Kesehatan Mental Ibu adalah Kesehatan dan Keharmonisan Keluarga
Pagi hari sering kali dimulai oleh seorang ibu bahkan sebelum anggota keluarga lainnya membuka mata. Ia menyiapkan sarapan, membangunkan anak, memastikan perlengkapan sekolah, mengurus rumah, dan bagi sebagian ibu, semua itu masih harus dilanjutkan dengan pekerjaan di luar rumah. Hari-harinya dipenuhi berbagai tanggung jawab. Namun, di tengah kesibukannya memastikan semua orang baik-baik saja, sering kali ada satu pertanyaan yang terlupakan: bagaimana keadaan ibu sendiri?
Selama ini, kesehatan ibu lebih sering dibicarakan dari sisi fisik. Kita membicarakan kehamilan, persalinan, nutrisi, dan penyakit. Padahal kesehatan mental tidak kalah penting. Seorang ibu bisa tetap tersenyum, memasak, bekerja, dan mendampingi anak, sementara di dalam dirinya tersimpan kelelahan, kecemasan, kesepian, atau tekanan yang tidak pernah sempat ia ceritakan.
Tidak berlebihan jika ibu disebut sebagai salah satu jantung keluarga. Dalam banyak keluarga, ibu menjadi pusat pengasuhan dan kehidupan emosional rumah. Ia menjadi tempat anak bercerita, orang yang mengingat berbagai kebutuhan keluarga, sekaligus sosok yang sering berusaha menjaga suasana rumah. Tetapi jantung yang terus bekerja juga membutuhkan perawatan. Demikian pula seorang ibu.
World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 10 persen perempuan hamil dan 13 persen perempuan yang baru melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. WHO juga menjelaskan bahwa gangguan mental maternal yang tidak ditangani dapat memengaruhi kemampuan ibu berfungsi dan berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak. WHO – Perinatal Mental Health
Masalahnya, tekanan mental ibu tidak selalu berhenti setelah masa kehamilan atau persalinan. Pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai, pengasuhan anak, persoalan ekonomi, pekerjaan, konflik keluarga, dan kewajiban merawat anggota keluarga lainnya dapat menjadi beban yang terus menumpuk. Ada pula mental load, yaitu beban pikiran untuk terus mengingat dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga.
Seorang ibu mungkin sedang duduk, tetapi pikirannya tetap bekerja. Ia mungkin tersenyum, tetapi sebenarnya sedang menahan lelah. Karena kelelahan mental tidak selalu terlihat, keluarga sering baru menyadarinya ketika ibu sudah berada pada titik tidak mampu lagi menanggung semuanya.
Penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental ibu memang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Sebuah systematic review tahun 2025 menemukan hubungan antara depresi maternal dengan gangguan dalam fungsi pengasuhan. Sementara itu, meta-analisis terhadap 47 uji klinis dengan 7.745 peserta menemukan bahwa penanganan depresi ibu dapat memberikan dampak positif terhadap fungsi pengasuhan, interaksi ibu-anak, hubungan pasangan, dan kesehatan mental anak. Penelitian tentang depresi maternal dan pengasuhan Meta-analisis intervensi depresi maternal
Temuan tersebut memberikan pesan penting: menjaga kesehatan mental ibu berarti ikut menjaga kesehatan keluarga.
Namun, kalimat ini jangan dimaknai bahwa ibu menjadi satu-satunya penanggung jawab keharmonisan keluarga. Justru sebaliknya. Ibu membutuhkan keluarga sebagaimana keluarga membutuhkan ibu.
Dalam Islam, memperlakukan pasangan dengan baik merupakan bagian penting dari kehidupan rumah tangga. Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).
Maka menjaga kesehatan mental ibu bukan hanya tugas ibu. Suami perlu berbagi pekerjaan rumah dan pengasuhan. Anak-anak dapat belajar membantu sesuai kemampuan. Keluarga perlu menyediakan ruang bagi ibu untuk beristirahat, berbicara, dan melakukan hal-hal yang membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri. Jika seorang ibu membutuhkan bantuan profesional, ia seharusnya mendapatkan dukungan, bukan stigma.
Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa ibu yang menangis adalah ibu yang lemah. Ibu yang meminta bantuan bukan berarti gagal. Ibu yang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri bukan berarti egois. Ia hanyalah manusia yang memiliki batas kemampuan.
Rumah yang harmonis bukan rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah yang sehat adalah rumah yang setiap anggotanya merasa aman untuk berbicara, dihargai ketika lelah, dan tidak malu meminta pertolongan. Dalam rumah seperti itu, anak belajar bahwa emosi dapat dikelola, kesalahan dapat diperbaiki, dan meminta bantuan bukanlah sesuatu yang memalukan.
Karena itu, jika kita mengatakan bahwa ibu adalah jantung keluarga, jangan jadikan kalimat tersebut sebagai tuntutan agar ibu terus berdetak demi semua orang. Jadikan ia sebagai pengingat bahwa jantung keluarga juga harus dijaga.
Mungkin menjaga ibu tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari seorang suami yang berkata, “Istirahatlah, biar aku yang mengurus anak-anak.” Bisa dimulai dari seorang anak yang berkata, “Ibu, biar aku bantu.” Atau dari keluarga yang mau mendengarkan tanpa menghakimi ketika ibu berkata, “Aku sedang lelah.”
Sebab kesehatan keluarga tidak hanya dibangun dari makanan bergizi dan tubuh yang sehat. Kesehatan keluarga juga dibangun dari pikiran yang terjaga, hubungan yang hangat, dan hati yang merasa dihargai.
Jika ibu adalah jantung keluarga, maka jangan hanya meminta jantung itu terus berdetak. Mari kita menjaganya.
