Malam ini, hujan turun sejak magrib. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat jendela berembun dan suara tikus di loteng berhenti sejenak. Di sudut rumah, ibu sedang menidurkan adikmu yang merengek karena tak jadi main hujan. Kamu sendiri masih tertidur sejak sore, mungkin kelelahan setelah transfusi kemarin.
Aku duduk sendiri di meja kecil, membuka buku catatan ini. Entah kenapa, malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Seperti ada yang tertahan di dada, seperti ada air yang hendak tumpah tapi tak tahu lewat saluran mana. Mungkin ini saat yang tepat untuk menuliskan hal-hal yang selama ini kutahan.
Kanya, tahukah kamu? Ayah sering takut.
Bukan takut akan kematian, bukan takut akan kesulitan hidup. Tapi takut …, jika suatu hari aku tak lagi mampu membiayai transfusimu.
Setiap bulan, rumah sakit meminta hal yang sama: surat rujukan, hasil lab, dan tentu saja, biaya yang tidak selalu kecil. Kadang, kami bisa menutupinya. Kadang, harus menunggu pembayaran dari klien yang entah kapan cair. Kadang, ayah harus meminjam. Dan dalam banyak kesempatan, kami hanya bisa berdoa agar semuanya cukup—meski seringnya mepet.
Ada malam-malam ketika aku memandangi lembar rekening dan mencoba menghitung dengan jari, lalu sadar bahwa angka-angka itu tidak bohong: kami sedang benar-benar kekurangan. Dan saat itu datang, aku menatap langit-langit rumah, menggigit bibir, dan bertanya dalam hati: “Kalau bulan depan tidak ada yang bisa dicairkan, bagaimana? Kalau kamu butuh transfusi dan aku tak punya cukup uang, aku harus bagaimana?”
Rasanya seperti menggenggam bara. Panas, tapi tak bisa dilepas. Sakit, tapi harus tetap digenggam karena ini satu-satunya yang kupunya—tanggung jawab sebagai ayahmu.
Tapi di tengah ketakutan itu, selalu saja ada harapan yang datang seperti bisikan halus: “Selama napas masih ada, kamu bisa berjuang.” Dan aku percaya itu, Nak. Percaya penuh, meski terkadang mataku basah di tengah malam.
Aku tak ingin kamu tumbuh dengan rasa khawatir. Aku ingin kamu tahu bahwa cinta orang tua bukan hanya soal pelukan dan senyuman, tapi juga tentang keringat yang tidak terlihat, tentang doa yang dibisikkan saat kamu tertidur, tentang air mata yang tidak jatuh agar tidak membuatmu sedih.
Setiap pagi, ketika kamu bangun dan tersenyum padaku, semua rasa takut itu menguap sejenak. Seperti kabut yang perlahan hilang ketika matahari datang. Senyummu adalah penyemangat paling tulus yang pernah aku temui.
Dan harapan itu tidak hanya tumbuh karena kamu. Tapi juga karena ibu.
Ibumu, seperti biasa, tak pernah panik. Ia selalu punya cara untuk menenangkan kami. Ketika uang tinggal tiga puluh ribu, ia bilang, “Masih bisa beli tempe, kok. Kita bikin orek, tambah nasi panas juga enak.” Ketika kamu rewel karena lelah pasca transfusi, ia mengelus rambutmu dan menyanyikan lagu yang selalu membuatmu tertidur.
Dia tidak pernah mengeluh, meski jelas ia juga lelah. Ibumu adalah alasan kenapa aku masih bisa bertahan tanpa menjadi marah pada dunia. Dalam diamnya, ia adalah tiang rumah ini.
Dan adikmu …, meski masih kecil dan belum mengerti sepenuhnya apa yang sedang kita hadapi, dia juga menjadi penghibur dalam kekacauan. “Nanti kalau aku besar, aku mau kerja biar bisa beli darah buat Kak Kanya,” katanya suatu sore. Kalimat itu mungkin terdengar lucu dan polos, tapi bagi ayah …, itu seperti janji kecil dari kehidupan bahwa kamu tidak akan sendiri.
Kanya, hidup kita mungkin tak selalu baik, tapi Tuhan selalu baik. Dan itulah yang ayah pegang.
Aku tahu kamu mulai besar dan mulai menyadari hal-hal di sekitar. Kamu kadang menatap kami dalam diam, seolah membaca apa yang sedang kami sembunyikan. Tapi jangan pernah salah sangka, Nak. Kami tidak sedang menyembunyikan masalah darimu. Kami hanya ingin kamu menjalani masa kecilmu dengan ringan. Dengan bermain, belajar, tertawa, dan bermimpi.
Masalah biarlah ayah dan ibu yang tanggung.
Kamu cukup jadi dirimu sendiri: anak yang kuat, yang senyumannya menenangkan, yang sakitnya tidak pernah menghapus semangatnya untuk menggambar dan menulis mimpi-mimpinya di balik kertas.
Dan jika suatu hari nanti kamu membaca halaman ini, mungkin ketika usiamu sudah jauh dari hari ini, aku ingin kamu tahu satu hal:
Ayah tidak pernah takut miskin. Ayah hanya takut tidak cukup memberi untukmu. Tapi selama darah masih mengalir dalam tubuh ayah, dan tangan ini masih bisa mengetik dan mencetak buku, aku akan terus berjuang.
Karena cintaku padamu tidak bisa diukur dengan angka di rekening, atau jumlah buku yang terjual, atau jarak yang ditempuh motor tua kita.
Cinta ini hanya bisa dirasakan—dan dicatat—dalam halaman-halaman seperti ini.
Dengan seluruh cinta dan keberanian yang kupunya,
Ayahmu.
