Menarik sekali melihat bagaimana filosofi Jawa tersebut begitu terstruktur. Dalam budaya Sunda, konsep yang setara dan memiliki kedalaman makna serupa dikenal dengan istilah “Mulih ka Jati, Mulang ka Asal.”
Meskipun secara bahasa berbeda, esensi spiritualnya sangat beririsan dengan Sangkan Paraning Dumadi. Berikut adalah bedah konsep tersebut dalam kacamata budaya Sunda:
1. Makna “Mulih ka Jati, Mulang ka Asal”
Secara harfiah, ungkapan ini berarti “Kembali ke Sejati, Pulang ke Asal.”
- Mulih ka Jati: Jati berarti sejati atau hakikat. Ini merujuk pada kesadaran bahwa manusia berasal dari zat yang suci (Tuhan).
- Mulang ka Asal: Menegaskan bahwa dunia ini hanyalah tempat mampir (ngumbara), dan tujuan akhir adalah kembali ke titik mula keberadaan.
Konsep ini mengajarkan bahwa hidup adalah sebuah lingkaran, bukan garis lurus yang berakhir di kehampaan.
2. Panca Niti: Tahapan Menuju Kesejatian
Jika di Jawa ada urutan Tembang Macapat, di Sunda ada konsep Panca Niti (Lima Tahapan Intelektual dan Spiritual) untuk mencapai kesempurnaan hidup:
- Niti Harti: Mengetahui dan memahami arti kehidupan secara tekstual/logika.
- Niti Surti: Menghayati dan memiliki empati terhadap lingkungan.
- Niti Bukti: Membuktikan pemahaman melalui karya nyata dan perilaku yang baik.
- Niti Bakti: Mengabdikan diri kepada sesama, alam, dan Sang Pencipta.
- Niti Jati: Mencapai puncak kesadaran akan hakikat diri dan Tuhan.
3. Hubungan Tritangtu (Tiga Ketentuan)
Dalam filosofi Sunda, perjalanan “Sangkan Paran” ini dijalankan melalui keseimbangan hubungan yang disebut Tri Tangtu di Bumi:
- Hubungan dengan Tuhan: Menyadari asal-usul ruhani.
- Hubungan dengan Sesama Manusia: Menjalankan etika Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh.
- Hubungan dengan Alam: Menjaga keseimbangan ekosistem (Gunung, Leuweung/Hutan, Cai/Air).
4. Perbandingan Cepat
| Aspek | Sangkan Paraning Dumadi (Jawa) | Mulih ka Jati, Mulang ka Asal (Sunda) |
| Metafora | Peziarah spiritual. | Ngumbara (Merantau/Berkelana). |
| Simbol Budaya | Sumbu Filosofi (Yogyakarta). | Kabuyutan (Tempat suci/Asal-usul leluhur). |
| Prinsip Aksi | Memayu Hayuning Bawana. | Mulasara Bumi (Memelihara Dunia). |
| Inti Ajaran | Kemanunggalan dengan Tuhan. | Kesucian hati dan kembalinya jati diri. |
Kesimpulan:
Budaya Sunda memandang bahwa untuk bisa “Pulang ke Asal” dengan selamat, manusia harus menjaga “Kajatian” (kejujuran/kesejatian) selama hidup di dunia. Hidup diibaratkan hanya ngumbara (merantau), sehingga harta dan tahta dianggap sebagai titipan yang tidak akan dibawa “pulang”.
