Foto: Samiul Alam/Unsplash
Benci Bercampur Rindu
Oleh, Diantika IE
Seperti aku,
pasti kau pun tak pernah benar-benar lupa—
kita pernah ada
dalam cerita yang sama.
Merajut mimpi
dengan jemari yang saling menggenggam,
menyusun angan yang seolah tak berkesudahan,
menyalakan asa yang begitu membara.
“Ingin selalu bersama, dalam suka maupun duka,”
katamu kala itu.
Namun nyatanya,
duka lebih sering menyapa.
Dan bodohnya aku,
diperdaya cinta yang terlalu percaya.
Dengan keras kepala dan sisa upaya,
aku terus berusaha
mengukir bahagia
dari senyum yang katamu selalu manis.
Asal kita masih bersama,
kataku pada diri sendiri,
aku tak mengapa
menelan getir yang diam-diam
kudustakan di dada.
Bersamamu,
kebahagiaan selalu terasa serba salah.
Suka cita hanyalah duka
yang menunggu giliran tiba.
Manisnya begitu manis,
lalu lenyap, berganti pedih.
Aku tertawa di malam hari,
kemudian menangis
di ujung pagi.
Segala rasa bercampur,
memenuhi relung jiwa,
lalu mencabik hati
hingga aku nyaris kehilangan arah.
Memang,
indah itu tak pernah benar-benar sirna.
Namun luka pun masih ada—
menganga,
bahkan setelah sekian lama.
Lalu,
apakah kau menjelma orang jahat
di mataku
setelah kini kita tak lagi saling menyapa?
Entahlah.
Aku sendiri tak pernah benar-benar tahu.
Sebab setiap kali sakit itu datang,
rindu diam-diam menyusul di belakangnya,
meminta temu
yang tak pernah lagi menemukan jalan.
Mungkin satu-satunya kesalahanmu
yang membuat lukaku tak kunjung sembuh
adalah ketidakmampuanmu
memilih dengan bijak—
ketika seharusnya
kita menentukan arah,
kau membiarkan kebersamaan ini
terus menggantung
di antara ingin dan tak ingin,
hingga akhirnya
menjadi sesuatu yang semu.
Dan sampai hari ini,
aku masih membawa dua rasa
yang tak pernah berdamai:
benci yang tak mampu menghapusmu,
dan rindu yang tak sanggup memaafkanmu.
Bandung, 25 Mei 2025
