“Saya pengen nulis, tapi takut hasilnya jelek.”
“Ide udah ada, tapi bingung mulai dari mana.”
“Ah, saya mah gak berbakat menulis.”
Pernah merasa begitu? Tenang, kamu tidak sendiri. Hampir semua orang yang sekarang karyanya kita baca dan kagumi juga sepertinya pernah merasakan keraguan yang sama.
Sebelum belajar menulis, Saya mengenal dunia literasi sejak SD. Literasi membaca. Waktu itu, majalah Bobo adalah teman setia. Rasanya luar biasa bisa tenggelam dalam cerita-cerita ringan yang menghibur. Lalu, saya mulai menjelajahi taman bacaan, menyewa buku dari Taman Bacaan dekat rumah, Komik Lucky Luke, Tintin, dan yang lainnya sudah saya baca sejak usia belia. Saya menyewa komik dengan uang jajan yang dikumpulkan.
Momen istimewa yang paling menyala sebelum lulus SD adalah membaca Oliver Twist karya Charles Dickens dan Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, walaupun kala itu belum bisa memahami seluruh isi bukunya karena keterbatasan usia. Bayangkan, membaca kisah Oliver Twist yang kelam di usia sepuluh atau sebelas tahun? Rasanya campur aduk. Membaca Dunia Sophie yang isinya tentang filsafat tentu bikin kepala pusing. Tapi justru dari sanalah saya tahu bahwa buku bisa membawa kita ke dunia mana pun. Buku itu bertahun-tahun kemudian saya baca ulang, bahkan saya koleksi dan menjadi penghuni tetap rak buku yang ada di rumah.
Memasuki SMP, kegemaran membaca kian menjadi. Apalagi didukung oleh perpustakaan Kakak sulung saya yang penuh oleh bacaan-bacaan bermutu. 10 jilid novel Taiko karya Eiji Yoshikawa (waktu itu novel ini masih dijual berjilid) berhasil ditamatkan ketika kelas 1 SMP. Buku setebal itu? Ditamatkan? Iya, karena asyiknya luar biasa! Lalu berlanjut ke buku-buku yang lain. Hanya ketika SMA saja kegiatan membaca agak menurun karena ketertarikan saya lebih merambah ke dunia musik.
Kegemaran membaca ini ternyata membawa berkah sendiri. Di bangku kuliah, saya dihadapkan pada situasi yang mengharuskan tidak hanya membaca, tapi juga menulis dan menelaah karya. Dari sanalah saya mulai mencoba menulis puisi dan cerpen. Juga meneliti serta menelaah karya-karya sastra yang selama ini hanya saya nikmati sebagai pembaca biasa.
Coba ingat-ingat, setiap hari kita pasti ngobrol dengan teman, keluarga, atau rekan kerja. Kita bisa menyampaikan ide, curhatan, atau bahkan gosip terbaru dengan lancar. Nah, menulis sebenarnya sama seperti ngobrol. Bedanya, obrolan kita tulis di atas kertas atau ketik di layar komputer.
Tahu gak? Menulis itu sama seperti belajar naik sepeda. Pasti oleng, pasti jatuh, pasti jungkir balik. Tapi kalau gak pernah mencoba mengayuh, kapan bisanya? Yang penting niat dan konsisten. Nggak usah muluk-muluk target nulis satu buku dalam seminggu. Cukup sisihkan waktu 15-30 menit setiap hari untuk menulis.
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, pernah berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Nah, kalau kita punya pikiran dan perasaan, kenapa harus disimpan sendiri? Dengan menulis, kita memberi kesempatan pada diri untuk dikenang.
Percaya atau tidak, modal utama menulis bukanlah bakat, melainkan niat. Bakat itu sepertinya cuma bonus. Yang bikin kita benar-benar menulis adalah kemauan untuk memulai. Bagi saya menulis itu berjalin berkelindan dengan kemampuan literasi kita dalam membaca. Semakin banyak membaca buku, maka akan semakin luas wawasan yang bisa kita tuliskan kembali menjadi bentuk cerita baru. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Julia Kristeva, dalam teori intertekstualitasnya, yang menekankan bahwa sebuah teks selalu berhubungan dan berinteraksi dengan teks-teks lain, dalam artian lain bahwa tidak ada tulisan yang benar-benar otentik, semuanya adalah mozaik kutipan-kutipan dari apa yang telah kita baca, kita amati, dan kita ramu kembali menjadi suatu hal yang “baru”.
Seperti yang saya alami sendiri, kebiasaan membaca sejak dini menjadi bekal berharga ketika mulai menulis. Kosakata terkumpul tanpa sadar. Rasanya seperti punya “gudang bahan baku” yang siap diolah kapan pun. Dari kebiasaan membaca itu maka timbullah sebuah kesimpulan, semakin banyak membaca semakin banyak ide-ide yang muncul untuk dituliskan. Apalagi di zaman sekarang ini, sumber inspirasi tidak hanya didapatkan dari buku atau cerita yang kita baca dari buku saja, tapi dari “Mbah” Google pun kita dapat mencari inspirasi, memilih, dan memilah untuk dibuat tulisan baru.
Jadi, mulai saja dulu, gak perlu muluk-muluk. Mau nulis apa hari ini? Curhatan di diary? Nulis Review film yang baru ditonton? Cerita fiktif yang tiba-tiba muncul di kepala? atau nulisin utang-utang yang belum lunas? Haha. Tulis saja apa yang lewat di pikiran kita. Jangan dulu berpikir bahwa tulisan saya nanti gak bagus atau tulisan ada yang baca atau nggak ya? Just do it. Tulis dulu sampai selesai. Setelah selesai baca ulang, poles sana-sini, jadi deh.
Bahkan penulis sehebat Hemingway pun mengakui bahwa draf pertama itu pasti berantakan.
Yang penting tulis dulu, urusan bagus atau tidak itu urusan nanti. Revisi bisa dilakukan kapan saja. Tapi kalau tidak pernah mulai, mana bisa revisi?
Menulis itu mudah asal kita punya niat. Seperti perjalanan literasi saya yang dimulai dari majalah Bobo, hingga kini bisa menulis, semua butuh proses. Dan proses itu dimulai dari satu langkah kecil: memutuskan untuk memulai.
Jadi, tunggu apa lagi? Ambil ponselmu, buka laptopmu, atau cari buku catatan. Tulis apa pun yang ada di kepala.
About the Author: Dimas Saputera
Dimas Saputera pernah bekerja sebagai “guru” bahasa Indonesia pada salah satu lembaga bimbingan belajar di Bandung, dan selepas itu menghabiskan waktunya sebagai seorang editor pada beberapa penerbit buku, bahkan pernah juga bekerja pada divisi marketing pada sebuah penerbitan yang berkantor pusat di Jawa Timur. Penulis lebih senang disebut sebagai seorang editor daripada seorang penulis, karena baginya sampai sekarang ia masih belajar menulis. Sekarang berkantor di kediamannya sendiri, menerima naskah-naskah buku untuk diedit, dilayout, bahkan dibuatkan covernya untuk dipersiapkan penerbitannya pada beberapa rekanan penerbitan yang bekerjasama.
