Berlibur Tanpa Gawai (Sumber/Unsplash: Juli Kosolapova)
Di era yang serba canggih dan cepat ini, masih adakah orang yang jauh dari gawai? Jika ada mereka mungkin adalah orang tua yang merasa lebih tenang ketika tidak memiliki perangkat elektronik. Namun, apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang yang terbiasa menggunakan perangkat elektronik tapi harus berjarak dengan internet dan gawainya?
Ketika saya tidak memiliki kuota internet saya merasa bahwa dunia saya hampa seketika. Seperti sebuah jiwa yang kehilangan nyawa, seperti seseorang yang perlahan ditarik dari dunia interaksi sosial dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Apalagi jika diingat, saya pernah mengalami kerusakan ponsel selama dua hari.
Saat itu saya benar-benar tidak menggunakan ponsel, tidak bermain game, tidak mengakses internet dan tidak berhubungan dengan siapapun. Dulu ponsel saya rusak karena terkena air, masih bisa hidup tapi layarnya tidak jelas terlihat, hingga tidak bisa digunakan. Menurut petugas service, katanya ponsel saya bisa diperbaiki tapi harus ditinggal di konter.
Kendala Mulai Terasa
Perlahan seketika itu pun kepala saya berisi berjuta ingatan, persis seperti memori di ponsel. Pikiran mulai bercabang, berbagai file di dalam kepala saya melayang. Membayangkan betapa banyaknya hal yang menunjang saya selama ini di dalam ponsel kesayangan itu.
Banyak yang saya pikirkan, salah satunya adalah tentang akses masuk website dan akun-akun saya di platform tempat menulis. Belum lagi file-file pribadi saya selama memiliki anak semuanya takut raib. Seketika ingatan saya pergi ke masa lalu, bertanya pada diri sendiri mengapa saya tidak mencadangkan file yang saya punya di aplikasi bawaan ponsel agar terhubung ke akun gmail.
Mengapa saya tak pernah terpikir untuk mengamankan data pribadi dan membeli flashdisk?Â
Waktu ponsel rusak itu, segalanya sudah saya pikirkan dalam kepala, terasa berat dan sangat menguras energi. Belum lagi biaya servis yang saya takutkan, sebab sat petugas menganalisa ia mengkhawatirkan lcdnya terganggu. “Kalau ganti baru, bisa 200an teh. Tapi mudah-mudahan nggak perlu ganti, dilihat-lihat sih masih bisa diperbaiki disini. Bagus ini segera dibawa, telat sebentar saja meluas ini rusaknya.”Â
Sebelum berangkat, saya berdiskusi dengan suami. “Kalau sekira butuh biaya besar, dan kita belum punya uangnya. Gapapa kok ditunda aja, gausah langsung diperbaiki, kita tanya dulu aja kira-kira habis berapa.” Kata saya meyakinkan pada suami, kalau saya tak masalah jika ponsel tak segera diperbaiki.
Ketakutan Kehilangan Banyak Hal
Saya bertanya pada petugas service, “Apakah perbaikan LCD ini bisa mengganggu daya simpan ponsel? soalnya jika membutuhkan proses reset saya tidak memiliki file cadangan di tempat lain. Jadi tolong selamatkan ponsel saya ya.”Â
“Baik, aman kok. File biasanya tidak terganggu. Hanya saja dalam proses perbaikannya membutuhkan waktu. Jadi ponselnya harus disimpan dulu di sini.” Ujar petugas servis yang usianya nampak jauh dibawahku.
“Iya A Nggak apa-apa.” Kata suami saya langsung menyahut, tanpa bertanya pada saya.
Setelah dirasakan, di sisi lain saya perlahan menemukan dunia saya yang tenang. Menulis kembali dalam buku tulis dan mempersiapkan beberapa konten sebelum ponsel saya selesai. diperbaiki. Saya juga lebih banyak membaca, menonton televisi yang acaranya selama ini banyak saya lewatkan.
Padahal televisi selama ini di hidup saya menjadi model media paling relevan. Saya belum percaya berita yang menyebar di posel meski dengan ribuan like dan jam tayang. Televisi adalah indikator keabsahan berita bagi saya, semua saya anggap hoaks sebelum televisi menayangkannya.
Selain menjadi lebih fokus merangkum informasi, saya pun banyak mengerjakan pekerjaan rumah secara detail, tenang dan tidak terburu-buru. Sebelumnya saya sering terseret notifikasi dan godaan mengoperasikan ponsel sebab rasanya tidak pas rasanya ketika jari ini tidak menggulirkan jempol di beranda sosial media sehari saja. Bak lautan informasi, sehari tidak membuka media saja seperti tertinggal jaman.
Awalnya memang saya hampa merasa hampa, karena ketika saya mengerjakan pekerjaan rumah atau mengisi sela-sela hari, saya biasanya mendengarkan musik online atau mendengarkan banyak hal dari ponsel. Mengakses media sosial, berita terkini dan tak lupa berkomunikasi dengan orang terdekat soal silaturahmi atau pekerjaan. Jujur waktu itu saya merasa hampa dan sangat berat ketika saya kehilangan akses komunikasi dengan dunia luar.
Menemukan Ketenangan
Namun ada satu perasaan yang saya validasi dengan diri saya sendiri bahwa keadaan itu adalah sebuah kenyamanan. Saya merasakan betul bahwa diri saya ini sangat ringan bangun tidur, langsung duduk di tempat tidur dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan rumah. Membuka pintu pertama kali di pagi hari, melihat halaman rumah yang sejuk dan semuanya terasa sangat ringan.
Tanpa distraksi dan tanpa notifikasi. Saya merasa sangat hidup ketika tak harus membalas pesan dari siapapun, tanpa harus stress memainkan game yang tidak ada habisnya. Ternyata hidup seperti ini membuat tubuh saya terasa sangat ringan dan segar.
Saya langsung teringat pada para orang tua yang tidak memiliki ponsel. Mereka biasanya tidak bisa diam atau segala hal dikerjakan, baik hobi mereka pekerjaan dengan tekun. Bahkan sekadar mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ada kotor sedikit pun akan cepat bersih-bersih.
Mereka yang tak punya ponsel biasanya tidak bersantai, apapun dikerjakan. Itulah pengalaman yang saya rasakan ketika tidak memiliki ponsel, rasanya kebebasan itu ingin saya beli kembali. Rasanya kebebasan itu ingin saya tunaikan lagi dengan melepaskan ponsel dan internet barang sehari dua hari saja.

Berdasarkan apa yang saya rasa, hanya dua hari saja waktu itu saya merasakan perasaan yang beda di dalam diri dan tubuh saya. Bagaimana jadinya di zaman sekarang ketika apapun diraih dan berhubungan dengan teknologi, pekerjaan dalam teknologi berhubungan menggunakan teknologi, berniaga dengan teknologi, dan lain sebagainya. Jujur, saya mulai kewalahan dengan diri sendiri.
Hal ini mengajarkan saya untuk harus banyak-banyak memanager dan mengatur waktu untuk sebisa mungkin. Mengatur diri saya untuk melihat bagaimana takaran waktu di dalam setiap hari terutama dalam mengoperasikan gawai dan internet. Peristiwa itu juga menjadi pembelajaran bagi saya betapa manusia butuh istirahat meskipun teknologi mempercepat segalanya.
Ingin Mengulanginya Lagi
Dalam keyakinan diri saya setelah mengalami hal itu merasakan bahwa di dalam tubuh manusia sebenarnya ada hal alami dan organik yang penggunaannya ingin berjalan pelan dan berjalan secara murni. Tidak terseret arus informasi, tidak terseret teknologi dan tren, sebab tak akan ada habisnya. Ada sisi lain di diri manusia yang sebenarnya berjalan pelan, seadanya.
Setelah merasakan betapa ringannya tubuh dan hati ketika membuka pintu pertama kali di pagi hari saat tak memiliki ponsel. Saya lantas menyimpulkan, bahwa memiliki ponsel adalah suatu keputusan manusia yang bisa menjadi sumber pengaruh dan distraksi sosial yang luar biasa. Untuk melakukan banyak hal positif dan penuh energi, seseorang juga harus menutup dirinya dari berbagai gangguan.
Saya ingin belajar untuk melakukan puasa gawai kembali secara bertahap. Setiap akhir pekan, atau waktu-waktu yang ditentukan namun konsisten. Semoga langkah ini bisa menjadi langkah untuk menghapus sistem-sistem di kepala yang berisi file sampah atau chace yang ada di jiwa saya selama ini.
