V. Jejak di Negeri Orang
Malam di pelabuhan Singapura terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya di Jawa. Cahaya lampu terlihat lebih tajam, udara mengandung aroma rempah dan laut, serta suara dari berbagai bahasa bertemu dalam harmoni asing. Rombongan Dardanella tiba dengan harapan besar dan perasaan gamang. Di antara mereka, Devi Dja berjalan dengan langkah kecil, membawa koper rotan berisi kostum dan kain batik peninggalan neneknya.
Tur Dardanella bukan sekadar pentas keliling. Ini adalah petualangan budaya yang membawa sandiwara Indonesia ke panggung dunia. Dari Singapura, perjalanan berlanjut ke Bangkok, Rangoon, Calcutta, Bombay, dan terus meluas. Bagi Devi, setiap kota adalah panggung baru, setiap penonton adalah tantangan untuk menyampaikan rasa dalam gerak dan kata.
Namun, hidup di luar negeri tak selalu gemerlap. Rombongan sering menghadapi masalah: biaya transportasi yang membengkak, perbedaan budaya yang rumit, dan ketidakpastian waktu tampil. Dalam satu momen di India, panggung dibatalkan karena kerusuhan lokal. Para pemain terpaksa tinggal di penginapan murah, berbagi nasi dengan air sebagai lauk. Tapi Devi tak mengeluh. Ia menari di lorong penginapan, menghibur pemain lain, dan menyulap kesusahan menjadi latihan seni.
Ketika tampil di Bombay, Devi menarik perhatian media lokal. Mereka menyebutnya “penari eksotis dari Timur” dan mengibaratkan gerakannya seperti air yang mengalir melewati batu-batu—lembut tapi tak terbendung. Tawaran mulai datang, termasuk undangan dari kelompok teater India dan komunitas seni Turki. Willy Piedro membaca peluang: Dardanella bisa menjelajah ke Timur Tengah dan Eropa.
Perjalanan berlanjut ke Istanbul dan Ankara, menampilkan lakon-lakon bergaya campuran, dari cerita rakyat Jawa hingga kisah universal tentang cinta dan pengorbanan. Penonton Turki terpesona oleh suara dan gerak Devi. Salah satu penonton yang merupakan pejabat budaya menyebutnya sebagai “Putri Nusantara yang menari dengan jiwa seorang penyair.”
Di tengah kesuksesan ini, Devi mulai merasakan kehampaan pribadi. Ia jauh dari tanah air, tak bisa mengirim kabar kepada keluarganya di Besuki, dan semakin tenggelam dalam dunia yang berubah cepat. Ketika rombongan berlayar menuju Maroko, ia mulai menulis jurnal kecil—berisi puisi, mimpi, dan kenangan masa kecilnya. Halaman-halaman itu menjadi tempat ia menyandarkan diri saat merasa kehilangan arah.
Dardanella akhirnya tiba di Jerman, kota dengan teater megah dan penonton yang disiplin. Di sana, Devi menghadapi tantangan terbesar: tampil dalam lakon berbahasa Inggris. Ia belajar keras, dibantu rekan-rekannya, dan akhirnya tampil dalam lakon adaptasi Shakespeare—peran kecil tapi penuh makna. Ia berkata dalam bahasa asing: “All the world’s a stage…” dan para penonton berdiri memberi tepuk tangan.
Namun, badai tak lama kemudian datang. Dardanella mengalami krisis keuangan besar. Beberapa anggota memilih pulang, yang lain mencari kerja di luar rombongan. Willy memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat, berharap bisa membangun sesuatu yang baru. Devi dihadapkan pada pilihan: pulang ke kampung halaman dengan semua kenangan, atau mengikuti mimpi ke negeri yang jauh dan asing.
Di pelabuhan Hamburg, di bawah langit kelabu dan angin dingin, Devi memandang kapal yang akan membawanya menyeberang Samudra Atlantik. Ia menggenggam lembar jurnalnya, dan dengan suara pelan, berkata pada dirinya sendiri:
“Jika panggung adalah rumahku, maka dunia adalah lantai tempat aku menari.”
___
Bersambung ke bagian VI. Jangan lupa baca kisah Devi Dja sebelumnya.
