Pagi ini saya kembali duduk dengan buku dan majalah tua, mencoba merangkai percakapan dengan para kritikus sastra Sunda yang seolah hadir lewat tulisan mereka. Ada semacam ritual kecil: membuka halaman, mencium aroma kertas yang sudah berumur, lalu membiarkan pikiran melayang ke masa ketika kritik sastra menjadi bagian penting dari denyut kebudayaan.
Membaca ulasan Ajip Rosidi atas cerpen Tini Kartini, saya merasakan gaya kritik yang lugas, kadang keras, tapi selalu berangkat dari keyakinan bahwa sastra harus punya fungsi sosial. Ajip menempatkan karya sastra bukan sekadar hiburan, melainkan cermin masyarakat. Kritiknya sering terasa seperti teguran, mengingatkan bahwa penulis punya tanggung jawab moral. Di sisi lain, Hawe Setiawan hadir dengan gaya yang lebih reflektif dan analitis. Ia mengurai teks dengan sabar, memperlihatkan lapisan-lapisan makna, dan memberi ruang bagi pembaca untuk ikut menafsirkan. Jika Ajip adalah suara yang lantang, Hawe adalah suara yang mengajak kita duduk tenang, merenung bersama.
Kritik Teddi Muhtadin atas Buku Lain Eta menambah warna lain: lebih akademis, sistematis, tapi tetap hangat. Ia menunjukkan bahwa kritik sastra Sunda tidak berhenti pada penilaian estetika, melainkan juga membuka percakapan tentang identitas, bahasa, dan keberlanjutan tradisi. Membaca mereka bertiga, saya merasa seperti berada di forum diskusi yang hidup—setiap orang membawa sudut pandang, kadang berbeda, tapi semuanya memperkaya.
Kenapa kritik sastra Sunda penting hari ini? Karena ia menjaga agar karya tidak hanya menjadi arsip, tapi tetap berdenyut dalam percakapan budaya. Tanpa kritik, cerpen atau novel bisa saja hanya menjadi teks yang dibaca sekilas, lalu dilupakan. Kritik memberi konteks, menautkan karya dengan sejarah, dengan masyarakat, dengan persoalan yang lebih luas. Ia adalah jembatan antara penulis dan pembaca, sekaligus pengingat bahwa sastra Sunda punya posisi dalam peta kebudayaan Indonesia.
Ketika saya membuka Mangle tahun 1984 dan menemukan ulasan atas cerpen Eddy D. Iskandar berjudul “Sabot Taya Si Bibi,” saya merasa sedang menyingkap arsip yang masih relevan. Kritik itu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bukti bahwa sastra Sunda pernah diperbincangkan dengan serius. Membaca kembali ulasan-ulasan lama, saya seperti diajak untuk tidak puas hanya dengan membaca karya, tapi juga memahami bagaimana karya itu diposisikan, diperdebatkan, dan dihargai.
Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kritik sastra Sunda menjadi semacam penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa bahasa daerah bukan sekadar nostalgia, melainkan medium yang hidup, yang bisa terus dipakai untuk menyampaikan gagasan besar. Kritik menjaga agar karya berbahasa Sunda tidak tenggelam, melainkan tetap hadir sebagai bagian dari percakapan intelektual.
Catatan pagi ini akhirnya menjadi memoar kecil tentang perjalanan membaca. Dari kopi yang menemaninya, dari majalah tua yang dibuka, hingga refleksi tentang pentingnya kritik. Saya merasa, setiap kali membuka halaman lama, saya bukan hanya membaca teks, tapi juga merawat ingatan kolektif. Kritik sastra Sunda adalah cara kita menjaga agar percakapan budaya tidak berhenti, agar bahasa Sunda tetap punya ruang untuk berpikir, berdebat, dan bermimpi.
Penulis, pegiat literasi, tinggal di kota Cimahi.
