Menjadi konten kreator yang sukses adalah hal yang didambakan banyak orang. Pekerjaannya yang fleksibel membuat mereka tidak terikat waktu, namun membangun akun dan memperoleh ikatan dengan ribuan penonton membutuhkan waktu dan konsistensi. Tetapi, jika suatu saat menjadi pekerja kreatif terwujud sebagai kreator konten, siapkah jadi selebriti?
Atas mudahnya teknologi hari ini, banyak orang berbondong-bondong menjadi kreator konten. Meski pemula, mereka meliput semua hal dan mengesampingkan hal-hal pribadi, demi viral dan ditonton banyak orang. Banyak konten yang diawali melalui hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, ada yang memulai dari joget-joget di rumah, nyanyi sambil lipsync, atau review-review produk kecantikan dan perabot rumah. Banyak konten yang bahkan tidak diisi wajah dan suara oleh pembuatnya, namun bisa populer.
Konten-konten segar berbau kehidupan berumah tangga dengan komedi pun sebenarnya banyak penggemarnya, tentunya jika konsisten dan menemukan pasarnya, tak sedikit kreator konten yang populer karena sering membagikan kegiatan kesehariannya. Bukan tidak mungkin setahun ke depan, kalian kreator pemula pun bisa diundang di televisi nasional dan populer seketika. Uniknya kebiasaan masyarakat kita memang organik seperti itu, entah karena mungkin dunia nyata yang sangat menekan, jadi banyak orang yang butuh hiburan barang sesaat di sela kerja. Karena tanpa disadari, setiap kali melihat sosial media pasti algoritma sudah tahu bahwa kita butuhnya hiburan, bukan konten-konten pengetahuan.
Tak heran, sekarang banyak orang yang menggunakan konten hiburan sebagai cara untuk menjadi bantu loncatan menuju jalan selebriti. Mereka dandan kreatif dan penuh emosional untuk mendalami peran mereka, atau membagikan keseharian mereka di media sosial. Belakangan, ada yang viral karena terjerat kasus, dan ini tentunya ini bukan sebuah prestasi yang patut ditiru, populer karena keburukan sama sekali tidak baik.
Mereka yang tamak, melakukan segala cara untuk meraih pengikut di media dan popularitas semata, tanpa memperhatikan pengaruh yang dia tampilkan di hadapan masyarakat. Layak diperhatikan saat ini, apa yang terjadi dengan masyarakat kita? Mereka yang tidak bermoral diberi panggung, diangung-agungkan bahkan beritanya menyebar kemana-mana disertai informasi cocokologi dari para warganet.
Atas mudahnya perolehan pengikut dan penonton ini membuat banyak dari mereka mendapatkan pundi-pundi rupiah dari media sosial yang membesarkan namanya tentunya. Banyak konten kreator yang meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai negeri, pindah ke tempat kerja swasta sambil ngonten tentunya. Jika bisa membangun branding dan konsisten, sebenarnya menjadi influencer dan afiliator memang lebih menjanjikan, asal memiliki kinerja yang stabil.
Tapi sadar gak?
Banyak selebriti yang berangkat dari media sosial, hanya populer sesaat dan mereka hilang tiba-tiba karena hanya berbekal viral. Mereka yang tidak konsisten dan terlalu berapi-api sesaat membuat nama mereka mudah dilupakan oleh masyarakat. Mereka tidak menjerat masyarakat dengan melanjutkan populernya dengan karya, jadi mereka timbul dan tenggelam saat ini. Sebenarnya bukan hanya hari ini saja kita melihat fenomena artis viral timbul tenggelam semacam ini, dulu kita mengenal Noorman Kamaru sebagai polisi yang viral dan meninggalkan profesinya untuk keartisan yang saat itu membuat dirinya populer.
Hal ini tentu menjadi sesuatu yang menakutkan di dunia industri hiburan, dimana seseorang yang sudah tidak menarik lagi, tidak konsisten dengan karya yang ditawarkan, maka jangan heran kalau seketika namanya hilang begitu saja. Berbeda dengan mereka yang benar-benar membangun dirinya dari awal, mereka yang hidup asli menjadi pekerja seni, nyawa mereka akan melekat dan tertanam di jiwanya. Mereka yang berangkat dari viral juga sebenarnya bisa konsisten asal dia punya karakter tetap yang ditawarkan.
Komedian senior seperti kang Sule contohnya, ia pernah ditanyai perihal karirnya tyang melesat dan sukses seperti sekarang ini. “Kang, nyangka nggak Akang bakal ada di titik sekarang? Jadi komedian mahal di Indonesia, punya keluarga yang bahagia, harta berlebih, segalanya mudah tentunya, Akang nyangka nggak?”
Jawaban Kang Sule singkat, “Nyangka. Emang udah nyangka.”
Saat pertanyaan itu dilontarkan, jawabannya sederhana, terdengar seperti lawakan, tapi justru hali itu sangat bermakna. Dari jawaban itu kita bisa melihat diri Kang Sule yang sebenarnya, Kang Sule yang bermimpi besar dan kerja keras bersama seni yang hidup dalam dirinya. Dia sudah membayangkan bahwa dirinya akan menjadi pelawak terkenal yang suatu saat akan menjadi bintang di Indonesia.
Kang Sule dalam perjalanan menuju suksesnya, dia telah mempersiapkan mental itu. Mental menjadi terkenal, yang siap capek manggung sana sini, mental menjadi orang yang syuting berjam-jam dengan kurangnya istirahat, dan pembangunan mental-mental lainnya. Semua terbayarkan saat puncaknya, bayaran kang sule yang tidak sedikit, membuat dia menjadi pelawak termahal di Indonesia.
Mereka yang populer tiba-tiba tak jarang menjadi Star Syndrome, mereka yang mengalami ini akan merasa dirinya sangat penting dalam situasi apapun, bahkan akan mengubah penampilannya demi memuaskan mereka yang sedang menyoroti dirinya. Artis dadakan yang viral biasanya tak suka dirinya dihujat oleh warganet, wajar saja, karena mereka tak biasa diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Menjadi pembuat konten, harus dibarengi dengan konsistensi berkarya juga bersiap membangun diri sendiri, menata mental dan siap di kritik oleh orang lain.
Menjadi konten kreator harus siap-siap dengan cemooh warganet, tak terlena dengan pujian-pujiannya pula. Jika benar-benar ingin mencapai sesuatu harus konsisten, lebih kreatif, kerja keras, dan bermental yang baik tentunya. Yuk, teman-teman yang sedang mempelajari atau yang tengah merintis konten dan mencari penonton, semangat untuk menebar manfaat!
