Mencari buku lawas di Jakarta dan Bandung bagi saya bukan sekadar perburuan benda, melainkan perjalanan batin. Di basement Blok M Square, saya pernah berjumpa dengan seorang penjual yang menawarkan karya-karya besar: Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, hingga buku yang kini dianggap langka. Ia menyebut harga Cerita dari Blora cetakan Hasta Mitra enam ratus ribu rupiah, sementara edisi pertama Bumi Manusia pernah terjual tiga juta. Angka yang bagi sebagian orang terasa berlebihan, namun bagi kolektor, itu adalah harga sebuah sejarah.
Saya mulai memahami perbedaan antara pembaca dan kolektor. Pembaca mencari isi, kolektor mencari jejak. Buku bukan sekadar teks, melainkan artefak yang menyimpan denyut zaman. Penjual itu, seorang lulusan hukum dari Tangerang, kini berjualan buku ori dan bajakan. Ia mengakui buku bajakan lebih laris, sementara buku asli hanya sedikit yang berani membeli. Ada getir dalam suaranya, seolah ia tahu betul bahwa idealisme sering kalah oleh kebutuhan.

Saya akhirnya membeli Mangan Ora Mangan Kumpul karya Umar Kayam dan Belantik karya Ahmad Tohari dengan harga seratus sepuluh ribu rupiah setelah tawar-menawar. Namun di perjalanan pulang, rasa menyesal muncul. Mengapa saya menawar terlalu rendah? Bukankah seharusnya saya mendukung penjual agar tetap berani menjual buku original? Rasa bersalah itu menempel, seperti noda kecil yang sulit hilang.
Perburuan saya berlanjut ke Bandung. Di kota itu, saya menyusuri toko-toko kecil di gang sempit, mencari aroma kertas tua yang khas. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menemukan buku yang sudah lama hilang dari rak toko besar. Setiap lembar seakan membawa saya kembali ke masa ketika buku adalah jendela utama dunia.
Di tengah pencarian itu, saya teringat ajaran Sunda: silih asah, silih asih, silih asuh. Membaca buku lawas adalah bentuk silih asah—mengasah pikiran dengan hikmah masa lalu. Bertemu penjual yang berjuang di tengah maraknya bajakan adalah silih asih—memberi kasih dan empati pada sesama pencinta buku. Dan membeli, meski sederhana, adalah silih asuh—merawat agar tradisi literasi tetap hidup.

Refleksi ini semakin kuat ketika saya menemukan karya Ajip Rosidi. Dalam bukunya, Ajip menekankan pentingnya menjaga tradisi lisan dan tulisan sebagai bagian dari identitas bangsa. Ia pernah menulis bahwa “bahasa dan sastra adalah cermin jiwa masyarakat.” Membaca kembali kata-kata itu, saya merasa pencarian buku lawas adalah bagian dari menjaga cermin itu agar tidak pecah. Buku-buku tua bukan sekadar bacaan, melainkan pengingat bahwa kita pernah berpikir, menulis, dan bermimpi dengan bahasa sendiri.
Kadang saya berandai-andai: seandainya saya kaya raya, saya ingin membeli semua buku yang dijajakan penjual itu. Bukan untuk menimbun, melainkan untuk memastikan buku-buku ori tetap hidup, tetap beredar, tetap dibaca. Dunia literasi membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar nostalgia.
Kini, setiap kali saya membuka lembaran buku tua, saya merasakan keheningan yang berbeda. Ada suara samar dari masa lalu, ada jejak tangan yang pernah membalik halaman, ada aroma waktu yang tak bisa dipalsukan. Mencari buku lawas di Jakarta dan Bandung telah menjadi bagian dari memoar pribadi saya: sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa membaca bukan hanya soal isi, melainkan juga soal menghargai sejarah, kasih, dan asuhan yang melekat pada fisik buku itu sendiri.
Cimahi, 2026
