Pemahaman perempuan tentang perintah menutup aurat memang beragam. Perbedaan ini biasanya dipengaruhi oleh sejauh mana ilmu agama yang sudah didapatkan dan diyakini. Di tengah masyarakat, kita sering menjumpai dua cara pandang yang cukup kontras terkait kewajiban berhijab.
Sebagian perempuan beranggapan bahwa berhijab harus diawali dengan kesiapan hati. Kalimat seperti, “Saya belum siap berhijab, karena menutup aurat itu harus dari hati. Percuma pakai kerudung kalau akhlaknya masih berantakan,” kerap terdengar. Pandangan ini bahkan sudah menjadi semacam pembenaran sosial, seolah-olah hijab hanyalah simbol, bukan kewajiban.
Di sisi lain, ada pula perempuan yang memahami bahwa menutup aurat adalah perintah syariat yang tidak bergantung pada kondisi hati atau kualitas akhlak. Selama seseorang mengaku muslimah, maka kewajiban menutup aurat tetap berlaku. Pemahaman kedua inilah yang sejalan dengan ajaran Islam, sebab dalam perkara perintah dan larangan Allah, tidak dikenal istilah tawar-menawar antara siap dan tidak siap.
Realita di Lapangan: Dalih yang Terus Diulang
Dalam realitas sosial, dalih “belum siap” sering kali menjadi tameng untuk menunda ketaatan. Misalnya, tidak sedikit perempuan yang bekerja di lingkungan perkantoran atau industri hiburan mengaku takut berhijab karena khawatir dianggap tidak profesional, sulit mendapatkan pekerjaan, atau kehilangan peluang karier. Ada pula mahasiswi yang berkata ingin “menikmati masa muda” terlebih dahulu, dengan alasan nanti saja berhijab setelah menikah atau setelah merasa lebih baik akhlaknya.
Ironisnya, di saat yang sama kita juga menjumpai fenomena lain: perempuan yang sudah berhijab tetapi masih melakukan kesalahan akhlak, lalu dijadikan contoh untuk melemahkan kewajiban hijab. “Tuh, pakai hijab tapi kelakuannya begitu,” menjadi kalimat yang sering dilontarkan. Padahal, kesalahan individu tidak pernah membatalkan kebenaran sebuah perintah syariat. Sama halnya seperti shalat—jika ada orang yang shalat namun masih berbuat dosa, apakah itu berarti shalat tidak wajib?
Dalil yang Jelas, Perintah yang Tegas
Perintah berhijab bagi perempuan muslimah sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59:
“Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Selain itu, perintah ini juga ditegaskan dalam Surat An-Nur ayat 31 yang menjelaskan secara rinci tentang batasan aurat perempuan, adab menjaga pandangan, serta siapa saja yang boleh melihat aurat tersebut. Ayat ini tidak hanya berbicara soal kain penutup, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan moral seorang muslimah.
Dengan dalil yang begitu gamblang, sebenarnya tidak ada ruang untuk menolak atau mengabaikan perintah ini. Setiap perempuan yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya terikat dengan konsekuensi ketaatan, termasuk dalam hal menutup aurat di hadapan non-mahram.
Hijab Bukan Akhir, Tapi Awal Perbaikan
Penting untuk dipahami bahwa hijab bukanlah tanda kesempurnaan akhlak, melainkan salah satu pintu menuju perbaikan diri. Banyak kisah nyata di sekitar kita tentang perempuan yang awalnya berhijab karena “terpaksa”, lalu perlahan berubah menjadi lebih menjaga lisan, sikap, dan pergaulan. Ketaatan sering kali mendahului kesiapan hati, bukan sebaliknya.
Islam tidak menuntut manusia menjadi sempurna sebelum taat. Justru dengan ketaatanlah, Allah membimbing hamba-Nya menuju kebaikan yang lebih utuh. Maka, menjadikan akhlak sebagai syarat berhijab adalah kekeliruan berpikir yang perlu diluruskan.
Jika memang saat ini belum sanggup melaksanakan sepenuhnya, setidaknya akui kebenaran syariat tersebut. Jangan mencela, apalagi meremehkan perintah Allah hanya karena bertentangan dengan keinginan pribadi. Sebab Islam dibangun di atas dalil dan wahyu, bukan di atas hawa nafsu manusia.
Penutup
Mari senantiasa memperbaiki diri dengan mengubah cara pandang kita terhadap ketaatan. Mendekatlah kepada Allah setahap demi setahap, dengan kerendahan hati dan kejujuran iman. Menutup aurat bukan sekadar soal kain, tetapi tentang kepatuhan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bukan penghakiman. Semoga Allah memberi kita semua taufik untuk menerima kebenaran dan kekuatan untuk mengamalkannya. Aamiin.
