Ilustrasi: Peter Herrmann/Unsplash
Bandung dan hawa dinginnya yang menusuk tulang selalu punya cara tersendiri untuk menyembunyikan rahasia. Niat hati, keputusan memilih kamar kos berakses bebas 24 jam ini adalah bentuk kemerdekaan. Bebas pulang larut tanpa perlu sungkan pada pemilik rumah. Namun, kota ini tidak pernah benar-benar membiarkanmu sendirian. Alih-alih kebebasan, awal tahun 2024 kemarin justru menghadiahi saya sebuah presensi lain. Presensi yang hanya terjaga saat seluruh dunia terlelap.
Bangunan kos itu adalah sisa-sisa arsitektur lawas yang dipaksa bertahan di era modern. Dua lantai, kokoh, namun menyimpan aroma lembap yang pekat. Kamar saya berada di lantai atas, terletak di sudut paling ujung, bersisian langsung dengan area jemuran terbuka dan menara toren air yang menjulang layaknya siluet raksasa di kegelapan malam.
Pada minggu pertama, semua terasa begitu sempurna. Kamarnya luas, sirkulasi udaranya sejuk, dan harganya terlampau murah untuk fasilitas kamar mandi dalam dan koneksi internet yang cepat. Tetangga kos pun tipe pekerja urban yang ramah namun tahu batasan. Hingga akhirnya, kalender berpindah ke minggu kedua.
Sebagai seorang light sleeper—tipe manusia yang tidurnya terusik bahkan hanya oleh kepakan sayap nyamuk—malam itu menjadi awal dari runtuhnya ketenangan saya.
Jarum jam dinding tepat menunjuk angka 02.15 pagi ketika kesadaran saya mendadak tersentak. Di luar, sunyi begitu absolut, membuat suara sekecil apa pun bergaung berkali-kali lipat lebih nyaring. Dari balik dinding tipis yang membatasi kamar saya dengan area cuci, terdengar deru air yang memancar deras.
Sruuushhh… Byur… Byur…
Disusul kemudian oleh bunyi gesekan kain yang ritmis. Kucek… kucek… kucek…
Saya menarik selimut hingga sebatas dada, berdecak dalam hati. “Gila, rajin betul tetangga sebelah nyuci pakaian jam segini,” pikir saya waktu itu, mengira kepulan asap kafein atau tenggat kerjaan yang membuat malam mereka terbalik.
Keesokan paginya, saat koridor kos mulai diterpa cahaya matahari yang temaram, saya berpapasan dengan penghuni kamar sebelah—seorang karyawari bank bernama Mbak Rara.
“Mbak, rajin banget semalem. Nyuci baju subuh-subuh bunyinya kedengeran sampai kamar,” tegur saya setengah berseloroh sambil mengunci pintu.
Langkah Mbak Rara terhenti. Wajahnya yang semula segar sehabis mandi mendadak berubah bingung, berganti semburat pucat yang tipis. “Hah? Ngaco kamu, Dek.
Semalem Mbak nginep di rumah cowok Mbak di Buah Batu. Ini baru balik subuh tadi karena mau ganti baju kerja.”
Kata-kata Mbak Rara seperti air es yang disiramkan langsung ke tengkuk saya. Otak saya mendadak tumpul, mencoba memproses logika yang buyar. Jika bukan Mbak Rara, lalu siapa? Penghuni lantai dua hanya ada kami berdua, ditambah satu kamar kosong di dekat tangga yang pintunya selalu digembok dari luar.
Malam berikutnya, teror itu kembali dengan presisi yang mengerikan. Jam dua pagi lewat sedikit. Kali ini, keheningan malam tidak hanya dipecahkan oleh gemercik air dan suara kucekan kain. Ada melodi yang menyusup di antaranya. Sebuah senandung lirih, halus, dan mendayu-dayu.
“Hmmm… hmmm… hmmm…”
Napas senandung itu terdengar begitu dingin, bergetar di sela-sela gemercik air seolah sang pelaku sedang teramat menikmati aktivitasnya di bawah langit malam yang pekat. Rasa penasaran yang berpadu dengan desakan kandung kemih yang penuh membuat saya kehilangan akal sehat. Mengabaikan alarm bahaya di kepala, saya menyeret kaki ke arah pintu, memutar kunci perlahan, dan membukanya beberapa sentimeter saja.
Saya mengintip menembus celah sempit, langsung ke arah area cuci yang remang-remang hanya bermandikan cahaya bulan. Jantung saya serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Di sana, di atas dingklik kayu kecil, duduk seorang wanita. Rambutnya hitam legam, panjang terurai kasar hingga menyentuh lantai yang basah. Ia mengenakan daster putih tipis yang sudah basah kuyup hingga mencetak lekuk punggungnya yang aneh kurus. Posisi tubuhnya membelakangi saya, merunduk kaku menghadap keran air yang mengalir deras tanpa henti. Tangannya bergerak ritmis, mengucek sehelai kain putih di dalam ember.
Suasana begitu magis sekaligus mencekam. Logika saya lumpuh total oleh rasa kantuk dan ketakutan yang berbaur menjadi satu. Tanpa sadar, sebuah kalimat bodoh lolos begitu saja dari belahan bibir saya.
“Mbak? Kok gelap-gelapan?”
Senandung itu mendadak putus. Gerakan tangan yang mengucek pakaian langsung berhenti seketika. Sunyi kembali merebak, menyisakan suara gemercik air yang kini terdengar seperti detak jam kematian.
Wanita itu tidak berbalik dengan perlahan layaknya manusia normal. Kepalanya patah ke belakang dengan sudut yang tidak alami, memutar lambat menciptakan bunyi gemertak tulang leher yang mengerikan. Di bawah temaram cahaya bulan, saya bisa melihat wajahnya. Kulitnya putih pucat seputih pualam, dengan mata yang seluruhnya hitam pekat tanpa selaput putih, menatap lurus menembus celah pintu kamar saya.
Bibirnya yang membiru menyunggingkan senyum lebar yang merobek pipi, dan dari sela-sela jarinya yang kurus, kain putih yang ia kucek perlahan melar, meneteskan air yang berubah warna menjadi merah pekat. Darah.
“Kurang bersih ya…?” bisiknya, suaranya terdengar seolah berbisik tepat di lubang telinga saya, meski jarak kami terpaut beberapa meter.
BRAAAK!
Saya membanting pintu kamar, menguncinya dengan tangan yang bergetar hebat hingga kuncinya hampir patah. Saya melempar tubuh ke atas kasur, meringkuk di dalam selimut sembari menutup kedua telinga rapat-rapat. Di luar, suara kucekan kain itu terdengar lagi, kini jauh lebih cepat, lebih keras, berselingan dengan suara tawa melengking yang tertahan di balik dinding kamar saya tepat di atas bantal tempat saya menyandarkan kepala.
Bagi siapa pun yang sedang mencari kos, percayalah pada satu nasihat ini: jika malam-malam telingamu menangkap suara gemercik air atau ketukan di area jemuran, pura-pura budek saja. Jangan menoleh, jangan mengintip. Karena di beberapa tempat, malam hari bukanlah milik kita yang bernapas.
