Kutipan Dari Boy Candra (Sumber: FB/Boy Candra)
Pernahkah mendengar bahwa membaca fiksi seperti novel, komik, dan buku fiksi lainnya tidak bermanfaat bagi manusia? Padahal jika dipahami lebih dalam, seseorang akan sangat setuju ketika mendengar istilah bahwa membaca fiksi adalah sesuatu yang bisa mengasah empati. Secara, otak kita berpikir dan menyerap informasi dengan melibatkan rasa di dalamnya.
Sempat saya pribadi berpikir. Orang-orang yang menyukai novel dengan mengoleksi banyak seri dari penulis-penulis ternama di Indonesia, untuk apa mereka membaca itu? Toh mungkin dalam kepalanya layaknya alur sinetron.
Isinya dipenuhi drama, konflik dan kehidupan sosial manusia yang kompleks. Kita sendiri tahu bahwa dunia fiksi adalah karangan pembacanya yang disajikan penuh dengan lika-liku dan kejadian yang hampir mustahil dilalui oleh seorang manusia. Hal itu tidak terjadi sama sekali di dunia nyata, sebab drama yang dibangun seringkali berkelit.
Namun saat saya mengikuti sebuah acara, di dalamnya terdapat narasumber yang perkataannya sangat menyentuh relung hati saya.
Semua cerita fiksi di dunia ini, ada sumber inspirasinya. Ada satu dua hal yang menyangkut kepada dunia nyata.
Hal itu sangat benar saya rasakan, saya sering menulis beberapa cerita fiksi yang banyak diantaranya bersumber dari kejadian nyata. Hal-hal mendasar yang terjadi di lingkungan hidup saya selama ini. Saya pun sempat membaca kutipan dari seorang penulis Indonesia, Boy Candra.

Manfaat Membaca Fiksi
Membaca fiksi adalah salah satu cara kita mengasah empati. Dalam membaca novel, kita bisa berangan-angan jika memang di dunia nyata ada seseorang yang bersikap seperti itu. Bagaimana cara kita memahami mereka? Bagaimana cara kita memposisikan diri ketika bersama mereka?

Saya pun ternyata mendapati diri saya yang sering sekali mendapati kalimat-kalimat aneh yang berada di buku novel. Jelas-jelas mereka memiliki pola pikir aneh, adegan yang berlebihan, dan respon dramatis dari pemeran utamanya.
Ternyata satu dua hal terjadi di dunia nyata yang saya alami. Saya benar-benar menemukan orang semacam itu, lantas saya kembali berangan-angan tentang novel itu. Saya memiliki koleksi beberapa buku fiksi yang isinya antologi cerpen atau puisi serta beberapa novel.
Bagi saya untuk membaca novel butuh persiapan diri yang maksimal, dan cara menelaah yang baik. Untuk memahami sebuah novel, saya tidak bisa membacanya begitu saja karena butuh kejiwaan yang dalam dan butuh minat yang baik untuk membaca sebuah novel. Namun untuk mereka yang belum percaya bahwa cerita fiksi itu membangkitkan empati, mereka nampaknya harus benar-benar memahami bacaan mereka.
Sebab pembaca harus benar-benar menikmati alur dan menjiwai isi buku dan karakter tokohnya. Sampai sekarang buku fiksi apa yang pernah, atau sedang anda baca?
