Bandung Selatan kembali basah—bukan oleh rintik romantis yang biasa dinyanyikan puisi, melainkan oleh air yang datang membawa kecemasan. Jalan-jalan protokol berubah rupa menjadi aliran sungai. Motor mogok di tengah genangan, mobil terperangkap, anak-anak digendong menyeberangi arus yang tak diundang. Air kini tak lagi sekadar jatuh dari langit, tetapi seperti kehilangan alamat pulang.
Dalam beberapa pekan terakhir, banjir dan longsor menimpa sejumlah titik di wilayah Bandung Selatan. Nama-nama kampung kembali masuk berita, bukan karena prestasi, melainkan musibah. Rumah-rumah terendam, akses terputus, bahkan nyawa terancam. Lalu kita pun bertanya: mengapa air bisa sebegitu liar? Mengapa jalan raya, yang semestinya milik manusia, kini dikuasai aliran yang tak mengenal rambu?
Jawabannya tidak sederhana. Sebab yang kita hadapi bukan sekadar hujan, melainkan akumulasi kesalahan panjang. Hujan memang turun dari langit, tetapi banjir lahir dari bumi yang kita lukai.
Bandung, yang dahulu dikenal sebagai kota hijau, kini semakin sesak oleh bangunan. Perbukitan dibuka, hutan ditebang, sawah dipadatkan. Tanah kehilangan pori-porinya. Ia tak lagi mampu menyerap air, hanya bisa menolaknya. Maka air pun mengalir tak sabar, mencari celah paling rendah—dan jalan raya menjadi korban.
Drainase yang sempit dan tersumbat memperparah keadaan. Sampah yang mestinya berakhir di tong, justru bersemayam di selokan. Plastik, popok, kain bekas, semua menjelma jadi bendungan kecil yang menyebabkan air meluap ke mana-mana. Lebih dari itu, pembangunan pertokoan—baik kecil maupun besar—yang tumbuh rapat di sepanjang tepi jalan raya, bahkan berdiri di atas saluran drainase, membuat alur air kehilangan arah. Ruang yang seharusnya menjadi jalur alami bagi air justru ditutup bangunan, diplester semen, dan disulap menjadi etalase dagang. Air pun seakan “bingung” mencari jalan pulangnya; terhalang tembok, tersesat oleh beton, lalu meluber ke aspal dan rumah warga. Kita sering lupa: banjir bukan hanya karya hujan, tetapi juga hasil dari kelalaian, keserakahan ruang, dan pembangunan yang lupa pada napas bumi.
Di titik ini, bencana tak lagi bisa disebut semata peristiwa alam. Ia adalah cermin perilaku manusia.
Agama telah lama mengingatkan bahwa kerusakan di bumi bukan tanpa sebab. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini bukan ancaman semata, melainkan undangan untuk sadar. Bahwa setiap banjir, longsor, dan bencana adalah pesan—bukan hanya kepada pemerintah, tetapi kepada kita semua. Pesan bahwa bumi sedang lelah menanggung keserakahan manusia.
Dalam Islam, manusia bukan pemilik bumi, melainkan khalifah—penjaga. Maka membuang sampah sembarangan bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi juga pengkhianatan spiritual. Merusak hutan bukan sekadar kesalahan tata ruang, tetapi dosa terhadap amanah.
Bandung Selatan hari ini seperti sedang berbisik pilu:
Aku memberi kalian tanah, kalian bangun tanpa mengingat akarku.
Aku memberi kalian air, kalian salurkan tanpa menjaga jalanku.
Kini aku tumpahkan gusar, bukan karena benci, tapi karena luka.
Namun harapan selalu ada. Air yang meluap hari ini masih bisa ditenangkan esok hari. Asal kesadaran ikut mengalir.
Pemerintah perlu menata ulang pembangunan dengan keberanian ekologis: melindungi kawasan resapan, menertibkan alih fungsi lahan, membenahi drainase, dan menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Tetapi peran masyarakat sama pentingnya. Mulai dari hal kecil: tidak membuang sampah, menanam pohon, menjaga sungai, dan mengajari anak-anak mencintai tanah kelahiran.
Karena kota bukan hanya kumpulan bangunan, melainkan jalinan tanggung jawab. Dan air, sesungguhnya, hanya ingin pulang ke tempatnya:
ke tanah yang masih berongga, ke sungai yang masih lapang, ke laut yang masih sabar.
Jika hari ini kita menahan diri, mungkin esok air akan kembali jinak. Jika hari ini kita merawat, mungkin Bandung akan memaafkan.
Sumber gambar : https://www.detik.com/jabar/berita/d-7137613/7-027-jiwa-terdampak-banjir-dayeuhkolot-akibat-tanggul-sungai-jebol#google_vignette
