salah satu sudut "dialog" di rumah ternyaman
Rumah kecil di Jl. Abdul Halim No. 37 RT 04 RW 02, Cigugur Tengah, Cimahi, mungkin tampak biasa dari luar. Dindingnya tidak berkilau, pintunya sederhana, dan halaman mungilnya sering dihiasi suara anak-anak yang berangkat sekolah. Namun bagi saya, rumah ini bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah perpustakaan pribadi, ruang kerja, sekaligus ruang dialog yang terus hidup. Di dalamnya, lebih dari seribu buku bersemayam: karya Ajip Rosidi yang penuh kebijaksanaan, Remy Sylado dengan kelincahan kata, Pramoedya Ananta Toer yang mengguncang sejarah, Paulo Coelho yang menyalakan api spiritual, hingga kumpulan puisi dan musik yang menyeberangi batas budaya.
Buku-buku itu bukan benda mati. Mereka adalah sahabat, guru, sekaligus cermin. Setiap kali saya membuka halaman, saya merasa sedang bercakap dengan seseorang yang hadir di ruang ini. Ajip Rosidi seakan duduk di kursi kayu tua, mengingatkan tentang pentingnya bahasa dan tradisi. Pram berdiri di sudut, menatap tajam, mengajak saya berpikir tentang bangsa dan sejarah yang sering terlupakan. Remy Sylado, dengan gaya bohemiannya, kadang seperti bercanda, kadang serius, tapi selalu menyentuh. Dan Paulo Coelho, dengan kalimat-kalimat sederhana, mengajarkan bahwa perjalanan batin sering lebih penting daripada perjalanan fisik.
Rutinitas saya sederhana, tapi penuh makna. Setiap pagi, setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan melepas istri yang berangkat mengajar, saya kembali ke rumah. Pintu saya kunci, bukan untuk menutup diri, melainkan untuk menciptakan ruang tenang. Di meja kecil, secangkir kopi hangat menunggu. Aroma kopi yang baru diseduh selalu menjadi pembuka percakapan dengan diri sendiri. Di depan laptop, saya menulis selintas apa yang saya temukan di jalan: wajah-wajah yang penuh cerita, pepohonan yang bergoyang, atau sekadar percakapan singkat dengan tetangga. Semua itu saya simpan, lalu saya olah menjadi catatan yang kadang berupa esai, kadang berupa memoar, kadang hanya serpihan kalimat yang menunggu dilanjutkan.
Hidup dengan ritme lambat bukan berarti berhenti. Justru di dalam kelambatan itu, saya menemukan kedalaman. Membaca dan menulis menjadi ritual yang tak tergesa. Seperti menyeduh kopi dengan tangan, setiap tetes kata dan kalimat membutuhkan kesabaran. Saya percaya, kehangatan benda-benda lama—buku, meja kayu, kursi tua—lebih bertahan lama daripada kilau barang baru. Mereka menyimpan jejak tangan, pikiran, dan perasaan yang pernah singgah.
Perpustakaan pribadi ini juga menjadi ruang penerbitan kecil yang saya bangun sendiri. Dari sini, saya mencoba menerbitkan karya-karya yang menurut saya layak berbicara kepada dunia. Tidak besar, tidak megah, tapi penuh cinta. Setiap buku yang lahir dari ruang ini adalah hasil dialog panjang antara pikiran, perasaan, dan pengalaman. Saya ingin agar orang lain merasakan kehangatan yang saya rasakan ketika membuka halaman-halaman lama.
Ada saat-saat ketika rumah ini terasa seperti panggung kecil. Anak-anak pulang sekolah, membawa cerita baru. Istri pulang mengajar, membawa semangat dari kelas. Kami duduk bersama, dikelilingi buku, dan berbicara tentang hari yang baru saja berlalu. Rumah ini menjadi tempat berdialog, bukan hanya dengan buku, tapi juga dengan keluarga. Percakapan sederhana tentang tugas sekolah atau rencana akhir pekan terasa sama pentingnya dengan diskusi tentang sastra atau sejarah.
Saya percaya, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang yang menyimpan ritme hidup penghuninya. Di rumah ini, ritme saya adalah membaca, menulis, dan berdialog. Setiap buku adalah pintu menuju dunia lain, setiap catatan adalah jembatan menuju pemahaman baru. Dan setiap pagi, ketika kopi diseduh, saya merasa hidup kembali dimulai dari awal.
Cimahi, dengan jalan-jalan kecilnya, dengan pasar yang ramai, dengan suara motor yang tak pernah berhenti, selalu memberi bahan cerita. Saya menulis bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk merangkulnya. Apa yang saya temukan di jalan—senyum orang asing, hujan yang tiba-tiba turun, atau iklan yang menempel di tiang listrik—semua bisa menjadi bahan refleksi.
Rumah kecil ini, dengan segala kesederhanaannya, adalah perpustakaan hidup. Ia menyimpan lebih dari seribu buku, tapi juga menyimpan lebih dari seribu cerita. Setiap hari, saya menambahkan satu atau dua catatan baru, seperti menanam benih di kebun kecil. Suatu saat, benih itu akan tumbuh menjadi pohon kata, pohon cerita, pohon kenangan.
Dan ketika malam tiba, lampu kecil menyala di sudut ruang. Buku-buku kembali diam, laptop ditutup, kopi tinggal ampas. Saya duduk sejenak, merasakan keheningan. Di dalam keheningan itu, saya tahu bahwa rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah ruang berdialog, ruang belajar, ruang mencintai. Rumah kecil di Cigugur Tengah ini adalah dunia saya—dunia yang perlahan, hangat, dan penuh makna.
