Di kampung kami, nama Jaka Kendil adalah legenda yang beraroma belerang. Ia bukan sarjana, bukan pula insinyur. Ia hanyalah pemuda tamatan SD yang sehari-harinya lebih banyak diam. Namun, jika jemarinya sudah menyentuh kertas semen dan bubuk mesiu, ia berubah menjadi “arsitek” kematian yang dipuja para pemuda.
Idulfitri tahun itu terasa berbeda. Jaka Kendil telah menyiapkan mahakarya terbesarnya: sebuah petasan raksasa berdiameter 30 cm. Orang-orang menyebutnya “Si Guntur”. Bagi para pemuda kampung, menyalakan petasan milik Jaka adalah ritual wajib untuk menandai kemenangan, sebuah ajang pamer nyali yang tak tertulis.
Selepas shalat Id, saat gema takbir masih tersisa di langit-langit masjid, bukannya pulang untuk sungkem pada orang tua, kerumunan pemuda justru berkumpul di tanah lapang samping masjid. Di tengah-tengah mereka, Si Guntur berdiri angkuh, dibalut kertas semen yang dililit tali rafia dengan sangat kuat.
“Ayo, Jaka! Bakar!” teriak massa bersorak-sorai.
Jaka Kendil tersenyum bangga. Dengan puntung rokok di tangan, ia mendekati sumbu panjang itu. Saat api mulai merambat, kerumunan mundur teratur, menutup telinga dengan antusiasme yang meluap.
Dan DUMMM!!!……….. Ledakan itu bukan lagi suara petasan; itu adalah dentuman meriam yang menggetarkan tanah hingga ke tulang rusuk. Asap putih membubung tinggi, menutupi pandangan. Suaranya menggelegar menyisir seantero kampung, bahkan kabarnya terdengar hingga tiga desa tetangga. Sorak-sorai pecah. Mereka tertawa, melompat, dan saling berpelukan seolah-olah baru saja memenangkan perang besar.
Namun, kegembiraan itu hanya berumur hitungan detik. Di tengah keriuhan, seorang lelaki paruh baya—Pak Haji Saleh yang baru saja hendak pulang ke rumahnya—tiba-tiba ambruk. Ia tidak berteriak. Ia hanya memegangi lambungnya dengan wajah pucat pasi.
Orang-orang mengerumuninya, mengira ia terkena serangan jantung karena kaget. Namun, saat kemeja koko putihnya tersingkap, ada memar biru kehitaman yang mengerikan di bagian samping perutnya. Ia meringis kesakitan sebelum akhirnya matanya terpejam, pingsan.
Rumah sakit memberikan diagnosis yang mengejutkan: Ginjalnya terluka parah. Rupanya, ledakan mahakarya Jaka Kendil begitu kuat hingga melontarkan sebuah batu sebesar kepalan tangan yang tertanam di tanah. Batu itu melesat layaknya peluru nyasar, menghantam tepat di pinggang Pak Haji yang malang.
Suasana haru Idulfitri seketika berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Polisi datang sore harinya, saat sisa-sisa kertas petasan masih berserakan di lapangan. Tak ada lagi sorak-sorai. Para pemuda yang tadi memuja Jaka Kendil kini membisu, seolah buta dan tuli.
Jaka Kendil, sang pahlawan kampung yang sesaat, digelandang masuk ke mobil patroli. Ia tidak melawan. Wajahnya hanya tertunduk, menatap sandal jepitnya yang kotor. Tahun itu, ia tidak mencicipi opor ayam ibunya atau menerima maaf dari tetangga. Jaka Kendil terpaksa merayakan kemenangannya di “hotel prodeo”, menebus sebuah keteledoran yang dibungkus dengan nama hobi.
“Kegembiraan yang dibangun di atas bahaya adalah bom waktu yang menunggu saat untuk meledak. Seringkali, kita terlalu sibuk mengejar ‘gelegar’ dunia yang sesaat, hingga lupa bahwa satu detik kecerobohan bisa menghancurkan sisa hidup orang lain—dan hidup kita sendiri. Kemenangan yang sejati tidak membutuhkan kebisingan, karena kedamaian selalu berbicara dalam kesunyian yang santun.”
(Maaf cerita ini adalah fiktif belaka, adapun kesamaan nama dan tempat adalah unsur ketidaksengajaan untuk menambahkan keseruan cerita )
