III. Dardanella: Panggung yang Menyala
Suara genderang bergema di ruang pertunjukan kecil di pinggiran kota Semarang. Lampu-lampu mulai dinyalakan, bayangan para aktor dan penari saling berlarian di belakang panggung, dan bau bedak panggung bercampur dengan asap rokok tipis yang menyelimuti udara. Devi Dja—nama baru yang belum sepenuhnya menyatu dalam dirinya—berdiri di depan cermin besar. Ia memandangi wajahnya, mencoba mengenali siapa dirinya kini.
Bergabung dengan Dardanella bukanlah sekadar pindah tempat atau profesi. Itu adalah perpindahan dunia. Dardanella bukan grup sandiwara biasa. Mereka terkenal karena pertunjukan yang flamboyan, lakon yang memadukan modern dan tradisional, dan pemain-pemain yang punya karisma seperti bintang film.
Setiap hari adalah latihan. Dari fajar hingga senja, Devi belajar dari para seniman senior. Ia tak hanya berlatih menari dan bernyanyi, tapi juga diajari bagaimana membaca emosi dari gerakan kecil, bagaimana mengatur napas saat berdialog, dan bagaimana menangkap perhatian penonton sejak langkah pertama di atas panggung.
Namun, dunia teater juga menyimpan panas yang tak terlihat dari panggung. Persaingan di belakang layar seperti arus bawah laut—tenang di permukaan, namun bisa menenggelamkan siapa saja yang lengah. Aktris utama waktu itu, Yuli Mahasari, memandang sinis ke arah Devi.
“Penonton mungkin terpesona oleh wajah polosmu, tapi panggung ini butuh lebih dari itu,” katanya di satu malam latihan.
Devi tak menjawab. Ia menyimpan luka itu dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk berlatih lebih keras. Ia belajar teknik pernapasan dari pemain laki-laki yang lebih tua, mendalami dialog dari naskah lama Belanda, dan memperhatikan cara bintang-bintang panggung menyapa penonton dengan tatapan, bukan kata-kata.
Willy Piedro terus mengamati dengan diam. Ia tahu bahwa panggung punya hukum alamnya sendiri—hanya mereka yang berdarah seni dan berani melawan gelombang yang akan bertahan.
Suatu hari, Dardanella bersiap menggelar lakon “Dokter Syamsi”, kisah dramatis tentang dokter muda dan gadis bangsawan bernama Soekaesih. Saat Yuli tiba-tiba jatuh sakit dan tidak bisa tampil, panik menyelimuti tim produksi. Tak ada pengganti. Tak ada waktu. Willy mengambil keputusan kilat—Devi akan naik panggung sebagai Soekaesih.
Suara protes berdengung. “Dia belum siap!” “Peran ini terlalu kompleks untuk anak baru!”
Tapi waktu tak menunggu. Malam itu, Devi mengenakan kostum yang masih sedikit longgar dan berjalan ke atas panggung dengan jantung yang berdetak seperti drum perang.
Tirai terbuka. Lampu sorot menyoroti wajahnya. Penonton diam. Dan Devi mulai berbicara: “Hati seorang perempuan bukan benda untuk dipotong dan diteliti. Ia harus dipahami, seperti puisi tanpa rima.”
Suara itu tidak hanya terdengar, tapi dirasakan. Penonton tenggelam dalam lakon. Mereka tidak lagi melihat Devi sebagai pengganti—mereka melihat Devi sebagai Soekaesih.
Setelah pertunjukan usai, tepuk tangan bergema lama. Devi Dja telah menyalakan api panggung. Dan dari malam itulah, ia menjadi salah satu nama paling diperhitungkan dalam dunia sandiwara Nusantara.
____
Bersambung …
Jangan lupa baca bagian I (klik di sini) dan bagian II (klik di sini).
