Ilustrasi Pilihan (Gambar: Holigil 27)
Selalu ada pilihan setiap kali kita akan melakukan sesuatu. Namun kerap kali kita kelah dan terjebak pada was-was syaitan. Bisikan ajakan untuk mengambil pilihan sesat terutama dalam hal ibadah dan keyakinan.
Padahal nurani kita sering sekali mengatakan bahwa sesuatu itu tidak benar, sesuatu yang kita lakukan itu dosa, bahkan berdampak buruk pada kehidupan. Akan tetapi syaitan sang penggoda ulung, selalu mendominasi pikiran dan meneguhkan tekad. Akhirnya kita kalah, mengikuti bisikan syaitan—meski kita sering membohongi diri sendiri.
Semua Orang Pasti Pernah Mengalami.
Ketika azan berkumandang di subuh hari lalu terbangun dan membuka mata. KIta tahu benar bahwa yang seharusnya dilakukan adalah bangun, lalu langsung menyiapkan diri untuk memenuhi panggilan Allah. Namun apa yang terjadi? Hal pertama yang dilakukan malah ambil ponsel dan scroll media sosial sampai lupa waktu. Sungguh kita telah mengabaikan panggilan Allah.
Kebanyakan dari kita pasti juga pernah mengalami, mendengar azan ketika asik bekerja. Kita tahu, seharusnya segera menghentikan pekerjaan. Namun menyelesaikan pekerjaan yang katanya “tanggung sedikit lagi” malah menjadi jalan yang dipilih. Akhirnya waktu shalat hampir habis dan mepet ke waktu berikutnya.
Banyak lagi hal yang seolah menjadi pilihan seperti: memilih mencari nafkah halal atau haram, menikah atau malah tetap pacaran, transaksi yang syar’i atau mengandung riba, berbohong atau jujur, mengikuti sunnah atau malah beribadah yang tidak ada tuntunannya. Taat dan mentauhidkan Allah atau percaya pada takhayul dan banyak lagi permisalan yang seolah menjadi pilihan padahal hanya propaganda syaitan.
Dalam keduniaan, kita selalu punya pilihan untuk makan makanan sehat, tetapi senantiasa tergoda oleh makanan yang hanya enak di lidah, urusan perut belakangan. Makanan pedas, asam, gorengan, makanan junk food dan lain sebagainya.
Selalu punya pilihan untuk tetap berolahraga tetapi lebih tergoda untuk nonton, rebahan dan malas-malasan.
Kita bahkan selalu tahu bahwa memilih setia pada pasangan adalah hal yang paling benar dan dibenarkan. Akan tetapi setan kerap menang dan membawa kita pada tindakan yang salah. Jari-jemari tak tahan untuk mengetik kalimat, “hai, apa kabar kamu, sudah lama sekali kita tidak bertemu,” lantas dikirim kepada mantan, gebetan di masa lalu atau siapapun yang tidak berhak atas diri kita.
Seharusnya Kita Sadar
Seharusnya kita sadar bahwa: beragama yang benar, hidup sehat, setia pada pasangan, dan hal baik lainnya sebenarnya merupakan keharusan. Tetapi pendampingan syaitan yang selalu bersemangat untuk menyesatkan manusia begitu dahsyat membuat kita harus kuat menahan godaan. Mengokuohkan pertahanan antara berpegang teguh pada kebenaran atau malah bilang, “gak apa-apalah, dosa tipis-tipis doang.”
Nurani kita tidak pernah bisa berbohong, kita selalu tahu mana yang benar dan yang salah, tetapi godaan syaitan pun begitu besar bahkan Nabi Adam pun pernah kalah dengannya.
Namun lagi-lagi kita selalu punya pilihan antara jalan selamat atau malah memilih jalan yang salah. Kuncinya ada pada diri kita sendiri. Apakah kita sanggup melawan dan menjadi pemenang? Atau malah kalah berkali-kali sampai nurani kita perlahan mati?
Bersyukurlah ketika masih merasa bersalah setelah mengambil pilihan dosa dan kemunkaran. Sebab hati kita adalah alarm paling jitu yang menunjukkan jalan kebenaran. Kecuali tumpukan dosa telah membuat hati nurani kita mati dan tidak berfungsi.
Teruslah berusaha mengambil pilihan-pilihan yang benar. Hati nurani kita yang akan menuntuntnya. Lawan syaitannya, jangan mau terus kalah. Semoga saya dan Anda semua bisa melakukannya.
