VI. Tersesat di Bombay
Bombay, 1938. Kota yang gemerlap di siang hari dan gaduh di malam hari. Di sudut jalanan penuh warna, bau pedas kari bercampur dengan aroma bensin dan peluh manusia. Di balik deretan bangunan kolonial, rombongan Dardanella beristirahat di penginapan murah yang sempit dan panas. Di antara mereka, Devi Dja duduk termenung, memegang buku catatannya dengan halaman kosong—tak ada kata yang sanggup ditulis hari itu.
Rombongan sandiwara yang selama ini menjadi rumah dan panggungnya kini mulai retak. Konflik internal muncul, salah urus dana dan ketegangan emosional menggerogoti kebersamaan. Willy Piedro tampak lelah, jiwanya mulai terkikis. Ia sering berselisih dengan produser lokal, dan masa depan Dardanella menjadi bayangan yang samar.
Devi, yang semula hanya menari dan bernyanyi, kini ikut mengatur kostum, mencari tempat latihan, bahkan meminjam uang kepada penyelenggara pertunjukan agar grup bisa tampil. Ia tak lagi sekadar penari—ia menjadi pemelihara api terakhir dari panggung yang hampir padam.
Suatu sore, saat hujan mengguyur Bombay tanpa henti, Devi berjalan sendirian di jalanan kota tua menuju bioskop tua tempat grupnya akan tampil. Di bawah payung rusak, ia merasakan sesuatu yang asing: kesepian yang tidak berasal dari jarak, melainkan dari kehilangan arah. Ia mulai bertanya: apakah panggung masih menjadi rumahnya? Apakah seni masih layak diperjuangkan ketika harus menyaksikan orang-orang terdekatnya menyerah satu per satu?
Di malam yang sama, pertunjukan tetap digelar. Devi tampil dalam lakon monolog tentang wanita desa yang kehilangan anaknya. Ia berdiri di atas panggung basah karena atap bocor, suara hujan bersaing dengan suaranya. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah, pesonanya mencapai puncak. Penonton menangis, beberapa berdiri dan bertepuk tangan dalam diam. Seorang jurnalis lokal menulis: “Di kota yang kehilangan cerita, Devi Dja menari seperti puisi yang bertahan di tengah badai.”
Namun, setelah pertunjukan itu, rombongan resmi bubar. Beberapa anggota pulang ke Indonesia, sebagian menetap di India, dan yang lain memilih jalan masing-masing. Devi sendiri menolak pulang. Ia tahu, jika ia kembali ke tanah air saat itu, ia akan kembali menjadi Misri. Ia ingin menemukan Devi Dja yang sesungguhnya, di luar bayang-bayang panggung lama.
Ia tinggal beberapa bulan di Bombay, menari di acara kebudayaan, belajar bahasa Inggris dari buku bekas, dan mulai menjalin kontak dengan seniman internasional. Di sebuah pesta kecil komunitas ekspatriat, Devi bertemu seorang penari Amerika yang mengatakan, “Jika kau bisa membuat orang India menangis dengan bahasa mereka sendiri, dunia Barat harus melihatmu.”
Kata-kata itu menjadi titik balik. Devi mulai mempersiapkan dirinya ke Amerika. Ia menulis surat kepada Willy, yang sudah berada di Eropa, dan menyatakan niatnya: “Saya tidak akan kembali, tetapi saya juga tidak akan hilang. Saya akan menari di negeri yang bahkan tidak mengenal batik. Dan saya akan membuat mereka mengenalnya.”
Perjalanan tak mudah. Ia harus mencari dana sendiri, menjual barang pribadinya, dan meminjam kepada kenalan seniman. Tapi tekadnya tak tergoyahkan. Ketika kapal menuju New York mulai berlabuh di pelabuhan Madras, Devi berdiri di dek, mengenakan kain kebaya tua yang pernah ia pakai saat pertunjukan pertamanya sebagai Soekaesih.
Di bawah langit India, ia menatap laut dan berbisik, “Jika mimpi bisa tenggelam, maka aku akan menjadi perahu yang terus mengapung. Aku belum selesai.”
**
Bersambung ke bagian VII
Jangan lupa baca bagian V di sini
