Di sebuah sudut kota yang bising, Masjid Al-A’raf nampak riuh. Di gerbangnya, sebuah papan pengumuman digital bertuliskan: “Tarawih 23 Rakaat – Hanya 7 Menit!”. Pengumuman itu bak magnet bagi kaum muda dan orang-orang yang merasa waktu adalah komoditas yang terlalu mahal untuk dihabiskan dalam sujud yang lama. “Ini adalah terawih tercepat di dunia!”
Mbah Kromo berdiri di depan gerbang itu. Sarungnya yang sudah pudar warnanya nampak kontras dengan kemeja-kemeja merk terkenal yang berseliweran masuk. Ia mengusap jenggot putihnya yang tipis, matanya yang mulai kabur menatap papan pengumuman itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Mbah, ayo masuk! Di sini paling enak, nggak pakai lama, langsung beres!” ajak seorang pemuda sambil berlari kecil, takut ketinggalan shaf depan.
Mbah Kromo hanya tersenyum simpul. Ia melangkah masuk, memilih shaf paling belakang, dekat tiang kayu yang sudah mulai dimakan rayap. Ia ingin melihat keajaiban yang dijanjikan papan digital itu.
Begitu imam mengucap Allahu Akbar, suasana berubah menjadi medan laga. Suara imam melesat seperti peluru mesin. Surat Al-Fatihah yang seharusnya menjadi dialog indah antara hamba dan Pencipta, kini terdengar seperti gumaman yang tergesa-gesa. Ruku’, i’tidal, sujud, semuanya dilakukan dalam hitungan detik. Jamaah nampak seperti deretan boneka pegas yang membal ke atas dan ke bawah secara sinkron.
Mbah Kromo mencoba mengikuti. Namun, di rakaat keempat, ia berhenti. Ia memilih duduk bersila, membiarkan orang-orang di sekelilingnya terus melakukan “olahraga malam” itu. Dari posisinya, ia melihat pemandangan yang menyedihkan: orang-orang yang berkeringat bukan karena kekhusyukan, melainkan karena kecepatan fisik.
Setelah salam terakhir yang diucapkan secepat kilat, imam langsung memimpin doa yang juga diringkas sedemikian rupa. Kurang dari sepuluh menit, masjid itu mulai kosong. Orang-orang keluar dengan wajah puas, seolah baru saja memenangkan perlombaan lari estafet.
“Mbah kok tadi berhenti? Capek ya?” tanya si pemuda tadi, menghampiri Mbah Kromo yang masih duduk termenung.
Mbah Kromo menatap pemuda itu, lalu menepuk lantai masjid di sebelahnya. “Duduk sini sebentar, Le (Nak).”
Pemuda itu duduk, meski nampak tidak sabar ingin segera pulang untuk bermain ponsel.
“Kamu tahu, Le, kenapa tadi Mbah berhenti?” tanya Mbah Kromo lembut.
“Karena nggak kuat fisiknya, Mbah? Ya wajar, kan sudah sepuh.”
Mbah Kromo tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas tua. “Bukan, Le. Mbah berhenti karena Mbah merasa seperti orang yang sedang mengetuk pintu rumah seseorang dengan sangat keras, tapi begitu pemilik rumah membukakan pintu, Mbah justru lari menjauh.”
Pemuda itu mengernyitkan dahi. “Maksudnya, Mbah?”
“Shalat itu adalah pertemuan, Le. Sebuah audiensi dengan Sang Raja dari segala raja. Bayangkan kamu diberi kesempatan bertemu presiden, tapi saat kamu di depan beliau, kamu bicara sangat cepat sampai beliau tidak mengerti, lalu kamu pergi begitu saja sebelum beliau sempat menjawab. Apa itu sopan?”
Suasana di sekitar tiang kayu itu mendadak sunyi.
“Tadi itu bukan Tarawih tercepat di dunia, Le,” lanjut Mbah Kromo, suaranya kini sedikit bergetar. “Tadi itu adalah perpisahan tercepat di dunia. Kita baru saja berhadapan dengan Tuhan, tapi hati kita sudah berada di tempat parkir, di warung kopi, atau di layar HP. Kita hanya memberikan sisa-sisa energi kita, bukan rasa hormat kita.”
Mbah Kromo menghela napas panjang. “Imam tadi membaca ayat-ayat Tuhan seperti orang yang sedang mengejar kereta terakhir. Padahal, kereta itu tidak pernah pergi. Tuhan selalu menunggu. Kita yang selalu ingin cepat-cepat pergi dari hadapan-Nya.”
Si pemuda terdiam. Ia melihat ke arah mimbar yang kini kosong. Ia teringat betapa tadi ia sama sekali tidak sempat meresapi arti Subhaana rabbiyal a’laa dalam sujudnya. Semuanya hanya gerak mekanis.
“Le, hidup di luar sana sudah sangat cepat,” bisik Mbah Kromo lagi. “Dunia ini menuntut kita serba instan. Tapi di sini, di dalam masjid ini, seharusnya menjadi satu-satunya tempat di mana waktu berhenti. Di mana kita boleh melambat. Di mana kita boleh menarik napas panjang dan berkata, ‘Ya Tuhan, aku lelah dengan dunia, izinkan aku istirahat sejenak dalam sujud-Mu’.”
“Tapi kan yang penting sah secara rukun, Mbah?” tanya pemuda itu ragu.
Mbah Kromo menatap langit-langit masjid. “Mungkin sah di mata hukum fikih manusia. Tapi apakah pantas di hadapan cinta Tuhan? Apakah kamu mau diberi nafkah oleh istrimu dengan cara dilempar begitu saja ke mukamu hanya karena dia ‘sudah menjalankan tugasnya’? Puasa mendidik kita sabar, tapi kenapa saat Tarawih kita menjadi orang yang paling tidak sabaran?”
Mbah Kromo berdiri dengan bantuan tongkatnya. Ia menepuk pundak pemuda itu. “Jangan sampai kita bangga dengan kecepatan, padahal kita sedang berlari menjauh dari keberkahan. Shalatlah seolah itu adalah percakapan terakhirmu dengan-Nya. Karena kita tidak pernah tahu, apakah besok kita masih punya waktu untuk sekadar mengucap Allahu Akbar.”
Mbah Kromo berjalan keluar masjid dengan langkah yang pelan, sangat pelan. Ia menikmati setiap langkahnya, seolah sedang menghargai setiap detik waktu yang diberikan Tuhan.
Pemuda itu masih terduduk di sana. Ia melihat papan digital di depan yang masih menyala terang. Namun kali ini, tulisan “Tercepat” itu tidak lagi terlihat membanggakan di matanya. Tulisan itu nampak seperti sebuah peringatan tentang betapa malangnya umat yang merasa bahwa berbincang dengan Tuhannya adalah sebuah beban yang harus segera diselesaikan.
Malam itu, di bawah rembulan Ramadan, pemuda itu memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia berdiri, kembali menghadap kiblat, dan memulai shalat dua rakaat secara mandiri. Kali ini, ia tidak mengejar waktu. Ia membiarkan waktu yang mengejarnya.
“Ibadah bukanlah perlombaan lari, melainkan perjalanan hati. Kecepatan mungkin bisa membawamu sampai ke ujung rakaat, namun ketenanganlah yang membawamu sampai ke hadirat Tuhan. Jangan jadikan shalatmu sebagai tugas yang melelahkan, tapi jadikanlah ia sebagai tempat peristirahatan yang mendamaikan.”
(Cerita ini hanya fiktif ,bukan kisah nyata. Adapun ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu sama sekali bukan faktor kesengajaan )
