Malam takbiran biasanya adalah malam yang paling bising bagi dunia, namun bagi Mak Sum, itu adalah malam yang paling sunyi. Di dalam gubuk petaknya yang beraroma lembap dan sisa-sisa kardus basah, wanita tua itu duduk bersimpuh di atas selembar karung plastik yang ia fungsikan sebagai sajadah.
Di depannya, terbentang sehelai mukena yang warnanya sudah lama kehilangan jati diri. Putihnya telah berubah menjadi kuning kecokelatan, serupa warna tanah yang setiap hari ia pijak saat memulung botol plastik. Namun, bukan warnanya yang membuat dada Mak Sum sesak malam ini.
Ia meraba ujung mukena itu dengan jemari yang gemetar dan kasar. Di sana, terdapat robekan besar yang menjuntai, seolah kain itu sudah menyerah pada usia. Benang-benangnya terlepas, dan kain di bagian keningnya sudah begitu tipis hingga menyerupai jaring laba-laba.
“Ya Allah… besok sudah Lebaran,” bisiknya lirih. Suaranya pecah, tertelan suara takbir yang mulai bersahutan dari pengeras suara masjid besar di ujung jalan.
Mak Sum menatap mukena itu dengan mata yang basah. Ia membayangkan besok pagi, saat lapangan desa dipenuhi oleh lautan putih yang berkilau. Ia membayangkan ibu-ibu muda dengan mukena bordir yang kaku dan wangi parfum mahal. Sedangkan ia? Ia hanya punya sehelai kain yang berbau tanah dan peluh, yang bahkan tak lagi mampu menutupi auratnya dengan sempurna karena robek di sana-sini.
Ia sempat terpikir untuk tidak pergi shalat Ied. Ia malu. Ia merasa seperti noda hitam di atas kertas putih bersih. “Siapa yang mau berdiri di samping pemulung tua dengan mukena compang-camping?” pikirnya getir.
Mak Sum mengambil jarum karung dan sisa benang nilon yang ia temukan di tumpukan sampah kemarin. Dengan mata yang sudah rabun, ia mencoba menyatukan kembali robekan di ujung mukenanya. Tangannya gemetar, jarum itu berkali-kali menusuk ujung jarinya hingga darah kecil merembes, tapi ia tak mengeluh.
“Sabar ya, kain tua,” gumamnya seolah bicara pada mukena itu. “Hanya kamu saksi sujudku selama sepuluh tahun ini. Temani aku sekali lagi saja. Besok kita menghadap Gusti Allah untuk terakhir kalinya di Ramadan ini.”
Tiba-tiba, aroma masakan opor ayam milik tetangga sebelah menembus dinding triplek gubuknya. Perutnya perih, tapi hatinya jauh lebih perih. Di saat semua orang sibuk memikirkan menu hidangan dan warna seragam keluarga, Mak Sum hanya sibuk memikirkan cara agar lubang di mukenanya tidak terlihat saat ia melakukan ruku’ besok pagi.
Ia teringat mendiang suaminya yang membelikan mukena itu sepuluh tahun lalu dari hasil menjual rongsokan selama satu bulan penuh. Itulah harta paling mewah yang pernah ia miliki. Kini, mukena itu adalah satu-satunya jembatan antara dirinya dan kenangan masa lalu, serta antara dirinya dan Tuhannya.
Pagi harinya, saat fajar Idul Fitri menyingsing, Mak Sum berjalan perlahan menuju lapangan. Ia mengenakan mukena kuning kecokelatan itu. Ia berdiri di barisan paling belakang, di pojok bawah pohon kamboja, jauh dari kerumunan ibu-ibu yang wangi. Ia menunduk sedalam-dalamnya, mencoba menyembunyikan robekan di ujung kainnya di balik lipatan tangan.
Saat takbir Allahu Akbar berkumandang menggetarkan udara pagi, Mak Sum bersujud. Ia menangis sesenggukan. Ia merasa sangat kecil, sangat kotor, dan sangat papa.
Namun, di tengah sujudnya yang panjang, sebuah keajaiban batin merayap masuk. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Bau tanah di ujung mukenanya tiba-tiba terasa seperti aroma kasturi yang paling wangi di dunia. Ia merasa seolah-olah malaikat sedang berdiri di sampingnya, membentangkan sayap untuk menutupi robekan kainnya dari pandangan manusia.
Ia menyadari satu hal, Tuhan tidak sedang melihat merk mukenanya. Tuhan tidak peduli apakah kainnya putih bersih atau kuning tanah. Di mata langit, mukena Mak Sum yang penuh tambalan itu justru berkilau lebih terang daripada sutra mana pun, karena setiap benangnya dijahit dengan benang kesabaran dan dicuci dengan air mata ketulusan.
Mak Sum bangkit dari sujud dengan wajah yang bercahaya. Ia tidak lagi malu. Ia berjalan pulang dengan tegak, meskipun mukenanya masih berbau tanah. Karena ia tahu, di hadapan Sang Pencipta, hatinya jauh lebih baru dan lebih “glowing” daripada siapa pun yang hanya sibuk memoles rupa.
“Kekayaan sejati bukanlah tentang apa yang melekat di kulitmu saat Lebaran, melainkan tentang apa yang bersemayam di hatimu saat bersujud. Janganlah merasa rendah karena pakaian yang lusuh, sebab mukena yang berbau tanah namun dipenuhi tangis tobat, jauh lebih dicintai langit daripada mukena sutra yang dipenuhi kesombongan.”
