ilustrasi dibuat oleh AI/Didin Tulus
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Rusdi. Ia berusia 10 tahun, dengan rambut hitam acak-acakan dan sepasang mata cokelat yang selalu memancarkan rasa ingin tahu. Rusdi adalah anak yang ramah dan suka berpetualang, tetapi yang paling ia cintai adalah hutan di belakang rumahnya. Di sanalah ia sering bermain, menjelajahi setiap sudut, dan mengamati kehidupan hewan-hewan liar.
Suatu hari, saat sedang bermain di tepi hutan, Rusdi menemukan seekor anak rusa. Rusa itu tampak kecil dan rapuh, dengan bulu cokelat bertotol putih yang indah. Namun, ada yang berbeda dengan rusa ini. Matanya tampak keruh, tidak memancarkan kehidupan seperti mata rusa lainnya. Rusdi mendekat perlahan, dan ia menyadari bahwa anak rusa itu buta. Hati Rusdi terenyuh. Ia tahu bahwa anak rusa buta akan kesulitan bertahan hidup sendirian di alam liar yang keras.
Rusdi memutuskan untuk merawat anak rusa itu. Ia menamainya Bintik, sesuai dengan totol-totol di bulunya. Setiap hari, Rusdi akan bangun pagi-pagi, menyiapkan makanan untuk Bintik, dan membawanya ke ladang di dekat rumah mereka. Bintik tidak bisa melihat, jadi Rusdi menjadi matanya. Ia akan menuntun Bintik dengan hati-hati, memastikan ia tidak tersandung atau menabrak apa pun. Ia akan memegang tali yang terikat di leher Bintik, membimbingnya melintasi jalan setapak, melewati bebatuan, dan menyeberangi parit kecil.
Di ladang, Bintik bisa makan rumput segar dan bermain dengan bebas. Rusdi akan duduk di dekatnya, mengawasinya, dan sesekali mengajaknya berbicara. Ia menceritakan tentang langit biru, awan yang bergerak, bunga-bunga berwarna-warni, dan suara burung-burung yang bernyanyi. Bintik, meskipun tidak bisa melihat, selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, telinganya bergerak-gerak setiap kali Rusdi berbicara.
Waktu berlalu, dan persahabatan antara Rusdi dan Bintik semakin erat. Rusdi tidak pernah lelah merawat Bintik. Ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil bersama Bintik adalah tindakan kecil yang penuh kasih sayang. Ia melihat bagaimana Bintik, meskipun buta, bisa merasakan kebahagiaan dan kebebasan saat berada di ladang. Dan bagi Rusdi, itu sudah cukup.
Suatu sore, saat mereka kembali dari ladang, Rusdi merasa sangat lelah. Ia baru saja selesai membantu ayahnya di kebun, dan tubuhnya terasa pegal. Namun, saat ia melihat Bintik, ia kembali mendapatkan semangatnya. Ia membayangkan bagaimana Bintik akan kesulitan jika ia tidak ada. Dengan senyum di wajahnya, Rusdi kembali menuntun Bintik, langkah demi langkah, menuju rumah mereka. Ia tahu bahwa ia akan terus melakukan ini, setiap hari, selama Bintik membutuhkannya. Karena bagi Rusdi, Bintik bukan hanya seekor rusa buta, tetapi juga sahabat terbaiknya, dan sumber kebahagiaan yang tak terhingga.
