Setiap menjelang Ramadhan, sebagian umat Islam kembali membayangkan situasi yang berulang: perbedaan dalam menetapkan tanggal 1 Ramadhan. Ada yang lebih dulu dimulai, ada yang menunggu keputusan resmi pemerintah, ada pula yang mengikuti keputusan organisasi keagamaan tertentu.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia menghilangkan pada perbedaan metodologi antara rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi), serta perbedaan kriteria visibilitas hilal. Secara fiqh, masing-masing memiliki dasar argumentatif. Artinya, perbedaan ini lahir dari ijtihad, bukan dari penyimpangan.
Namun persoalannya bukan semata-mata mata teknis astronomi. Yang sering mengemuka justru respon sosial dan psikologis umat terhadap perbedaan itu.
Menyadari bahwa Perbedaan adalah Bagian dari Tradisi Ilmiah Islam
Dalam khazanah keilmuan Islam, perbedaan (ikhtilaf) bukanlah sesuatu yang aneh. Para ulama sejak dahulu berbeda dalam banyak cabang hukum, namun tetap saling menghormati.
Perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan berada dalam wilayah ijtihadi—ranah yang terbuka bagi argumentasi rasional dan metodologis. Maka sikap pertama yang perlu dibangun adalah kesadaran epistemologis: perbedaan ini lahir dari usaha memahami dalil, bukan dari sikap meremehkan syariat.
Dengan kesadaran ini, kita tidak mudah menghakimi pihak lain sebagai “kurang taat” atau “kurang ilmiah”.
Antara Otoritas dan Ketertiban Sosial
Dalam kehidupan bernegara, ada dimensi lain yang perlu dipertimbangkan: kesepakatan sosial. Pemerintah melalui sidang isbat memiliki fungsi menjaga kebersamaan waktu ibadah secara kolektif.
Muncul dilema: apakah mengikuti keyakinan metodologis pribadi, atau mengikuti keputusan otoritas publik demi keseragaman sosial?
Sosiologi agama mengajarkan bahwa stabilitas komunitas sering kali memerlukan kesepakatan simbolik bersama. Waktu Ramadhan adalah simbol kolektif. Perbedaan yang tidak dikelola dengan orang dewasa bisa berubah menjadi identitas.
Oleh karena itu, sikap bijak bukan hanya mempertimbangkan kesalahan secara pribadi, tetapi juga berdampak sosial dari pilihan tersebut.
Seni Mengelola Ego Kelompok
Sering kali yang membuat perbedaan menjadi panas bukan perbedaan itu sendiri, tetapi identitas kelompok. Ketika seseorang terlalu melekat pada afiliasi organisasi atau mazhab tertentu, keputusan tentang tanggal bisa terasa seperti pertaruhan harga diri kolektif.
Di akhir ujian kedewasaan psikologis muncul. Apakah kita memandang perbedaan sebagai ancaman terhadap identitas, atau sebagai variasi dalam kerangka iman yang sama?
Puasa seharusnya melatih pengendalian diri. Ironisnya jika menjelangnya justru muncul sikap defensif dan saling membatasi.
Bagaimana Sebaiknya Bersikap?
Ada beberapa prinsip yang bisa menjadi pegangan:
Pertama , pastikan pilihan kita memiliki dasar yang jelas, baik mengikuti pemerintah maupun organisasi tertentu dan bukan sekadar ikut-ikutan emosional.
Kedua , menghormati pilihan orang lain yang berbeda, selama berada dalam koridor ijtihad yang sah. Tidak perlu menjadikan perbedaan sebagai ajang pembuktian siapa yang paling benar.
Ketiga , utamakan persatuan dalam ruang keluarga dan komunitas terdekat. Jika memungkinkan, kebersamaan sosial lebih diutamakan daripada kemenangan argumentatif.
Keempat , sadar bahwa inti Ramadhan bukan pada tanggal, tetapi pada kualitas ketakwaan yang dibangun setelahnya.
Perbedaan: Menguji Kesiapan Jiwa Sebelum Memasuki Ramadhan
Barangkali perbedaan awal Ramadhan justru menjadi latihan pertama sebelum puasa dimulai. Ia menguji kelapangan hati, kerendahan ego, dan kedewasaan berpikir.
Jika kita bisa bersantai di tengah perbedaan, itu jiwa pertanda kita lebih siap menyambut bulan suci. Jika kita mudah tersulut dan khawatir menyalahkan, mungkin yang perlu dibenahi bukan kalendernya, tapi hati kita.
Ramadhan datang untuk menyatukan orientasi kepada Allah, bukan untuk mempersatukan sekat antar sesama.
Maka di tengah perbedaan penentuan tanggal, sikap terbaik bukan sekedar memilih metode, namun tetap menjaga adab.
Wallahu’alam
Penulis adalah Sekretaris Umum Corps Muballigh Bandung
