Sebelum melanjutkan baca bagian ini, sebelumnya baca “Ternyata Lelaki Baik Itu” bagian satu klik di sini ya!
bagian dua, Hari ke empat belas di rumah nenek. Dengan berat hati aku harus pulang ke kota. Padahal jadwal bimbingan skripsi masih lama lagi. Akan tetapi karena ada undangan, Amira sahabat dekatku ulang tahun menggelar pesta di hotel, aku harus pulang. Malam tadi dia merengek minta aku datang.
“Sekalian aku kenalin kamu ke kakak sepupu yang juga bisnis di bidang desain,” katanya. Kalimat yang sangat menggiurkan bagi aku yang menjadi mahasiswa fashion desainer.
Bimbang pun meraja. Sejak pertemuan beberapa hari lalu di balai desa dan Rahman memujiku, aku semakin betah di desa. Aku juga sedang semangat belajar ngaji pada Syifa. Orientasi desain pakaian di kepalaku pun mulai dipenuhi dengan ide-ide pakaian muslimah yang cantik tetapi tetap modis agar tidak kerepotan seperti yang dipakai Syifa.
Aku sedang bersiap pergi saat Rahman datang ke rumah.
“Kakek Badrun ada?” katanya sesaat setelah aku membukakan pintu untuknya.
Ia berpakaian sangat rapi. Wangi parfumnya segar sepertinya akan sangat sulit ku lupakan. Beberapa kali bertemu wanginya tetap sama. Tidak terkecuali ketika kami jalan-jalan lihat pemandangan swah yang baru kusadari itu begitu indah. Ya, meskipun harus ada Syifa di antara kami.
“Jalan-jalan berdua bukan mahram itu gak baik.” Itu perkataan nenek yang harus banget aku turuti.
Lagi-lagi mata kami bertemu sejenak membuat perasaanku tidak karuan. Tatapan mata itu begitu menenangkan.
“Ada, silakan masuk,” aku mempersilakan. Namun Rahman menolak, ia memilih tetap berdiri di teras rumah. Tangannya sibuk menggulung kantong kresek yang berisi kotak dua puluh sentian.
Aku masuk ke dalam, meninggalkan Rahman sendirian hendak mencari kakek dan nenek yang kudengar tadi masih mengobrol di dapur dengan Syifa. Mereka memang terbiasa masak bersama. Sementara aku, karena kau gak bisa masak, aku akan datang ke meja makan hanya saat makanan sudah tersedia.
Nenek dan kakek tidak ada. Aku memanggilnya berkali-kali.
Kemana mereka, bukankah harus melepaskanku pergi ke kota kok malah pergi sih? Bisikku dalam hati.
Aku mencoba mengetuk pintu kamarnya, tidak kutemui. Langkah kakiku membawaku ke halaman belakang rumah. Kakek nenek ada di sana. Rupanya sedang mengambil buah jeruk yang dipanen dari pohon yang ditanam kakek sendiri.
“Adel… Nanti ini bawa ya ke Jakarta. Ayah dan Ibumu sangat suka jeruk dari kebun kakek ini,” ucap kakek. Aku senang sekali melihat jeruk yang begitu segar. Di Jakarta aku harus membelinya dari supermarket. Kini jeruk sesegar ini bisa langsung diambil dari kebun.
“Baik, Kek. Masukkan saja ke koperku. Masih muat kok!” jawabku.
Kali ini aku sengaja meninggalkan banyak baju, dan membawa koper kosong hanya untuk membawa oleh-oleh dari rumah nenek untuk ayah, pasti ia akan seneng banget.
Aku mengupas jeruk dan langsung memakannya. Rasanya manis dan sedikit asam memberi sensasi segar di mulut.
“Kakek memang pandai berkebun!” pujiku pada kekek. Sepasang insan yang sudah usia lanjut itu pun terkekeh mendengar ucapanku.
“Kamu bisa aja. Jam berapa kamu berangkat? Mari ke depan lagi di sini banyak nyamuk!” ajak nenek sambil menggandeng tanganku.
Di sana aku baru sadar kalau niatku mencari kakek itu karena Rahman mencarinya.
“Oh iya, Rahman! Kek, ada Rahman nyariin kakek,” pekikku.
Aku kemudian mempercepat langkah kaki berniat menemui Rahman. Ada sesal yang begitu besar karena aku meninggalkannya sendirian begitu saja. Lagi pula, aku akan sekalian berpamitan padanya dan memberikan beberapa pesan agar kami bisa tetap terhubung meski sudah berjauhan.
Namun kemudian langkah kakiku harus terhenti ketika mendengar samar-samar suara Rahman yang sedang berbincang dengan seseorang.
“Aku hanya pergi sebentar. Selesai semua kegiatan nanti Akang juga akan kembali lagi,” ucap Rahman.
Dengan jarak satu meter dari Rahman Syifa berdiri begitu tenang. Ia hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.
Aku masih memilih berdiri di belakang pintu seraya menahan napas. Ada tekanan aneh di dada yang membuatnya begitu sesak.
Bisa-bisanya mereka ngobrol berdua. Jangan-jangan sudah lama. Pikirku.
“Iya. Semoga semuanya berjalan lancar,” ucap Syifa. Kalimatnya biasa saja, tetapi suara dan nada bicaranya begitu lembut.
Dari balik celah pintu, aku bisa melihat ekspresi Rahman. Ia sempat tersenyum mseki kemudian ia kembali menundukkan pandangan. Ada perasaan tenang karena lelaki incaranku tidak suka main mata dengan perempuan.
Aku bersiap keluar menemui Rahman, kakek dan nenek tiba-tiba muncul di halaman. Menyapa Rahman dengan ramah. Lelaki itu menyalami mereka dengan penuh hormat. Lalu menyerahkan kantong kresep putih kepada nenek.
“Bukannya diajak masuk, Syifa…” ucap nenek kepada sepupuku.
Syifa tidak merespon. Ia tetap memantung di tempatnya.
“Tidak apa-apa, Nek. Saya ke sini hanya ingin pamit. Hari ini saya akan kembali ke Jakarta ada seminar yang harus saya hadiri besok pagi,” jawab Rahman. Lalu ia bersalaman kepada kakek dan nenek lalu mengangguk pada Syifa.
Aku menghela napas panjang dan menyesali keputusan mengapa tetap bersembuyi. Haruskah Rahman ku kejar dan kuajak pulang ke kota bersama? Namun niat itu ku urungkan mengingat aku masih harus bersiap dengan barang-barang yang akan diberikan nenek untuk ayah.
Tapi diam-diam aku berharap jika Rahman tidak langsung berangkat setelah dari sini. Akan aku telefon atau WA nanti. Siapa tahu ia bisa kuajak pulang pergi bersama.
**
Rahman tidak menjawab pesan. Namun hari ini benar-benar hari keberuntunganku. Tidak kusangka kami malah ada di kereta yang sama, gerbong yang sama. Aku membujuk penumpang yang duduk bersebelahan dengan Rahman dan mau bertukar duduk denganku.
Rahman tampak kaget melihatku tiba-tiba ada di hadapannya.
“Kok bisa?” tanyanya masih heran. Ekspresi herannya pun masih sangat lucu dan menggemaskan. Bengongnya aja tampan, bisikku dalam hati.
“Apa yang tidak bisa aku lakukan demi untuk bisa duduk satu kursi dengan aktivis kampus paling terkemuka?” jawabku santai tetapi penuh kesombongan.
“Kamu bisa aja. Saya kira kamu gak akan pulang hari ini,” katanya seraya mempersilahkanku duduk.
“Aku juga gak tahu, kamu akan pulang hari ini,” jawabku sambil menatap wajahnya yang tampan berharap bisa menemukan matanya.
“Allah memang sebaik-baiknya pembuat rencana, Adellia. Siapa sangka kita bisa bertemu di sini kan?” jawabnya.
Aku mengangguk dan memperbaiki posisi duduk. Meski tidak berjilbab, aku memilih untuk menggunakan celana kulot panjang dan kemeja. Ini sebuah keberuntungan bagiku, kalau aku pakai pakaian terbuka, mungkin Rahman akan menolak duduk dekat denganku.
Kereta mulai berjalan. Tidak seperti yang kuharapkan, Rahman malah duduk diam mematung.
“Permen,” kantanya.
Rahman menyerahkan sebuah permen berwarna merah.
“Terima kasih, Rahman.” Aku menerima permen itu. Tanpa sengaja, kulit kami sempat bersentuhan se per sekian detik saja. Membuat dadaku semakin berdebar. Sudah lama aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan Rahman.
Aku membuka permen itu seolah ingin merasakan sensasi manis yang akan menambah manis suasana hatiku saat ini. Terlihat di kemasan permen itu, tertulis kata “I miss you”. Entah mengapa aku membukanya dengan hati yang berbunga, penuh kemenangan. Meskipun berkali-kali aku harus menepisnya kalau itu hanyalah sebuah permen.
Sesaat kemudian Rahman malah sudah sibuk dengan buku di tangannya. Diam-diam aku mengamati ekspresi muka seriusnya yang sedang membaca buku “Hukum, HAM dan Siber” di tangannya. Hidung, garis wajah, rahang, jakun, dan rambutnya begitu indah dilihat dari samping. Aku merasa beruntung bisa melihatnya sedekat itu.
Sayangnya sepanjang perjalanan tidak ada percakapan penting yang berarti antara kami. Kecuali perlindungan Rahman saat aku hampir terjatuh karena berdesakan saat keluar dari kereta. Rahman refleks menyambar tubuhku, dan menahan agar aku tidak terjatuh. Sungguh momen itu tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidup.
Sungguh aku sangat beruntung jika Rahman berjodoh denganku. Aku akan memiliki suami yang bicara dengan aksi bukan dengan kata-kata.
**
Ayah dan ibu menyambutku dengan hangat. Membuka jeruk dan oleh-oleh lainnya dengan semangat lalu berbincang dengan bertanya bagaimana keseharianku selama di desa.
“Tumben ya, Bu. Anak kita betah lama di rumah neneknya. Rupanya anak kita sudah dewasa kali ini,” kata Ayah sambil mengunyah buah jeruk.
“Mungkin ada yang bikin betah di sana. Kayak di film-film FTV itu lho, Yah. Gadis kota bertemu pemuda desa yang tampan lalu jatuh cinta,” goda ibu.
“Ah, itu mah cerita kita…” ucap ayah menimpali. Ibu tersenyum malu-malu.
Aku jadi penasaran bagaimana kisah cinta ibu dan ayah di masa lalu. Apakah aku dan Rahman pun akan seperti itu? Bisikku dalam hati.
“Oh iya, Kakek dan Nenek sudah ngasih bocoran gak sama kamu, Del tentang rencana pernikahan Syifa?” tanya ayah.
Aku terkejut. Mengapa rencana sebesar ini kakek dan nenek tidak memberikan kabar?
“Nikah? Syifa nikah sama siapa?” tanyaku dengan ekspresi yang entah seperti apa.
Ayah dan ibu saling tatap.
“Kasian anak itu, ayah ibunya sudah tiada. Sepertinya kita gak bisa tinggal diam ya kan, Yah?” tanya ibu.
“Iya, kasian dia. Untungnya dia anaknya baik. Gak akan neko-neko kalau nikah. Ayah percaya itu,” jawab ibu yakin.
“Ah, kenapa Syifa gak bilang padahal kami sering ngobrol lho, Yah,” rengek ku kesal.
“Ya… gak apa-apa. Mungkin Syifa dan Rahman sepakat untuk tidak terlalu gembar-gembor rencana dulu,” ucap ayah santai.
Seketika impian menikah dengan lelaki tampan bernama Rahman berantakan di kepalaku. Bayangan adegan Rahman pamit kepada Syifa tayang
kembali seperti film yang sama sekali tak mau kutonton.
**
Selesai
