Ilustrasi gambar: Homeu/Unsplash
Waktu pergi ke Surabaya beberapa hari yang lalu saya bawa buku kecil berjudul: MELAWAN DENGAN RESTORAN karya Sobron Aidit. Selain ringan, bukunya pun kecil. Jujur, saya sedang rindu tulisan Sobron. Akhirnya saya selipkan di tas pinggang. Dari buku ini saya belajar untuk melawan dengan optimis apapun yang dihadapi dalam kehidupan.
Buku ini ringan secara fisik, kecil dan tipis, sehingga enak untuk dibaca di bus atau kereta. Namun perlu sedikit konsentrasi untuk mengikuti cerita di dalamnya. Alur yang melompat-lompat serta paparan yang begitu detail terkadang memerlukan waktu untuk membayangkannya.
Terlepas dari semuanya, inilah realita. Sobron Aidit telah tiada. Perjuangan ideologi terus berjalan. Restoran Indonesia masih tetap ada. 22 tahun telah terlewati, entah sampai kapan.
Kenangan Merintis Usaha Kecil
Saya jadi teringat pada kisah perjalanan hidup saya. Ketika merintis usaha kecil menjadi pedagang goreng ayam tulang lunak.
Sekitar tahun 2011 saya ditelepon oleh istriku, mengabarkan bahwa ia positif hamil. Saya sedang berada di kota Pangandaran, jualan tahu bulat keliling.
Sambil jualan tahu bulat, sambil ngajar komputer. Di tempat kursus keponakan saya, Abu Auliya Mumtaza. Hari Minggu ngelatih teater pada anak-anak SMP 1 Pangandaran. Ya sebisa mungkin ngatur waktunya.
Waktu ditelepon istri saya, senang sekali. Keponakanku bilang, “aduh mau jadi bapa..”
Kecemasan yang Menghantui
Ketika sudah di rumah, kalau malam saya suka merenung. Gelisah. Mulai was-was akan masa depan rumah tangga.Apabila punya anak, biaya hidup akan besar. Bagaimana biaya bersalin, biaya sekolah kalau sudah besar, dan lain-lain. Mulai jiwa saya diterkam kecemasan tiada berkesudahan. Waktu itu istri saya belum diterima jadi PNS.
Tiap hari saya nyari tempat untuk usaha, semisal Alfamart, Yomart, Indomaret untuk disewa tempatnya. Dari Cimahi sampai Ujungberung tidak dapat tempat yang kosong. Capek rasanya. Pusing tujuh keliling.
Karena hidup dari pameran buku ada batasnya. Tidak tiap bulan pameran. Satu tahun dua kali yang saya ikuti. Selain itu banyak penerbit gulung tikar karena krismon. Berpengaruh juga kepada EO di luar IKAPI, seperti Kibar Production yang suka keliling kota di Jawa.
Munculnya Ide Ayam Tulang Lunak
Suatu hari saya mampir beli ayam tulang lunak di By Pass Cibeureum, punya si Engko. Sering saya tanya-tanya bagaimana modal usaha ini. Mulai muncul ide ingin jualan ayam goreng tulang lunak. Tapi di mana tempatnya? Bingung juga. Namun tidak ada pilihan lain, semua kesulitan ini harus dilewati. Saya harus melawan dengan optimis.
Saya dapat kabar dari istri bahwa di Jalan Sentral ada Yomart dengan halaman luas, bisa disewa.
Akhirnya saya menyewa tempat seharga 500 ribu per bulan. Saya kalang kabut cari modal. Beli etalase 1,5 juta, beli peralatan masak. Kalau tak salah pernah pinjam uang ke Pak Teddi Muhtadin 1 juta untuk nambah modal usaha.
Setelah terkumpul, baru derr usaha. Saya kabar-kabari kawan di FB, seperti Pak Iwan Ardhie Priyana dan kawan-kawan di grup BMK, juga teman istri di tempat kerja terapis.
Lumayan, jualan ayam laku karena daerah Sentral strategis. Bahkan punya langganan tetap, tiap hari beli 5 porsi. Perut istri saya pun mulai membesar. Hehe! Alhamdulillah, bisa usaha sendiri.
Cobaan Datang Bertubi-tubi
Dasar sial! Ada saja panjang kokod. Etalase saya diobrak-abrik. Entah siapa. Isinya peralatan masak habis dicuri. Saya tidak bisa jualan lagi karena belum punya modal. Kerugian sekitar 1,5 juta. Istriku sampai menangis.
Menangis bukan karena kehilangan barang, tapi sedih karena kehidupan kami morat-marit. Belum bayar kosan, listrik, iuran sampah. Akhirnya saya nganggur lagi. Sampai melamar kerja ke kantor-kantor penerbit.
Dalam perjalanan pulang ke daerah Tamansari, istriku menelepon—sudah pembukaan 5, mau melahirkan. Saya cepat-cepat pulang. Betul saja, istriku sudah di rumah bidan, ditangani bidan cantik.
Pas saya datang, langsung saya peluk istriku. Istriku melelehkan air mata. Saya lelaki, katanya tak boleh menangis. Tapi saya tak kuasa juga meneteskan air mata. Di sini kami tak punya sanak saudara. Hanya saya dan istriku. Jadi ketika melahirkan, sampai selamat, hanya berdua ditangani bidan.
Pinjam uang untuk biaya bersalin pun sulit. Akhirnya ada kiriman dari bapak angkat, meski datang sebulan kemudian, sebesar 500 ribu.
Bangkit Pelan-Pelan
Pernah juga pinjam uang lagi ke Pak Teddi Muhtadin lewat SMS. Tapi sebelum itu cair, datang Pak Erwan Juhara menawarkan kerja sebagai koordinator acara di Islamic Book Fair. Honor 1,5 juta.
Pas mau buka usaha lagi, keburu repot ngurus anak pertama.
Akhirnya istriku lulus prajabatan PNS. Istriku sibuk, saya ngasuh anak. Sambil terus berpikir, usaha apa lagi.
Terjun ke Dunia Percetakan
Jreng… jreng… jreng…. Akhirnya saya terjun ke dunia percetakan. Alhamdulillah, hidup kami mulai bercahaya.
Beberapa kali pindah rumah. Jual rumah, beli lagi, jual lagi. Sampai etalase pun saya jual ke orang Bekasi 500 ribu, karena berat dibawa pindah-pindah.
Usaha percetakan mulai menampakkan jati dirinya. Dengan modal “ketulusan”, bagi yang ingin maju dalam dunia menulis, serahkan pada saya. Karya Anda akan maju bersama Tulus Pustaka. Aamiin. Hasil karya Tulus Pustaka alhamdulillah sudah melanglang buana.
Terima Kasih untuk Kawan-Kawan
Terima kasih kepada kawanku: Pak Agung Brawida dari Bali, Hamzah Usep dari Swiss, Kang Sigit Susanto pendorong semangat, Pak Imam Mudrika yang baik hati, Teh Rheiz Ag selalu manis menyapaku, Kang Dani selalu berehan, Pak Teddi selalu darehdeh, Teh Lies Tjandra Kancana I selalu sabar menghadapi kecerewetanku. Hehe.
Juga kawan-kawan di Ultimus, tempat ngenet gratis. Dan semua kawan yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
________
Terima kasih sudah membaca. Temukan tulisan menarik lainnya di https://ruangpena.id/
