“Adellia, senang betemu kamu di sini.” Rahman, seseorang yang kukenal sebagai lelaki baik menyapaku saat kami berpapasan di depan rumah nenek. Suaranya yang lembut tetapi tetap berwibawa berhasil membuat sekujur tubuhku lemas. Ada getaran aneh dalam dada yang tidak bisa aku deskripsikan.
“Eh, iya, Rahman. Kamu mau kemana pagi-pagi begini?” tanyaku basa-basi. Pipiku terasa memanas sepertinya jika dilihat orang pipiku akan bersemu merah.
“Ada keperluan ke balai desa,” jawabnya santai. Lalu ia berpamitan kepadaku. Kami sempat bertemu pandang dalam dua detik. Manik matanya indah dihiasi dengan alis tebal khas laki-laki.
Seperti biasa ia selalu menundukkan pandangannya seperti enggan menatap wajahku. Penampilan dan sikapnya begitu jauh berbeda saat ia melakukan orasi dan pidato di antara ratusan mahasiswa. Ia melakukannya dengan penuh semangat dan berapi-api di kampus.
Namun dari deretan pria yang selalu menjadikan aku Adellia si bintang kampus, hanya Rahman yang selalu berhasil membuatku penasaran. Rasanya membuat lelaki baik itu jatuh hati dan menyatakan cinta padaku adalah tujuan utamaku selama ini.
Termasuk sekarang. Saat-saat menjelang bulan suci Ramadhan aku menyempatkan datang ke rumah Nenek. Sudah hampir sepekan aku di sini. Pulang ke desa kelahiran orang tua dengan alasan menjenguk nenek dan kakek yang katanya rindu kepada cucu. Menunaikan amanah ayah yang bilang, “sesekali jenguklah nenek kakekmu di desa! Kamu kan sudah bukan anak kecil lagi. Bisa pergi sendiri.”
Padahal, kalau desa ini bukan desa kelahiran Rahman, mana mau aku datang dan berlama-lama di desa. Aku yang anak kota ini biasa main ke mall, nongkrong di cafe sama teman-teman, malah kudu datang ke desa yang sebagian besar didominasi dengan pesawahan ini. Menarik sih, tapi satu dua hari cukuplah rasanya. Aku hanya harus menghirup udara segar sebanyak-banyaknya untuk mereset paru-paru. Setelahnya, aku akan segera kembali ke kota besar, melakukan aktifitas yang sangat menyenangkan. Menjadi mahasiswa desain yang terkenal dan disukai banyak orang.
Entah sejak kapan aku begitu bersemangat menyesuaikan jadwal pegi ke rumah kakek dengan jadwal kepulanganmu yang kucari diam-diam. Sampai akhirnya beberapa kali kita bisa bersama, jalan-jalan menikmati suasana desa yang ternyata menjadi lebih indah dan menyenangkan karena ada kamu di sini.
Rahman, entah pesona apa yang kamu punya sampai aku begitu menyukaimu. Apakah kuliah di fakultas hukum dan menjadi ketua BEM memang jurusmu untuk menjadi begitu keren? Sampai-sampai aku harus saingan dengan para gadis lain di kampus yang juga mengidolakan dan mengharapkan perhatianmu.
“Hai, teh Adel melamun ya?” tanya Syifa mengagetkan.
Gadis itu sudah berpakaian rapi, gamis berwarna abu tua dengan jilbab warna senada yang menjulur menutupi dada dan sebagian besar tubuhnya.
“Syifa mau kemana sudah rapi? Pakai baju gitu apa gak gerah ya?” refleks saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Mengingat sepagi ini matahari sudah sangat terik.
“Enggak dong, Teh. Kan ini perintah Allah,” jawabnya dengan senyum yang santai membuat sepupuku yang satu ini menjadi terlihat lebih manis. Lesung pipinya terlukis di kedua belah pipinya yang sedikit lebih cabi daripada pipi tirus yang selalu ku jaga agar tetap tirus agar penampilan tetap paripurna.
“Oh. Kamu belum jawab, mau kemana?” desakku pada Syifa.
“Mau ke balai desa, ada kegiatan. Teh Syifa mau ikut? Hayu, rame lho di sana. Kang Rahman teman Teh Adel juga ada di sana jadi panitia.” Jelasnya.
Mataku terbelalak saat mendengar nama Rahman disebut.
“Aku ikut!”
Aku yang kegirangan langsung menarik tangan Syifa, “ayo!”
Syifa terbengong. Matanya menyisir setiap inci tubuhku yang hanya memakai hot pant dan kaos longgar lengan pendek.
Aku nyengir dan Syifa melotot, “Teteh, masa mau pake baju kayak gini?” Sifa bergidik. Bola matanya berputar sambil menyilangkan tangan di dada.
**
Suasana halaman balai desa begitu ramai. Warga berkumpul untuk menyaksikan lomba antar kampung. Syifa bilang itu adalah tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
“Suka ada lomba keagamaan. Ngaji, adzan, cerdas cermat setiap tahun,” katanya.
Di balai desa aku sibuk mengintil kepada Syifa yang sibuk menjadi panitia. Sesekali aku pun membantu menertibkan anak-anak peserta lomba yang antre berdesakan, cukup melelahkan.
Tengah hari, acara baru selesai. Panitia sedang istirahat sekalian salat zuhur. Aku duduk di bangku yang ada di selasar balai desa. Syifa masih sibuk di dalam.
Seseorang mendekat, dengan langkah kaki yang terdengar samar.
“Minumnya, Mbak!” suara Rahman mengagetkan. Lelaki baik itu menyodorkan segelas air minum kemasan.
Aku terkejut dan segera sibuk berbenah. Rasanya baju yang aku pakai membuat aku akan terlihat buruk. Ini terlalu longgar. Gamis yang kupinjam dari Syifa sepertinya naik dua size dari ukuran bajuku yang selalu pas di badan saat dikenakan.
“Kamu cantik kalau pakai gamis dan kerudung, Del,” puji Rahman membuatku melayang.
Sejak saat itu, aku bertekad akan belajar memperbaiki diri dan belajar ngaji.
**
Besambung…
