Pernahkah merasa terharu ketika makan? Mengunyah sambil memanjatkan syukur, padahal hidangan yang dimakan hanyalah masakan sederhana. Saya mengalaminya. Haru itu muncul ketika makan tumis kacang panjang yang saya tanam sendiri.
Lahannya memang tidak besar, tetapi tanaman kacang panjang yang kami tanam sendiri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga. Jujur saja, itu sudah membuat saya merasa menjadi petani sungguhan.
Sejak dulu, ketika lahan di sebelah rumah belum menjadi milik kami, saya dan suami sudah berangan-angan bahwa suatu hari nanti tempat itu akan menjadi dapur hidup bagi kami. Karena itulah, begitu lahan tersebut berhasil kami miliki, kami mulai menanam apa saja yang bisa ditanam, meskipun dalam jumlah sedikit-sedikit.
Mulai dari tanaman obat, bunga, singkong, pohon pisang, kacang tanah, bawang daun, pohon salam, pohon jeruk, serai, hingga kacang panjang yang kini menjadi salah satu penghuni favorit kebun kecil kami.
Kacang Panjang, Sayuran Favorit Sepanjang Masa
Bagi saya, kacang panjang adalah sayuran yang hampir tidak pernah gagal menggugah selera makan. Dimakan mentah sebagai lalapan terasa segar. Ditumis dengan bawang-bawangan, cabai, tomat, dan sedikit kecap asin pun sangat nikmat. Belum lagi jika dijadikan campuran sayur lodeh, rasanya selalu cocok di lidah.
Bahkan daun mudanya pun sering saya petik untuk dijadikan lalapan pendamping sambal. Sederhana, tetapi mampu membuat makan terasa jauh lebih berselera.
Panen Kedua dari Kebun Kecil Kami
Hari ini menjadi “panen kedua” di kebun kecil kami. Segenggam kacang panjang dipetik langsung dari batangnya, lalu segera masuk ke dapur untuk diolah menjadi tumisan sederhana. Entah mengapa, kenikmatan yang saya rasakan seolah meningkat berkali-kali lipat dibandingkan saat membeli kacang panjang dari pasar atau warung sayur dekat rumah.
Bukan karena rasanya berbeda, melainkan karena ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika bahan makanan itu berasal dari hasil jerih payah sendiri.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya begitu menikmati proses berkebun. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat sesuatu yang dulu hanya berupa benih kecil, kini tumbuh subur dan akhirnya bisa tersaji di atas meja makan.
Belajar Mencukupi Kebutuhan dari Hasil Tanam Sendiri
Saya dan suami memiliki cita-cita sederhana untuk masa tua nanti. Kami ingin sebisa mungkin mencukupi kebutuhan sehari-hari dari apa yang kami hasilkan sendiri.
Sejak sekarang kami mulai membangun apotek hidup sekaligus kebun sayuran sederhana. Tidak perlu luas dan tidak harus langsung banyak. Yang penting terus bertumbuh sedikit demi sedikit.
Bibit kacang panjang ini kami beli dari toko online. Bersyukur setelah ditanam, pertumbuhannya cukup baik dan subur.
Sayangnya, lahan yang baru kami garap baru sekitar dua ruas. Selebihnya masih ditumbuhi rumput, belum sempat dibersihkan. Maklum, semua pekerjaan dilakukan sendiri dan benar-benar menunggu Sabtu Minggu. Hari biasa, kami tak punya waktu melakukannya, kecuali perawatan sederhana seperti menyiram, memupuk dan mencabut rumput jika sempat.
Ketika membuat kebun kecil untuk kacang panjang ini, dari membersihkan rumput, mencangkul tanah, hingga membuat ajir untuk tanaman, kami kerjakan bersama. Beruntung kala itu ada bantuan bapak mertua yang begitu semangat membantu.
“Bapak bantu, sambil olahraga,” katanya.
Saya masih ingat betul, benih itu pertama kali ditanam pada tanggal 4 April. Rasanya baru kemarin menebar benih ke tanah, ternyata sekarang kami sudah bisa menikmati hasilnya.
Mengapa Memilih Menanam Kacang Panjang?
Meskipun hanya ditanam di lahan sekitar 5×2 meter, kacang panjang termasuk tanaman yang cukup menguntungkan untuk ditanam sendiri.
Tanaman ini memiliki masa produksi yang relatif panjang. Selama pertumbuhannya baik, ia akan terus berbunga dan berbuah meskipun sudah dipanen berkali-kali.
Itulah salah satu alasan mengapa saya lebih memilih menanam kacang panjang dibandingkan kacang buncis. Dengan lahan yang terbatas, hasil panennya terasa lebih maksimal dan bisa dipetik berulang kali.
Kacang Panjang dan Obat Rindu pada Ibu
Selain rasanya yang lezat dan teksturnya yang renyah, kacang panjang juga menyimpan kenangan yang sangat personal bagi saya.
Ketika masih remaja, saya sering mengalami tekanan darah rendah. Setiap kali itu terjadi, selain membawa saya ke dokter, ibu selalu meminta saya memakan pucuk daun kacang panjang bersama nasi dan lauk sederhana.
“Bisa cepat memulihkan tekanan darah,” kata ibu.
Saat itu saya tidak banyak bertanya. Intinya saya percaya dan patuh saja biar lekas sembuh.
Kini, setelah ibu berpulang pada tahun 2012, setiap kali memakan kacang panjang atau daun mudanya, rasanya seperti sedang mengobati rindu. Ada kenangan masa lalu yang kembali hadir di setiap suapan.
Belakangan saya baru memahami mengapa ibu begitu sering menyuruh saya memakannya. Ternyata kacang panjang mengandung berbagai nutrisi yang baik untuk tubuh, seperti vitamin A, vitamin C, serat, antioksidan, asam folat, kalium, kalsium, serta zat besi. Kandungan zat besi dan vitamin di dalamnya lah yang mungkim menjadi alasan ibu menjadikan pucuk daun kacang panjang sebagai obat.
Mungkin bagi sebagian orang, sepiring tumis kacang panjang hanyalah menu sederhana. Namun bagi saya, sayuran hasil tanam sendir ini menyimpan banyak cerita: tentang mimpi kecil membangun dapur hidup, tentang kerja keras mengolah lahan, tentang kebahagiaan saat panen, dan tentang kerinduan kepada ibu yang tak pernah benar-benar pergi.
Apakah ada yang ingin menanamnya pula?
