Malam ke-21 Ramadan. Sudut-sudut Masjid Al-Munawar dipenuhi aroma kayu cendana dan gumam zikir yang menyejukkan. Di salah satu tiang belakang, bertumpu pada bantal kecil yang ia bawa dari rumah, duduklah Bayu. Ia datang dengan tekad bulat: i’tikaf menjemput malam Lailatul Qadar mulai dari malam ini. Di depannya, sebuah mushaf terbuka lebar, namun lembarannya belum juga berganti sejak dua jam lalu.
Pandangan Bayu tidak tertuju pada baris-baris ayat suci, melainkan pada benda persegi di genggamannya. Cahaya biru dari layar ponsel memantul di wajahnya yang kuyu. Bukannya melantunkan doa, jempolnya justru bergerak lincah, menekan tombol virtual dengan kecepatan tinggi.
“Satu match lagi. Habis ini baru baca Quran,” gumamnya dalam hati, sebuah janji palsu yang sudah ia ulangi sejak pukul sepuluh malam tadi.
Di telinga Bayu terpasang earphone kecil. Di sana, suara dentuman senjata dan teriakan strategi dari teman-temannya di dunia maya terdengar riuh. Sementara di sekelilingnya, orang-orang sedang bersujud hingga dahi mereka menyentuh dinginnya ubin masjid, merintih memohon ampunan.
Bayu berada di dalam masjid secara fisik, namun jiwanya sedang berkelana di arena pertempuran digital. Ia melakukan “iktikaf” di depan layar ponsel, berdiam diri namun bukan untuk Tuhan, melainkan untuk mengejar peringkat (rank) yang tak akan ia bawa mati.
Saat jam dinding analog di atas mimbar menunjukkan pukul 03.30, Bayu mendongak. Melalui jendela masjid yang besar, ia bisa melihat kerlip lampu dari pusat perbelanjaan di kejauhan yang masih menggelar Midnight Sale. Di sana, orang-orang sibuk berburu diskon kain, sementara di sini, ia justru sibuk membuang waktu untuk permainan.
Ia tersentak saat melihat seorang kakek tua di sampingnya. Sang kakek sudah menutup mushafnya, wajahnya basah oleh air mata, tampak sangat tenang dan “penuh”. Sementara Bayu? Tangannya panas karena ponsel yang bekerja keras, hatinya kosong, dan matanya perih bukan karena tangis tobat, tapi karena radiasi layar.
Ia baru sadar, ia telah melakukan iktikaf setengah hati. Kakinya di masjid, tapi hatinya masih tertinggal di luar sana.
“Bahaya terbesar dalam ibadah bukanlah saat kita diganggu oleh orang lain, melainkan saat kita membawa ‘dunia’ masuk ke dalam saat-saat paling intim dengan Tuhan. Iktikaf bukan tentang berapa lama kita duduk di dalam masjid, tapi tentang seberapa berani kita mematikan segala suara dunia agar bisa mendengar bisikan nurani dan panggilan-Nya.”
(Maaf cerita ini hanya fiktif belaka , kesamaan nama dan tempat adalah ketidaksengajaan belaka untuk menambah kesan dalam cerita)
