Waktu kecil, saya sering percaya bahwa semua janji orang dewasa itu sungguh-sungguh. Jika bapak berkata “nanti”, saya membayangkan “nanti” itu benar-benar akan datang. Jika ibu bilang “besok”, saya menunggu besok seperti menunggu hari raya. Dulu saya belum mengerti bahwa tidak semua jawaban adalah kepastian. Ada jawaban yang sebenarnya adalah penolakan halus, ada janji yang sebenarnya hanya cara paling lembut untuk menyuruh kita berhenti berharap.
Di kampung saya, ada satu kalimat yang sering diucapkan orang tua ketika mereka tahu bahwa permintaan seorang anak terlalu besar untuk dipenuhi: “Orong-orong nggendhong gong.” Kalimat itu terdengar lucu, aneh, dan ajaib di telinga anak kecil. Saya dulu membayangkannya sungguh-sungguh: seekor orong-orong, serangga kecil yang hidup di tanah, berjalan tertatih sambil memanggul sebuah gong besar di punggungnya. Gambaran itu terasa mustahil, tapi justru karena itulah saya mengingatnya sampai sekarang.
Kalimat itu biasanya keluar dari mulut orang tua saat mereka ingin menunda jawaban, atau lebih tepatnya, menunda kekecewaan. Seorang anak merengek minta dibelikan sepeda, mainan, bahkan mobil-mobilan yang mahal. Lalu bapaknya menjawab sambil tertawa kecil, “Iya, nanti kalau ada orong-orong nggendhong gong.” Anak kecil akan diam. Barangkali ia mengira itu benar-benar soal waktu. Tinggal menunggu saja sampai keajaiban itu datang.
Padahal bukan. Kalimat itu bukan janji. Ia adalah cara orang tua berkata “tidak” tanpa melukai. Ia adalah bentuk penolakan yang dibungkus gurauan. Sebab orang tua di kampung sering kali tidak punya banyak hal untuk diberikan, tetapi mereka tetap ingin menjaga hati anak-anaknya. Mereka miskin kata untuk menjelaskan ketidakmampuan, namun kaya akal untuk menyamarkan kesedihan.
Di situlah saya baru paham, bertahun-tahun kemudian, bahwa “Orong-orong nggendhong gong” bukan sekadar kalimat lucu. Ia adalah kiasan tentang sesuatu yang nyaris mustahil terjadi. Orong-orong adalah serangga kecil, rapuh, nyaris tak terlihat. Sementara gong adalah benda besar, berat, dan kukuh. Mustahil seekor orong-orong sanggup menggendong gong. Maka mustahil pula permintaan itu dapat dipenuhi. Kalimat itu adalah cara sederhana untuk mengatakan: jangan terlalu berharap pada sesuatu yang bahkan hidup pun sedang susah menanggung dirinya sendiri.
Begitulah orang-orang kampung merawat kenyataan: tidak dengan kalimat keras, tetapi dengan perumpamaan. Mereka tidak berkata, “Bapak tidak punya uang.” Mereka tidak bilang, “Kita tidak mampu.” Mereka memilih bahasa yang lebih halus, lebih jenaka, meski diam-diam menyimpan getir. Sebab bagi orang tua, tidak bisa memenuhi keinginan anak bukan sekadar soal ekonomi. Ada rasa kalah yang sulit diucapkan. Ada perih yang tak ingin diwariskan mentah-mentah kepada anak-anak. Maka lahirlah kalimat-kalimat semacam itu—ringan di mulut, berat di dada.
Secara singkat, ungkapan “Orong-orong nggendhong gong” berasal dari tradisi lisan masyarakat Jawa, terutama dari kebiasaan orang tua menggunakan paribasan (ungkapan kias) untuk menyampaikan maksud secara halus. Dalam budaya tutur Jawa, perumpamaan sering dipakai untuk menolak, menyindir, atau menunda tanpa terdengar kasar. Ungkapan ini tumbuh dari logika sederhana masyarakat agraris: membandingkan makhluk kecil dengan benda besar untuk menggambarkan kemustahilan. Seperti banyak ungkapan kampung lainnya, ia tidak lahir dari kitab, melainkan dari mulut ke mulut, dari dapur ke teras, dari orang tua kepada anak-anaknya.
Sekarang, ketika saya mengingat kalimat itu, yang teringat bukan lagi kelucuannya. Yang teringat justru wajah orang-orang tua di kampung: tertawa kecil sambil menyembunyikan ketidakmampuan, bercanda sambil menelan sesak. Dan mungkin, di situlah saya pertama kali belajar bahwa tidak semua kiasan lahir dari kebijaksanaan. Beberapa lahir dari kemiskinan yang sedang berusaha tetap terdengar ramah.
