Ada yang berbeda setiap kali agenda parenting dan penjengukan santri di Ma’had Al Ikhlas Al Islamiy berlangsung. Selain bertemu anak dan mengikuti kajian parenting, para wali santri juga bisa menikmati keseruan berbelanja di Bazar Asmy.
Bazar makanan ini menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian. Beragam jajanan tersedia, mulai dari makanan ringan, minuman segar, hingga kebutuhan sehari-hari para santri. Menariknya, bazar ini bukan sekadar tempat jajan, melainkan juga wadah bagi para orang tua dan wali santri untuk mengembangkan usaha rumahan.
Bagi saya, kegiatan ini punya banyak sisi positif. Pembeli bisa menikmati jajanan dengan harga terjangkau, sementara para pedagang mendapatkan kesempatan untuk memasarkan produk mereka. Sama-sama senang, sama-sama mendapatkan manfaat.

Bazar Asmy, Wadah UMKM Wali Santri Berjualan
Bazar Asmy yang digelar di lingkungan Ma’had Al Ikhlas Al Islamiy, Cidodol Legok Ombul, Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya usaha milik orang tua dan wali santri.
Kegiatan ini difasilitasi oleh pihak ma’had dan rutin diadakan sekitar sebulan sekali, bertepatan dengan agenda parenting. Para orang tua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjajakan aneka makanan olahan dan produk kebutuhan sehari-hari.
Menurut saya, kegiatan seperti ini patut diapresiasi. Para wali santri tidak hanya datang untuk menjenguk anak atau mengikuti kegiatan di ma’had, tetapi juga bisa memperoleh kesempatan berusaha di lingkungan yang sudah memiliki calon pembeli.
Apalagi, sebagian besar produk yang dijual merupakan hasil usaha rumahan. Bazar menjadi kesempatan untuk mengenalkan produk kepada lebih banyak orang sekaligus meningkatkan penjualan.
Aneka Jajanan Halal di Bazar Asmy
Berkunjung ke Bazar Asmy rasanya seperti menemukan tempat jajan kecil dengan pilihan yang cukup beragam. Ada sushi, es lilin, kebab, citul, mi jebew, dimsum, aneka gorengan, mochi, camilan kering, aneka jajanan lainnya, hingga es kopi dan minuman segar.
Tak hanya makanan dan minuman, tersedia pula produk kebutuhan rumah tangga yang diperlukan para santri selama tinggal di ma’had.
Pilihan ini tentu memudahkan para wali santri. Sambil menikmati waktu bersama anak, mereka bisa membeli makanan untuk dinikmati bersama sekaligus memenuhi kebutuhan anak tanpa harus mencari toko di luar lingkungan ma’had.
Harga yang terjangkau juga menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak bisa menikmati jajanan favorit dengan uang jajan yang tidak harus besar.
Bagi saya, inilah salah satu hal menyenangkan dari Bazar Asmy. Pilihannya beragam, harganya bersahabat, dan ada kesempatan untuk mendukung usaha para orang tua santri lainnya.
Jajanan Bazar Asmy Laris dalam Waktu Singkat
Pada 11 Oktober 2026, Bazar Asmy kembali meramaikan agenda kunjungan dan penjengukan orang tua serta kajian parenting di Ma’had Al Ikhlas Al Islamiy.
Bazar mulai berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB hingga lewat waktu zuhur. Dalam waktu yang relatif singkat itu, berbagai jajanan laris dibeli para pengunjung, terutama para santri yang tinggal di ma’had.
Saya membayangkan betapa menyenangkannya kesempatan ini bagi mereka. Selama tinggal di lingkungan ma’had, para santri tentu memiliki rutinitas tersendiri. Kehadiran bazar menjadi kesempatan untuk menikmati aneka jajanan yang mungkin tidak setiap hari bisa mereka beli.
Bagi para pedagang, ramainya pembeli tentu menjadi kabar baik. Dagangan yang laris bukan hanya mendatangkan pemasukan, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan usaha.
Di sinilah saya melihat adanya hubungan yang saling menguntungkan antara penjual dan pembeli. Pembeli mendapatkan makanan yang diinginkan, sedangkan pedagang memperoleh penghasilan dari produk yang mereka jual.

Jajan Dimsum Rp1.000 hingga Membeli Kebutuhan Anak di Ma’had
Saya sendiri ikut merasakan keseruan berbelanja di Bazar Asmy bersama anak.
Kalau mengingat kunjungan sebelumnya, jajanan yang kami beli cukup beragam. Pernah jajan bakso bakar, sushi, dan es kopi. Pada kunjungan kali ini, kami memilih dimsum dan seblak kering. Kami juga membeli es taro dan minuman jeruk segar.
Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu harga dimsum yang hanya Rp1.000 per buah dengan saus yang beragam atau bisa juga memilih chili oil sebagai pendamping. Dengan harga seperti itu, anak-anak bisa menikmati jajanan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Setelah mengikuti kajian parenting, apalagi ketika cuaca terasa panas dan gerah, menikmati minuman dingin tentu terasa menyegarkan. Perut kenyang, dahaga terobati, dan waktu bersama anak pun terasa lebih menyenangkan.
Saya juga tidak melewatkan kesempatan untuk membeli kebutuhan rumah tangga berupa sabun mandi dan deterjen sebagai persediaan anak selama tinggal di ma’had.
Jadi, belanja di bazar ini bukan sekadar memuaskan keinginan untuk jajan. Ada kebutuhan anak yang bisa sekalian dipenuhi. Praktis, bukan?
Bazar Memudahkan Wali Santri Membawakan Oleh-Oleh
Sebagai wali santri, saya merasa keberadaan Bazar Asmy sangat membantu, terutama ketika jadwal penjengukan tiba.
Biasanya, orang tua yang datang menjenguk anak ingin membawakan sesuatu. Tidak harus barang mahal, makanan ringan pun bisa menjadi hadiah kecil yang menyenangkan bagi anak setelah menjalani rutinitas di ma’had.
Dengan adanya bazar, para wali santri tidak perlu bingung mencari jajanan dari luar. Beragam makanan sudah tersedia di lokasi, sehingga bisa langsung dipilih sesuai selera dan anggaran.
Kami pun punya pengalaman jajan yang berbeda setiap kali berkunjung. Hal sederhana seperti ini ternyata bisa menambah keseruan momen penjengukan. Kami bisa menikmati makanan bersama, berbincang dengan anak, sekaligus membeli kebutuhan yang diperlukan selama ia tinggal di ma’had.
Bazar menjadi pelengkap kegiatan parenting yang terasa manfaatnya, baik bagi santri maupun orang tua.

Jadwal Belanja Santri Laki-Laki dan Perempuan Diatur Bergiliran
Ada hal lain yang saya perhatikan dari pelaksanaan Bazar Asmy, yaitu pengaturan jadwal belanja santri laki-laki dan perempuan.
Keduanya diberikan kesempatan berbelanja secara bergiliran. Jika pada periode sebelumnya santri perempuan mendapatkan giliran lebih dahulu, pada bazar kali ini giliran santri laki-laki yang berbelanja.
Menurut saya, pengaturan seperti ini cukup baik. Selain membuat kegiatan lebih tertib, pembagian jadwal tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga batas pergaulan antara santri laki-laki dan perempuan sesuai aturan yang diterapkan pihak ma’had.
Dengan jadwal yang teratur, kegiatan bazar dapat berlangsung lebih nyaman. Para santri tetap mendapatkan kesempatan menikmati jajanan, sementara pihak penyelenggara bisa mengatur keramaian dengan lebih baik.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi penting dalam kegiatan yang melibatkan banyak santri.

Berharap Bazar Asmy Semakin Meriah dan Membantu UMKM Wali Santri
Sebagai wali santri, saya berharap Bazar Asmy bisa terus berlangsung dan berkembang menjadi kegiatan yang semakin meriah.
Akan menyenangkan jika pada kesempatan berikutnya jumlah pedagang semakin banyak, pilihan makanan semakin beragam, dan produk usaha rumahan yang ditawarkan juga semakin bervariasi.
Dengan begitu, para santri dan pengunjung memiliki lebih banyak pilihan jajanan. Di sisi lain, semakin banyak pula wali santri yang mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya.
Tentu, pengembangan bazar tetap perlu memperhatikan kebersihan makanan, keamanan produk, harga yang terjangkau, serta ketertiban selama kegiatan berlangsung. Dengan pengelolaan yang baik, bazar tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga ruang untuk membangun kebersamaan dan saling mendukung.
Bagi saya, Bazar Asmy merupakan contoh kegiatan sederhana yang membawa banyak manfaat. Santri bisa menikmati jajanan, orang tua lebih mudah membelikan makanan dan kebutuhan anak, sementara UMKM milik wali santri mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Semoga ke depannya Bazar Asmy semakin ramai, semakin banyak produk yang ditawarkan, dan semakin luas manfaatnya bagi keluarga besar Ma’had Al Ikhlas Al Islamiy.
Insyaallah, dari kegiatan sederhana seperti ini, usaha rumahan para wali santri bisa semakin maju. Sebab, mendukung usaha sesama orang tua santri tidak harus selalu dengan cara besar. Membeli dagangan mereka pun bisa menjadi bentuk dukungan nyata.
