Malam yang hening sudah biasa kulewati sendirian. Renungan tentang usia merajai di kepala. Meski di luar sana mobil dan motor berlalu-lalang, berisik mengebut dikemudikan seseorang yang entah ingin segera sampai ke rumah, atau mungkin sedang terburu-buru mengantar rindu. Bisa juga mereka sekadar berlari di jalanan, sengaja membuat bising, sekadar memberi tanda bahwa, “malam ini aku lewat di sini.”
Entah mengapa, seramai apa pun malam, ia tetap terasa hening. Tidak ada canda, tidak ada gelak tawa, tidak ada obrolan, tidak ada cakap-cakap yang benar-benar berarti. Aku pun tidak lagi ingat sejak kapan perasaan ini mulai menetap. Terlalu lama, terlalu usang. Ia kadang muncul, lalu tenggelam, namun tak pernah benar-benar pergi.
Hari-hari terasa serupa. Aktivitas yang dijalani itu dan itu lagi. Tidak banyak variasi, tidak banyak kejutan. Waktu berlalu begitu cepat ketika aku tenggelam dalam tugas, tetapi mendadak merangkak pelan ketika malam datang dan aku menunggu pagi dengan mata yang sulit terpejam.
Ah, sepertinya memang tubuhku sudah lelah. Malam yang ramai tetap terasa hening—hening yang justru ramai di kepala. Malam-malam berlalu dalam kebungkaman, ditemani renungan yang tak kunjung usai. Aku memikirkan banyak hal yang telah terlewati: target hidup yang kadang terasa terlalu muluk, cita-cita yang terasa jauh dan sukar diraih, pekerjaan, perlakuan orang lain, dan hal-hal lain yang sering kali tak sanggup kuceritakan kepada siapa pun. Bahkan tak jarang, hati dan logika saling menyalahkan, saling bertubrukan, meninggalkan kekacauan yang sulit dirapikan.
Lalu, apalah arti hidup ini? Bukankah pada akhirnya kita hanya menunggu saat ajal menjemput? Usia pun terus bertambah. Empat atau lima tahun lagi, empat puluh. Bahkan tidak sampai satu bulan lagi, usiaku genap—semakin dekat dengan jumlah usia kebanyakan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun siapa yang bisa menjamin, aku masih hidup esok, lusa, atau bahkan satu jam ke depan?
Ada satu kalimat yang pernah menamparku keras dan memaksaku berpikir lebih dalam: bahwa usia empat puluh adalah titik balik. Jika sebelum empat puluh seseorang terbiasa berbuat baik, maka setelahnya ia akan semakin baik. Namun jika perjalanan menuju empat puluh dihabiskan untuk mengejar dunia semata—senang bermain, nongkrong, keluyuran, dan hura-hura—maka selepas empat puluh, barangkali yang terlihat tak akan jauh berbeda. Tetap seperti itu.
Kupikir, di titik ini aku harus banyak-banyak memohon perlindungan. Agar usia empat puluh yang kerap disebut usia kematangan itu benar-benar menjadi masa perubahan menuju kebaikan. Baik kepada pasangan, baik kepada anak dan keluarga, kepada sanak saudara, kolega, kawan, dan sahabat lama. Namun semua itu sejatinya tak akan berarti apa-apa jika aku belum benar-benar baik kepada Allah SWT.
Usia empat puluh seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat dari kesibukan yang tak bermakna. Lebih banyak tinggal di rumah, lebih dekat dengan ibadah, menyelesaikan tanggung jawab-tanggung jawab yang lama tertumpuk di pundak. Mulai membiasakan diri untuk mengingat kematian, yang bisa saja datang tanpa aba-aba.
Empat puluh adalah titik balik. Sekali lagi, titik balik. Seseorang pernah berkata kepadaku, “Mulailah membangun kebiasaan baik selagi muda. Karena kebiasaan itulah yang kelak akan terlihat di hari tua. Siapa tahu, jika terbiasa menjaga raga sebelum empat puluh, kita masih memiliki tubuh dan jiwa yang kuat di usia senja.”
Dari sana aku sampai pada satu kesimpulan sederhana: apa yang kita usahakan dan lakukan hari ini, akan tercermin pada usia setelah empat puluh nanti.
Ah, entahlah. Mungkin ini hanya renungan yang kerap hinggap di kepala, lalu sewaktu-waktu memuncak berlebihan.
Kadang, puncaknya adalah rasa takut. Takut mati sendirian, tak diketahui banyak orang, dalam sunyi malam tanpa penjagaan. Menahan sakit tanpa berani meminta pertolongan. Menyimpan terlalu banyak keluh kesah di dalam batin karena khawatir merepotkan orang lain. Belum lagi keinginan-keinginan yang terasa terlalu egois untuk diungkapkan.
Maka, aku lebih sering memilih bungkam.
Entah bagaimana akhirnya. Apakah hening-hening ini akan menetap selamanya, atau justru berbuah manis sebelum usia empat puluh benar-benar tiba? Akankah ada sesuatu yang kelak bisa dipetik dari renungan tentang usia yang dirasakan, untuk anak semata wayang yang kubesarkan dengan cucuran keringat, kerja keras, dan kekhawatiran yang sering kali kupikul sendiri, meski tak selalu sanggup?
Entah. Wallahu a‘lam.
