Malam ke-27 Ramadan. Di dalam Masjid Al-Ikhlas, udara terasa sunyi dan dingin. Hanya ada beberapa baris jamaah yang menunduk khusyuk, mencoba menjemput janji Tuhan tentang malam yang lebih baik dari seribu bulan—malam lailatul qadar.
Namun, hanya berjarak satu kilometer dari sana, di pusat perbelanjaan “Grand Cahaya”, atmosfernya justru seperti medan tempur. Di sana, ribuan orang sedang melakukan “i’tikaf” jenis lain. Mereka tidak bersujud menghadap kiblat, melainkan menunduk menatap label harga.
Arman adalah salah satunya. Di tangannya bukan tasbih, melainkan tiga kantong belanja besar. Matanya merah, bukan karena terlalu banyak menangis dalam tahajud, tapi karena sudah lima jam ia berburu di tengah kerumunan Midnight Sale.
“Ayo, Pak! Sebentar lagi flash sale sepatu merk itu dimulai! Jangan sampai keduluan orang!” seru istrinya, Maya, dengan semangat yang meluap-luap.
Arman menyeka keringat di dahinya. “Ma, ini sudah jam sebelas malam. Katanya kita mau ke masjid buat malam ganjil?”
Maya tidak menoleh, tangannya sibuk membolak-balik tumpukan baju. “Masjid mah tiap tahun ada, Pa. Tapi diskon 70% plus 20% ini cuma ada malam ini! Ini kan juga perjuangan. Kita beli baju baru biar pas Lebaran nanti terlihat fitrah dan… bergengsi.”
Arman melihat sekelilingnya. Ia melihat orang-orang yang biasanya malas bangun untuk shalat Subuh, kini mampu berdiri berjam-jam di antrean kasir tanpa mengeluh. Ia melihat orang-orang yang biasanya enggan mengeluarkan uang dua ribu rupiah untuk kotak amal, kini dengan sigap menggesek kartu kredit jutaan rupiah demi sepotong kain “bermerek”.
Tiba-tiba, suara pengeras suara mall bergema: “Selamat malam pelanggan setia! Sepuluh menit lagi menuju puncak Midnight Sale! Dapatkan penawaran terbaik tahun ini!”
Massa bergerak liar. Terjadi aksi saling sikut, saling dorong, dan teriakan-teriakan emosional. Arman merasa sesak. Ia teringat khutbah Jumat kemarin tentang Lailatul Qadar—malam di mana para malaikat turun ke bumi, memenuhi setiap celah udara, mencari hamba yang sedang merintih memohon ampunan.
Ia mendongak ke langit-langit mall yang dipenuhi lampu neon warna-warni. Ia bertanya-tanya: Apakah malaikat juga turun ke sini? Di antara rak-rak baju dan aroma parfum mahal ini?
Saat ia berjalan menuju pintu keluar untuk mencari udara segar, Arman melihat seorang pria tua—sang petugas kebersihan mall—sedang duduk bersimpuh di pojok lorong yang sepi, di belakang tumpukan kardus kosong.
Pria tua itu baru saja menyelesaikan tugasnya. Di tangannya ada sebuah buku saku Al-Qur’an yang kecil dan kumal. Ia membacanya pelan di bawah lampu darurat yang temaram. Wajahnya lelah, tapi bibirnya tersenyum. Di tengah hingar-bingar orang berburu “kemewahan dunia”, pria itu justru sedang membangun “istananya di surga”.
Arman terpaku. Kontras itu menghantamnya begitu keras. Di depan matanya ada ribuan orang yang mengejar “malam seribu bulan” versi toko, sementara di pojok gudang, satu orang menemukan Lailatul Qadar-nya sendiri di sela-sela shift kerjanya.
“Ma,” Arman menarik tangan istrinya yang baru saja berhasil mendapatkan tas baru. “Kita pulang sekarang.”
“Lho, kenapa? Sebentar lagi ada pembagian voucher!”
“Cukup, Ma,” suara Arman terdengar tegas namun bergetar. “Kita sudah mendapatkan ‘diskon’ yang cukup banyak untuk dunia kita. Tapi aku takut, kita sedang kehilangan ‘harga penuh’ untuk akhirat kita. Malam ini malaikat sedang mencari kita di masjid, tapi kita justru sibuk menyembunyikan diri di balik etalase mall.”
Maya terdiam melihat kesungguhan di mata suaminya. Ia melihat kantong-kantong belanjaan di tangannya yang terasa tiba-tiba menjadi sangat berat.
Malam itu, mereka meninggalkan mall saat kerumunan masih menggila. Di dalam mobil, Arman mematikan radio. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tadarus dari pengeras suara masjid. Suaranya kecil, tapi bagi Arman, itulah suara kemenangan yang sebenarnya.
“Tragedi terbesar manusia bukan saat ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan saat ia sibuk berburu ‘potongan harga’ duniawi hingga lupa bahwa ada satu malam di mana Tuhan sedang membagikan ‘ampunan tanpa batas’ secara cuma-cuma. Jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lokasi rak diskon, namun buta arah menuju jalan pulang kepada-Nya.”
