VII. Mimpi Baru di Amerika
Tahun 1939. Kapal SS President Hoover menembus kabut pelabuhan New York. Dari dek kelas dua, seorang wanita berwajah khas Jawa berdiri memeluk koper lusuh dan mengenakan kebaya tipis. Dialah Devi Dja, penari dari Timur yang datang tanpa undangan, tetapi dengan keyakinan bahwa dunia akan menyimak tariannya.
Amerika tidak tahu siapa dia. Tidak ada red carpet, tidak ada sambutan pers. Tapi di dalam dirinya, Devi menyimpan satu hal yang tak bisa dibungkam: semangat untuk memperkenalkan Indonesia yang belum dikenal. Ia mulai dari nol—menyewa kamar kecil di Harlem, menawarkan diri ke klub seni, universitas, dan komunitas budaya agar bisa menampilkan tari Jawa dan Bali.
Pada awalnya, penonton Amerika bingung: gerakan tangannya terlalu lambat, kostumnya terlalu asing. Namun, dalam setiap penampilan, Devi menjelaskan makna di balik tiap gerakan. Bahwa gerakan lemah lembut bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang menenangkan. Bahwa dalam alunan gamelan, terdapat filosofi hidup.
Lambat laun, ia mulai dilirik. Pertunjukan di Columbia University membawanya ke artikel lokal yang menyebutnya “Messenger from Java.” Ia tampil di acara komunitas Asia, dalam pertunjukan amal, bahkan di pertemuan UNESCO. Dalam setiap kesempatan, ia tetap mengenakan kain batik dan sanggul khas, menolak “Westernisasi” dalam penampilannya.
Namun, perjalanan itu tak mudah. Ia mengalami diskriminasi, kesulitan finansial, dan rasa kehilangan yang tak berhenti. Ia menulis surat kepada ibunya di Klaten: “Aku tidak lagi menari di panggung besar, tapi setiap kali aku melangkah di aula kecil, aku merasa tanah Jawa ikut hadir bersamaku.”
Suatu hari, di sebuah acara pertunjukan budaya internasional, ia tampil di depan delegasi dari berbagai negara. Setelah pertunjukan, seorang diplomat Amerika berkata, “You’re not just a dancer. You’re a cultural bridge.” Kalimat itu menjadi pengakuan awal bahwa ia bukan sekadar artis, tetapi seorang duta budaya.
Devi mulai mengajar tari di komunitas lokal, membentuk grup kecil bernama “Indonesian Dance Society”, dan tampil di berbagai negara bagian. Ia menjadi wajah Indonesia sebelum republik itu diakui dunia. Bahkan, saat proklamasi kemerdekaan 1945 berlangsung, Devi ikut merayakannya dari kejauhan dengan pertunjukan khusus yang ia beri judul “Kelahiran Tanah Airku.”
**
Bersambung ke bagian VIII
Jangan lupa baca bagian VI di sini
