Pagi ini, setelah bersih-bersih halaman, saya menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Bulu kuduk terasa merinding—antara geli dan takut—ketika melihat sesuatu yang belum pernah saya temui sebelumnya. Sebuah benda asing muncul di dekat tanaman Sansevieria yang saya tanam di dekat jendela. Ternyata itu adalah jamur Dead Man’s Fingers (Xilaria Polymorpha).
Saya sempat berteriak meminta kakak ipar sama-sama melihatnya. Namun nyatanya, kakak perempuanku itu pun sama-sama bergidik ketakutan.
Dengan hati-hati, saya mencoba mendekatinya. Awalnya saya mengira itu adalah jari binatang, atau bahkan saya sampai tidak berani menyebutkannya. Bentuknya benar-benar menyerupai jari manusia yang kaku, seperti telah lama terkubur dan dimakan waktu. Mengingat rumah ini dibangun di lahan kosong yang dulu lama terbengkalai, sempat terlintas pikiran bahwa itu adalah tulang belulang—entah milik hewan atau yang lebih mengerikan.
“Apakah itu jari manusia?”

Namun setelah diamati lebih dekat, rasa takut saya perlahan mereda. Ternyata itu bukan bagian tubuh makhluk hidup, melainkan sesuatu yang menyerupai jamur. Bagian bawahnya mengingatkan saya pada salah satu bentuk jamur yang saya pun lupa lagi namanya.
Saya pun memotretnya dan mencoba mencari tahu lewat “mbah Google”. Dari hasil pencarian, saya menemukan bahwa jamur ini bernama Dead Man’s Fingers atau Xylaria polymorpha.
Menurut informasi yang saya dapat, jamur ini biasanya tumbuh pada kayu yang membusuk atau pangkal pohon mati. Pantas saja saya baru menemukannya, karena jamur ini lebih sering dijumpai di hutan.
Konon, saat jamur ini masih muda, warnanya bisa abu-abu atau kebiruan, lalu berubah menjadi hitam pekat ketika sudah matang. Yang ni warnanya putih keabuan, berati ini memang masih muda dan baru saja saya temukan.
Didorong rasa penasaran, saya terus menggali informasi. Ternyata jamur yang tampak menyeramkan ini tidak layak dikonsumsi karena teksturnya keras seperti kayu. Hm, lagi pula siapa juga yang berminat memakannya ya? Bentuknya saja sudah menyeramkan menurut saya.

Meski begitu, beberapa sumber menyebutkan bahwa secara historis jamur ini pernah dikonsumsi saat masih muda. Membayangkannya saja sudah terasa aneh—apalagi rasanya.
Menariknya, di balik tampilannya yang menyeramkan, jamur ini disebut memiliki manfaat dalam pengobatan tradisional. Dalam beberapa praktik, jamur ini dikeringkan dan dihaluskan untuk membantu pemulihan pasca persalinan serta meningkatkan produksi ASI.
Selain itu, jamur ini juga diketahui menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antimikroba dan antikanker. Meski begitu, tentu perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat dan keamanannya.
Jamur ini juga memiliki peran penting di alam sebagai pengurai. Ia membantu membusukkan kayu mati, mengubahnya menjadi kompos, dan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah. Anehnya, saya sendiri tidak merasa pernah menyimpan kayu di area tempat jamur itu tumbuh.
Rasa penasaran saya belum juga habis. Saya kembali mencari gambar-gambar jamur ini di internet, dan jujur saja—saya cukup tercengang. Di beberapa foto hasil jepretan fotografer lain, penampakannya jauh lebih menyeramkan. Sulit dibayangkan jika saya yang menemukannya sendirian di dalam hutan. Dalam kondisi seperti itu—mungkin saya tidak akan berhenti merinding.
Jika menemukannya kembali dalam versi yang lebih menyeramkan, saya mungkin gak akan berani mendekati apalagi memotretnya.
Apakah teman-teman ada yang pernah menemukannya? Bagaimana rasanya ketika pertama kali melihat jamur yang satu ini? Mari kita berbagi pengalaman di kolom komentar.
