Didin Tulus (penulis) berfoto bersama Dato' Kemala
Hanya ada satu buku Ajip yang membahas Arena Wati, sastrawan besar Malaysia, tetapi Dato’ Kemala tidak pernah disebut.
Tidak semua cerita penting harus terekam dalam buku, seperti yang sering saya renungkan ketika membaca karya Ajip Rosidi. Karya-karya Ajip penuh dengan kekayaan budaya dan tradisi Sunda, menggali sejarah dan sastra yang memantapkan posisinya sebagai salah satu tokoh terkemuka sastra Indonesia. Namun, dalam buku-bukunya, jarang sekali saya menemukan jejak pertemuan Ajip dengan sastrawan-sastrawan besar di seberang, seperti Dato’ Kemala, pujangga terhormat dari Malaysia. Hanya ada satu buku Ajip yang membahas Arena Wati, sastrawan besar Malaysia, tetapi Dato’ Kemala tidak pernah disebut.
Inilah yang membuat kenangan saya akan percakapan dengan Dato’ Kemala terasa begitu istimewa. Sebuah jalinan memori yang mengisi kekosongan di antara halaman-halaman yang tidak pernah ditulis. Saya ingat dengan jelas hari ketika saya duduk di sebuah kafe kecil, jantung Johor yang berdenyut perlahan, bercakap-cakap dengan Dato’. Waktu itu, matahari memercikkan cahaya keemasan di jalanan, dan obrolan kami mengalir seperti arus sungai, penuh cerita dan kilasan kenangan yang menghangatkan hati.
Dato’ Kemala adalah seorang penyair yang tak hanya mahir merangkai kata, tetapi juga penuh rasa hormat dan penghargaan terhadap sastrawan-sastrawan Indonesia. Di dalam kumpulan esainya, sering saya temukan nama-nama besar yang sudah mengukir sejarah sastra Indonesia: WS. Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, Ajip Rosidi, dan banyak lagi. Bagi Dato’, nama-nama ini tidak sekadar catatan dalam sebuah kanon sastra, tetapi sosok-sosok nyata yang pernah ia jumpai, tokoh-tokoh yang kisah hidup dan karya-karyanya telah menyeberangi batas negara, melampaui perbedaan budaya.
Dalam perjalanan di mobil, Dato’ bercerita tentang pertemuannya dengan Ajip Rosidi. Saya masih ingat bagaimana matanya berbinar saat mengisahkan pertemuan itu. “Di Jakarta,” katanya, “Ajip adalah sosok yang sangat menginspirasi.” Ada nada kagum dalam suaranya, sebuah penghormatan yang datang dari kedalaman hati. Ajip bukan sekadar seorang penulis, tapi seorang pemelihara budaya yang konsisten memperjuangkan tradisi dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Bagi Dato’ Kemala, hal ini adalah warisan berharga, sebuah keistimewaan yang layak dikenang dan dipelajari.
Obrolan itu, dalam berbagai aspek, memperkaya pandangan saya tentang betapa sastrawan-sastrawan besar seperti Ajip Rosidi dan Dato’ Kemala tidak hanya mewariskan kata-kata, tetapi juga persahabatan lintas budaya yang mempererat ikatan dua bangsa. Bagi saya, percakapan dengan Dato’ terasa seperti membuka lembaran baru dalam memahami sejarah sastra Melayu-Nusantara, sebuah dunia yang penuh dengan pertemuan-pertemuan berarti, yang tak semuanya tertulis tetapi tetap hidup dalam ingatan.
Sambil menikmati secangkir kopi, saya mendengar Dato’ berbicara tentang WS. Rendra. “Penyair yang energik, penuh gairah,” ucapnya. Lalu, dia berbicara tentang Sapardi Djoko Damono, dan matanya sedikit berkabut. “Sapardi itu lirih,” katanya pelan, “seperti hujan yang turun diam-diam, tapi meninggalkan jejak di hati.” Saya bisa merasakan bahwa bagi Dato’, setiap sastrawan Indonesia yang ia kenal memiliki tempat tersendiri dalam hatinya, seperti titik-titik cahaya yang membentuk konstelasi sastra, saling berhubungan dalam jalinan yang kuat.
Dalam foto yang saya simpan, saya berdiri di samping Dato’ Kemala di Johor. Wajahnya berseri-seri, dan senyum saya memantulkan rasa syukur karena memiliki kesempatan untuk mengenal tokoh besar seperti dia. Foto itu adalah selembar kenangan, tetapi setiap kali saya melihatnya, ingatan akan perbincangan kami kembali terngiang di benak saya. Perbincangan tentang Ajip Rosidi, tentang karya-karya yang tak tertulis tetapi selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang mengagumi dan mencintai sastra.
Di dunia sastra, terkadang yang tidak tertulis justru memiliki makna paling dalam. Ajip Rosidi mungkin tidak pernah secara khusus mencatat pertemuannya dengan Dato’ Kemala, tetapi kehadiran dan pengaruh mereka terasa di antara orang.
