Sajak berjudul “Jarak” yang ditulis Ajip Rosidi dan dimuat dalam buku Sajak-Sajak Anak Matahari – Dua Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, hlm. 17) merupakan salah satu karya yang menyingkap kedalaman religiusitas penyair Sunda ini. Ajip, yang dikenal bukan hanya sebagai sastrawan tetapi juga sebagai intelektual yang konsisten memperjuangkan kebudayaan, menghadirkan dalam sajak ini sebuah permenungan tentang kedekatan manusia dengan Tuhan. Sajak yang ringkas, hanya beberapa larik, justru memancarkan kekuatan spiritual yang besar.
Membaca Jarak sebagai Pertanyaan Eksistensial
Sajak ini dibuka dengan pertanyaan sederhana namun sarat makna: “Berapa jauh jarak terentang antara engkau dengan aku?” Pertanyaan ini tidak sekadar menyoal ruang fisik, melainkan jarak eksistensial antara manusia dengan Sang Pencipta. Ajip seakan mengajak pembaca untuk merenungkan: apakah Tuhan itu jauh, tak terjangkau, atau justru dekat, hadir dalam denyut kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan berikutnya mempertegas arah religius sajak ini: “Berapa jauh jarak terentang antara engkau dengan urat léhérku?” Larik ini jelas merujuk pada ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri. Ajip tidak menuliskan ayat itu secara eksplisit, tetapi dengan kecerdikan puitis ia menghadirkan resonansi religius yang kuat. Pembaca yang akrab dengan tradisi Islam segera menangkap gema ayat tersebut, sementara pembaca lain tetap dapat merasakan intensitas kedekatan yang dimaksud.
Kesenyapan Kata sebagai Kedekatan Mutlak
Larik terakhir, “Tak pun sepatah kata memisahkan kita”, menjadi klimaks dari sajak ini. Ajip menegaskan bahwa antara manusia dan Tuhan tidak ada sekat, tidak ada kata yang bisa memisahkan. Kata, yang biasanya menjadi medium komunikasi, justru tidak diperlukan dalam hubungan transendental ini. Kedekatan dengan Tuhan melampaui bahasa, melampaui simbol, dan hadir sebagai pengalaman batin yang langsung.
Di sinilah letak kekuatan sajak “Jarak”: ia mengungkapkan sesuatu yang tak terkatakan dengan cara yang sangat sederhana. Ajip tidak berpanjang-panjang, tidak menggunakan metafora rumit, tetapi justru dengan kesederhanaan itu ia menyentuh inti pengalaman religius.
Religiusitas yang Intim dan Personal
Ajip Rosidi dikenal sebagai penyair yang sering menyinggung persoalan sosial, budaya, dan identitas. Namun dalam sajak ini, ia menampilkan sisi religius yang intim. Religiusitas Ajip bukanlah religiusitas formal yang penuh aturan, melainkan religiusitas personal yang lahir dari permenungan. Ia tidak sedang berkhotbah, melainkan berbicara dari hati ke hati, seolah mengajak pembaca untuk ikut merasakan kedekatan dengan Tuhan.
Sajak ini juga menunjukkan bagaimana Ajip memandang hubungan manusia dengan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kategori duniawi. “Jarak” di sini bukanlah jarak geografis, melainkan jarak batin. Dan jarak itu, pada akhirnya, tidak ada. Tuhan hadir begitu dekat, bahkan lebih dekat daripada kata-kata yang kita ucapkan.

Keindahan dalam Kesederhanaan
Secara estetik, sajak “Jarak” memperlihatkan kekuatan puisi pendek. Hanya dengan enam larik, Ajip berhasil membangun suasana kontemplatif yang mendalam. Ritme pertanyaan yang diulang memberi efek dramatik, sementara jawaban yang muncul di akhir memberikan semacam pencerahan. Struktur ini membuat sajak terasa seperti doa atau zikir: dimulai dengan pencarian, diakhiri dengan penemuan.
Keindahan sajak ini terletak pada kesederhanaannya. Tidak ada kata-kata berlebihan, tidak ada ornamen retoris. Justru karena sederhana, sajak ini mudah diingat, mudah diresapi, dan meninggalkan kesan mendalam.
Pamungkas: Jarak yang Hilang
Membaca sajak “Jarak” karya Ajip Rosidi, kita diajak untuk menyadari bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah hubungan yang terpisah oleh ruang dan waktu. Tuhan hadir begitu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita. Tidak ada kata yang bisa memisahkan, karena kedekatan itu bersifat mutlak.
Sajak ini, meski singkat, dapat disebut sebagai salah satu sajak religius terbaik Ajip Rosidi. Ia berhasil merangkum pengalaman spiritual dalam bentuk yang ringkas namun penuh daya. Bagi pembaca, sajak ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga undangan untuk merenung, untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, “Jarak” bukan sekadar puisi, melainkan pernyataan iman yang sederhana namun kuat. Ajip Rosidi menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi jalan menuju permenungan religius, dan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak membutuhkan kata-kata panjang—cukup kesadaran bahwa jarak itu sesungguhnya tidak ada.
