Ilustrasi Pasangan (Sumber : Meta AI)
Mungkin jika tuhan memberikanku takdir dengan terlahir sebagai Bumi, maka hari ini adalah pagi yang dingin bersama mentari dan bulan.
Namaku Risna, usiaku 26 tahun. Sekarang aku tengah menikmati waktu bersama anak pertamaku berusia dua tahun, Rasya namanya. Mungkin usia ini terbilang cukup muda untuk ukuran seorang perempuan di zaman sekarang, yang sudah bersiap menjadi orang tua.

Usia suamiku 33 tahun, dia dianggap sudah cukup matang secara usia dan emosional di dalam kategori pria. Namanya Ramli, kata orang, dia adalah lelaki biasa dan tidak istimewa. Tapi bagiku, dia adalah pahlawan yang kebaikannya tak ternilai.
Meskipun ia hanya karyawan biasa, tampangnya juga biasa saja, namun kebaikan hatinya mampu memikat banyak orang, termasuk remaja perempuan. Salah satu perempuan yang pernah menjalani kehidupan dengannya adalah Rumi, wanita mantan gadis desa seumuranku. Kata orang-orang dia adalah mantan Mas Ramli, setahun sebelum bertemu denganku.
Secara kebetulan, aku dan Mas Ramli menikah sepuluh hari lebih dulu daripada Rumi dengan pasangannya. Sebelum bertemu denganku, Mas Ramli memang dikabarkan dekat dengan Rumi dan mereka hampir menikah. Aku tidak tahu apa alasan batalnya pernikahan mereka, yang jelas Rumi adalah salah satu mantan kekasih Mas Ramli, orang terakhir, dan mungkin bisa jadi yang terindah.
Selama ini aku tidak tahu isi hati orang lain, termasuk hati Mas Ramli. Seiring waktu berjalan, aku melihat cinta yang besar darinya dan aku yakin untuk mantap menikah, dan Mas Ramli mengajakku ikut pindah ke tempat tinggalnya di kampung. Jujur, aku tidak cukup tahu siapa saja perempuan yang pernah dekat dengan Mas Ramli.
Sejauh ini, kabar hangat dan informasi yang dibenarkan oleh keluarganya hanya ini. Kabar bahwa ia yang hampir menikahi Rumi. Sialnya, aku mengenal Rumi sejak kita duduk di Sekolah Dasar, karena sekolah kami bertetangga.
Sebenarnya waktu aku menikah, orang lain banyak yang mengkritisi hubunganku dengan Mas Ramli dari segi usia. Usia kita yang terpaut tujuh tahun, membuatku terkesan menikah dengan pria yang terlampau dewasa. Tapi, aku tak pernah mendengarkan apapun kata orang lain, yang jelas secara kematangan usia dan cara berpikir adalah satu hal yang patut disyukuri.
Lagi pun aku percaya, bahwa Mas Ramli bukan hanya dewasa, tapi dia benar-benar sudah siap dan mantap menjadi pasangan. Tidak jadinya pernikahan Mas Ramli dengan Rumi, membuat aku terkesan sebagai alat pelarian, dan banyak orang seperti tidak mendukung hubungan kami. Suatu hari aku mendapat kabar, bahwa Rumi telah mengandung dan mereka tengah bersiap-siap menjadi orang tua.
Sedangkan aku pernah menangis sebab tak kunjung hamil, aku juga sudah berkali-kali meminta maaf pada Mas Ramli. Kami terus berupaya, melakukan apa yang kami bisa dan tentunya berdoa. Akhirnya setelah lima bulan aku tak kunjung hamil, Tuhan menjawab dengan segera. Aku hamil anak pertama dan diketahui setelah empat minggu dalam kandungan, sungguh aku dan Mas Ramli sangat bahagia.
Lima bulan berlalu, ibu mertua mengajakku untuk berkunjung untuk menjenguk anak kerabat yang baru saja memiliki bayi. Seketika aku kaget saat melihat bahwa Rumi adalah ibu dari bayi itu. Aku hanya bisa terdiam, saat keluarga besar mertuaku tidak menganggap ini adalah situasi yang aneh, mereka menutupi dariku bahwa sebenarnya suami Rumi masih bertali kerabat dengan kami.
Aku belum bisa berbaur dan bertegur sapa dengan keluarga besar suamiku saat itu, hati kecilku masih tak terima, betapa sempitnya kehidupan sehingga mantan kekasih suamiku ternyata menikah dengan kerabat jauh mertuaku. Setelah kami bercengkrama sekian lama atas kebahagiaan hadirnya anggota keluarga yang baru, kami memutuskan untuk berpamitan. Sebagian bersedih karena harus berpisah, aku justru sangat lega dan bahagia.
Seketika Rumi memelukku dan berbisik sebelum pulang.
“Kamu yang kuat ya, supaya lahirannya lancar dan semoga kalian berdua sehat.”
Doa Rumi untukku hari itu.
Entah itu menyudutkan, mendoakan, atau bersindir keras atas segala yang telah dilalui oleh kami. Tapi, lembaran demi lembaran baru dalam kehidupan kami tak pantas dicoreng begitu saja. Hidup terus berjalan, dan aku harus menyadari bahwa sesuatu tidak akan berjalan ditempat.
Aku belajar rela dan ikhlas. Akhirnya, setelah dua tahun berlalu, anakku dan anak Rumi berteman dekat dan akrab mereka tumbuh sehat dan tampan. Saat saling berkunjung, mereka selalu antusias dan terlihat bahagia. Padahal, ketika bersama-sama aku mengasuh anak dihalaman rumah bersama Rumi, hati kecilku selalu bergejolak.
Ada perasaan yang tidak mungkin orang lain tahu termasuk Mas Ramli. Sering aku tertawa kecil atas kejadian konyol yang menimpaku ini. Keluarga besar suamiku tak pernah menjelaskan apapun ikhwal batalnya pernikahan Mas Ramli dan Rumi, tapi mau bagaimana lagi.
Takdir untukku mungkin seperti ini, aku bersyukur sejauh ini tak pernah berkekurangan apapun dari Mas Ramli. Aku tak pernah memintanya menjelasakan masa lalu mengenai bab ini, karena aku merasa hal itu sensitif dan jika aku lebih tahu, bisa jadi itu semakin membuatku merasa sakit. Aku hanya merasa bahwa kita semua harus berdamai dengan masa lalu, seburuk apapun itu.
Akhirnya setelah dua tahun berlalu, Rumi bersama suaminya memutuskan untuk merantau ke kota. Sedangkan aku tinggal di desa melanjutkan rajutan mimpi dan berkeluarga dengan hangat bersama Mas Ramli. Kita bisa berdiri dengan kebahagiaan yang kita ciptakan sendiri, aku terus meminta maaf pada diri sendiri sebab aku yang belum bisa benar-benar berdamai dengan diriku sendiri.
Aku bak bumi di pagi hari, bersama bulan dan mentari diatapnya. Sekali lagi, aku adalah bumi. Sedangkan bulan adalah objek di waktu lalu yang masih ikut menghiasi kehangatan pagi.
Padahal pagi yang cerah dan indah ini, sengaja kubuat susah payah dengan sang mentari. Bulan memang indah, tapi aku bisa lebih menghargainya ketika ia bersinar ditempat dan waktu yang lebih tepat.
