Desember Sudah Datang!

Desember sudah datang

“Desember sudah datang! Desember sudah datang!”

Teriaknya dengan suara lantang di bawah derasnya hujan. Bajunya yang sudah lusuh basah kuyup. Meskipun begitu, tidak tampak sedikitpun gigil di tubuhnya yang sudah renta. Ia malah terlihat begitu riang menikmati guyuran air yang begitu derasnya.

Aku yang tidak sengaja menyimak bapak tua itu bolak-balik di jalan raya bertempur dengan hujan, menjadi penasaran.

Hujan sudah nyaris dua jam sejak pukul lima tadi. Suara teriakan bapak tua sudah terdengar berkali-kali. Apa sebenarnya yang dilakukannya?

Read More

Aku mengintip dari balik kaca jendela kamar yang buram karena terkena tampias.

Jendela kamarku menghadap ke bagian sisi jalan. Di sinilah tempatku menikmati buku dan kopi atau teh tawar hangat hampir setiap pagi. Sesekali ditemani buku, jika memang sedang suntuk.

Mengamati orang berlalu lalang di jalan, menjadi “wisata” tersendiri kalau memang sedang gabut.

Meskipun sedikit terhalang oleh pagar dan pepohonan, dari balik kaca jendela itu aku bisa melihat aksi bapak tua dengan jelas, seperti yang biasa kulakukan saat mengintip seseorang yang mungkin datang bertemu ke rumah.

Deg! Dadaku terhenyak ketika melihat wajah bapak tua itu dengan jelas.

“Ya Allah, itu kan…” aku bergumam ketika aku menyadari bahwa aku jelas-jelas mengenalinya.

Bapak tua adalah penjual kupat tahu di perempatan jalan yang berjarak sekitar satu km dari tempat tinggalku. Tempo hari kami sempat berbincang, ketika membeli dua bungkus untuk sarapan karena malas masak.

Aku yakin, bapak tua ini orang yang masih sehat dan tentu saja waras.

“Makan di sini atau dibungkus, Neng?” tanyanya dengan ramah.

Tangannya yang sedikit keriput begitu cekatan melayani pembeli lain yang sedang antre. Meskipun banyak pembeli, ia menyempatkan menyapa pelanggan yang baru datang dengan ramahnya.

“Dibungkus, Pak, dua ya!” jawabku dibalas senyum dan anggukan oleh pak tua.

“Duduk dulu, Neng!”

Pak tua menyodorkan sebuah kursi plastik berwarna hijau. Aku berterima kasih dan duduk, mengamati tangan pak tua yang terampil mengupas ketupat dan memotong-motongnya ke piring pelanggan. Di meja yang sama denganku 4 orang pelanggan duduk menunggu sarapannya siap. Nampaknya bapak-bapak ini baru selesai olahraga.

Tiga piring kupat tahu tersaji. Satu orang lagi hanya bisa bengong menunggu makanannya terhidang.

“Ujang, dan Eneng, maaf, tahunya habis, bapak minta izin ambil dulu ke rumah ya. Deket kok! Biasanya istri bapak yang antar, tapi sekarang dia lagi sakit!” ucapnya seraya bergegas.

“Silakan, Pak!” ujar pelanggan bertopi biru yang duduk tepat di hadapanku.

Aku hanya mengangguk. Turut menunggu. Melihat semangat pak tua aku jadi ikut berempati, kasian juga kalau tiba-tiba tidak jadi beli.

“Kita benar-benar harus sering menyempatkan makan di sini ya!”

Tiba-tiba lelaki berbadan tambun yang sudah mulai menyantap sarapannya bersuara.

“Iya, kasihan bapaknya,” jawab lelaki bertopi biru yang masih harus menunggu sarapannya terhidang.

“Dia hidup sebatang kara. Istrinya itu padahal sudah meninggal dua bulan lalu. Istrinya sakit keras, tetapi ia tidak siap dengan keadaannya yang sekarang sendirian. Ia bahkan berulang kali mengatakan pada siapapun bahwa di rumahnya masih ada istrinya yang sedang menggoreng tahu atau menyiapkan kerupuk dan air teh panas! Tuh, rumahnya di belakang sana!” ungkap lelaki itu. Ia menunjuk sebuah arah dengan dagunya yang terlihat berlapis dua karena berbadan gemuk. Seketika ia sudah kembali sibuk mengunyah dengan lahapnya.

“Sudah begitu, kabarnya para tetangga malah menyalahkan dia bahwa kematian istrinya adalah kelalaian dia. Padahal ya…, dia kerja keras begini pun karena mungkin untuk menghidupi istri dan membiayai pengobatannya. Ah, aneh sekali sama mulut manusia-manusia itu,” lelaki tambun kembali menjelaskan.

Dahiku mengernyit, menyimak kisah bapak penjual kupat tahu yang miris. Dalam hatiku telah bertekad, kalau misal kebetulan tidak masak lagi untuk sarapan, insyaallah akan beli lagi di tempat bapak ini. Kupat tahunya memang enak.

Sejenak termenung, mencoba membayangkan bagaimana rasanya hidup menjadi bapak tua jika memang apa yang diceritakan oleh lelaki yang sedang makan itu benar adanya.

“Pak, kalau boleh tahu, anak-anaknya di mana ya?” tanyaku kepada lelaki tambun.

“Anak bapak sudah pada pergi, Neng… Mereka tidak terima bapaknya yang hanya penjual kupat ini. Mungkin mereka malu atau mungkin kesal karena tidak pandai mengurus ibunya.”

Tanpa kusadari bapak tua sudah datang membawa sebuah wadah berisi tahu. Pipiku terasa memanas, merasa malu dan canggung.

“Maaf, Pak…” pintaku tulus.

“Tidak apa-apa, Neng….,” jawab bapak tua tetap tersenyum. Seolah tiada beban di hatinya.

Dengan cekatan ia menyiapkan tiga porsi sekalian. Untukku dan untuk lelaki yang telah menunggu sejak tadi.

Hapunten nya… Bapaknya lama,” ucapnya.

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab kami nyaris berbarengan.

“Tahunya kenapa tidak digoreng di sini saja, Pak?” tanya lelaki yang sejak tadi diam.

“Ah, biasanya juga digorengin di rumah sebagian. Biarlah… Bapak tidak keberatan bolak-balik ke rumah,” jawabnya dengan senyuman.

“Kan nanti bapak cape.”

Tanpa sengaja kalimat itu terlontar dari bibirku.

“Tidak apa-apa, Neng. Sebentar lagi bapak tidak akan jualan lagi kok. Bulan Desember bapak akan pergi,” jawabnya. Lalu, “bisi ada yang nyari bapak, Desember bapak tidak akan jualan lagi ya. Libur dulu!” jawabnya dengan riang gembira.

“Mau kemana, Pak?” tanya lelaki bertopi biru yang terakhir dapat porsi sarapan.

“Doakan ya… Bapak pan jualan teh sambil nabung. Bapak mau umroh sama istri. Di sana bapak mau berdoa. Doa’nya mah hanya satu saja. Tapi mau diulang-ulang depan Ka’bah,” katanya.

“Ini punya Eneng. Hapunten lama nya!”

Bapak tua memberikan bungkusan kupat tahu milikku. Aku memberikan uang lima puluh ribu.

“Doanya apa, Pak? Serentak kami bertanya, disusul dengan gelak tawa karena menyadari kami begitu kompak.

Sambil memberikan kembalian, bapak tua menjawab, “ingin kumpul lagi di Surga. Bapak sama istri ingin terus bersama di sana. He he he. Itu saja!”

Satu dua detik kami terdiam. Terpana dengan cita-cita bapak tua. Lalu mengamini dengan semangat, “aamiin…, semoga ya, Pak!”

“Inget ya … Desember Bapak moal jualan.”

Aku mengangguk pelan. Empat pria yang sedang makan saling beradu pandang, lantas menatap iba bapak tua.

“Saya duluan, Bapak-bapak.”

Aku berpamitan. Sejenak kemudian keempat orang tersebut melanjutkan santap sarapannya.

Hujan mulai mereda. Suara bapak tua sudah tidak terdengar lagi. Aku bergegas mengenakan kerudung. Dengan menggunakan payung, aku berjalan menyusuri jalan sesuai arah jalan bapak tua terakhir kulihat tadi. Mataku menyisir setiap sudut jalan. Tetap tidak kutemukan jejak bapak tua sedikitpun.

Pak, semoga engkau selalu mendapatkan lindungan Allah SWT. Hidup sebatang kara itu tidak mudah. Menerima kenyataan bahwa kita hidup dalam kesendirian pun sangat tidak mudah. Apalagi masih harus menerima cibiran dan dijadikan orang yang dipersalahkan atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Mental kita benar-benar diuji habis-habisan.

Aku tahu, bapak sudah melakukan hal terbaik yang memang sesuai dengan kehidupan bapak. Keputusan terbaik yang bapak sanggupi. Dimanapun bapak berada, baik-baik ya, Pak….

Hatiku menangis pilu. Kalau saja ini terjadi padaku, aku mungkin tidak akan sekuat bapak. Mungkin aku sudah gila.

“Gila?”

Ah, aku menggelengkan kepala berkali-kali. Jangan sampai bapak tua itu…

Tidak terasa air mataku berlinang. Semoga suatu saat bisa kembali bertemu dengan bapak tua penjual kupat tahu. Aku kembali ke rumah menembus gerimis yang kian menipis.

Sampai di rumah, kakiku terasa lemas, membayangkan apa yang terjadi dengan bapak tua, membuatku begitu lelah. Sejenak selonjoran sambil istirahat.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi ketika aku meliriknya di dinding rumah. Matahari sudah mulai muncul meskipun masih malu-malu di balik awan. Hujan sudah berhenti sejak tadi. Aku terperangah.

“Ini masih pagi, adakah bapak penjual kupat tahu mengingkari janjinya untuk tidak berjualan di bulan Desember?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku bergegas mengambil kunci motor lalu memacu bebek merahku ke perempatan jalan.

Kosong, tenda pak tua pun tidak terpasang seperti biasanya.

Bapak tua benar-benar menepati janji. Bulan Desember sudah datang. Dia tidak akan berjualan lagi.

Semoga bapak benar-benar umroh bulan ini ya, Pak. Meskipun tanpa istri bapak.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *