk melanjutkan seruput kopi hitam kami, dan tidak menghiraukan tamu asing itu yang nampaknya memang sedang mencari seseorang.
Jelasnya, kami hanya bersantai di ruangan kantor desa setelah melaksanakan rapat rutin. Lalu bertanyalah mereka setelah membuka helm dan menyimpannya di pojok ruangan. “Pak, saya ada perlu sama Pak Iding, kabarnya dia ketua RW 7 ya?” Tanya salah satu dari mereka mencoba membuka obrolan kami.
Iding terperanjat, “Iya, saya sendiri.” katanya menjawab sambil menatap orang itu. “Ada apa, ya?” Dia balik bertanya.
Sambil memberi isyarat supaya kedua tamu itu duduk, Iding mendengarkan cerita mereka dengan saksama. “Begini Pak, saya sedang mencari informasi tentang bapak, dan kebetulan kalau sekarang ketemu ya Alhamdulillah. Saya sangat memerlukan kehadiran bapak.”
Sepertinya Iding agak kaget, sebab akhir-akhir ini banyak wartawan bodong yang mencari keuntungan dibalik musibah yang dialami warganya, dan Iding adalah salah satu ketua RW yang sering dimintai keterangan. “Ada apa ya? Kalau tentang musibah yang dialami warga saya, saya belum bisa beri keterangan sekarang ini. ” Pernyataan Iding penuh curiga.
“Tidak apa-apa sekalian saya bercerita di sini ya, agar bapak-bapak semuanya tahu saya siapa, dan apa maksud kami datang ke sini. Perkenalkan saya Andri dan ini saudara saya Andrea, kami berdua adalah kakak beradik dan berasal dari Indramayu. Berniat datang ke sini untuk mendatangi Bu Rosidah yang katanya beralamat di sini.” Ucap salah seorang lelaki kekar itu.
“Rosidah?” kataku sambil mengerinyitkan dahi. “Di sini memang ada yang namanya Rosidah, tapi ada tiga orang. Nah, akang perlunya sama siapa?” Sambungku penasaran.
“Saya sulit kasih tahu detailnya seperti apa, yang jelas saya sudah kenal dia diperantauan, saya kesini ingin meluruskan utang piutang.” Andri menegaskan. “Dia janda dan dia punya kakak bernama Rasimin, kakaknya juga katanya orang sini, kami mengenal baik mereka, namun akhir-akhir ini mereka sering menghindari kami, jadi saya ingin menemui mereka, dan desa ini yang mereka maksud sebagai kampung halaman.” Tutup Andri optimis dengan misi pencariannya.
Mendengar cerita yang dialami Andri, Iding berusaha menjelaskan sebagai ketua RW setempat. “Begini kang, memang benar di sini ada orang dewasa bernama Rosidah, tapi tidak ada satupun yang janda. Ada tiga warga saya, tapi yang satu sudah meninggal 13 tahun yang lalu. Lagi yang dua orang, masih punya pasangan dan tidak merantau. Kalau tidak percaya, yuk saya antar ke rumahnya.” Iding memberi informasi rinci yang kalimatnya panjang dan lebar.
Setelah ditemui, kedua warga desa kami yang bernama Rosidah itu, Andri dan Andrea kembali lagi ke kantor kepala desa. Ia menjelaskan kepada seluruh ketua RW, kalau Rosidah yang dimaksud memang tidak ada. Dia lantas menceritakan apa yang dialaminya sambil menghela nafas panjang.
Menurutnya, Rosidah yang dia kenal tidak ada di desa ini. Rosidah yang dia kenal adalah seorang janda, dia kenal akrab di kawasan kost-kostan Jakarta, Rosidah bekerja di salah satu pabrik ternama. Mereka sudah saling percaya dan sudah tidak segan saling meminjamkan uang seperti saudara sendiri.
Rosidah dan Andri sudah sangat dekat dan sering dalam beberapa kesempatan saling pinjam uang atas keperluan pokok masing-masing. Maklum, sesama perantau katanya prinsip mereka adalah saling tolong menolong. Rosidah mengaku, kalau dia orang asli desa ini, dan bercerita kalau dia punya sebidang tanah yang disiapkan untuk keperluan usaha nanti kalau setelah berhenti bekerja di pabrik.
Sudah lama dia tinggal di Jakarta, dia sangat baik dan Andri percaya padanya. Andri iba atas pandangan masyarakat pada Rosidah, dia wanita yang bertahan menjadi orang tua tunggal dan gigih bekerja. Bahkan seseorang bernama Rasimin yang mengakui bahwa dia adalah kakak kandungnya juga dia percayai, sebab dia baik, tulus dan sopan.
Kami bertiga cukup tercengang atas ceritanya, dan kami bertiga sepakat menyatakan bahwa Andri dan Andrea ini sudah tertipu. Di desa ini tidak ada seorang perempuan yang bernama Rosidah, janda, apalagi merantau. Lalu, Andrea membuka obrolan dengan serius dan menegangkan, wajahnya gelisah dan terlihat bingung.
“Sebenarnya saya datang untuk menemuinya dan menanyakan kabar pembayaran hutang yang selanjutnya. Karena sebenarnya Rosidah pinjam uang sebanyak 15 juta untuk menambah modal dan buka usaha di sini. Sedangkan dia membayar 10 juta dan bukti transfernya fiktif. Kami menghubungi mereka dan selalu beralasan. Lalu kami berniat mencari mereka ke kampungnya, tiba-tiba sekarang mereka berdua tidak dapat dihubungi.” Jelasnya.
“Akang ketipu inimah.” Iding semakin meyakinkan. “Tidak ada janda perantau bernama Rosidah disini Kang, akang pulang saja. Kami berani bersumpah, tidak menutupi data warga kami. Memang kenyataannya seperti itu.” Ucap Rian yang sedari tadi menyeruput kopi mendengarkan kronologi.
Iding merasa iba dan mengusap punggung Andri juga menjabat tangan Andrea. “Iya Kang, sebaiknya kalian pulang saja, karena tidak ada Rosidah lain selain mereka di desa kami.”
“Terima kasih Bapak-bapak semua, benar kami baru sadar telah tertipu. Uang 15 juta kami raib, dan banyak barang lain juga yang dipinjam. Terima kasih ya atas bantuannya Pak.” Andrea semakin yakin dan sadar kalau mereka telah tertipu.
“Kami akan lebih banyak belajar berhati-hati dan berbuat baik terhadap orang lain di perantauan. Terima kasih ya sekali lagi.” Pungkas Andri sambil memakai helmnya.
Sembari mereka pamit, Iding, Rian dan aku berdiri memandangi mereka hingga habis terlihat melaju di ujung jalan. Lalu kami melanjutkan seruput kopi hitam di meja, yang sudah dingin dan mulai hambar. “Ada saja ya yang menyalahgunakan, dasar manusia, cari uang kok dengan menipu?” Ucap Iding sambil menggelengkan kepala.
