Pagi ini, langit baru saja merekah semburat jingga, namun beban di pundak terasa begitu pekat. Waktu, yang biasanya berdetak tenang, tiba-tiba berubah menjadi teka-teki pelik yang harus segera dipecah.
Di satu sisi, ada anak perempuan saya yang harus segera berangkat pukul enam ke rumah sakit untuk menjalani transfusi darah. Setiap tetesnya adalah doa untuk kekuatannya. Di sudut lain, anak laki-laki saya terbaring demam. Malam tiba ia diserang mimisan hebat, meninggalkan bekas kekhawatiran di wajahnya yang pucat. Ia butuh kehangatan dan jaminan bahwa ibunya ada di sampingnya.
Dan kemudian, ada diri saya sendiri, terombang-ambing antara kewajiban dan janji. Ada sebuah seminar di AWC yang telah lama dinanti, sebuah kesempatan untuk mengisi kembali semangat dan wawasan. Namun, bisakah hati pergi dengan tenang ketika dua buah hati membutuhkan?
Pilihan ini terasa seperti memilih nadi yang mana untuk terus berdenyut. Seminar adalah investasi untuk masa depan, tetapi senyum dan pelukan mereka adalah napas untuk hari ini. Mungkin, jawabannya telah diberikan oleh tangisan lemah anak laki-laki dan ketabahan anak perempuan. Mereka adalah prioritas yang tak perlu dipertanyakan.
Hari ini, saya memilih untuk hadir sepenuhnya. Untuk mereka. Seminar bisa dicari lagi, tetapi momen menjadi benteng bagi keluarga tidak akan terulang. Kadang, keputusan terbesar justru lahir dari keheningan rumah sakit dan ruang dan waktu bersama keluarga.
